Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Sotyati 16:18 WIB | Jumat, 31 Mei 2019

Berbuka Puasa Bersama Sinta Abdurrahman Wahid di GKJW Wates

Berbuka Puasa Bersama Sinta Abdurrahman Wahid di GKJW Wates
Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid hadir dalam acara buka puasa bersama yang digagas Gusdurian bersama kelompok lintas iman,di Mojokerto, bertempat di GKJW Wates, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (30/5). (Foto-foto: Clavaria Mundiningtyas)
Berbuka Puasa Bersama Sinta Abdurrahman Wahid di GKJW Wates
Warga di sekitar GKJW Wates Mojokerto, Jawa Timur, mendengarkan renungan singkat Sinta Nuriyah menjelang buka puasa bersama yang digelar Kamis (30/5).

MOJOKERTO, SATUHARAPAN.COM – Dra Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid MHum, menggelar acara Suluh Damai Ramadan dan Buka Bersama, bertempat di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Wates, Jalan Raya Jatikulon, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (30/5).

Di bawah payung Puan (Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Amal Hayati, mantan Ibu Negara Sinta Nuriyah dan kawan-kawan menggelar kegiatan rutin tahunan sahur keliling dan buka puasa bersama. Tahun ini, tema yang dicanangkan, seperti dapat dibaca di spanduk yang terpampang di GKJW Wates Mojokerto, adalah, “Dengan Berpuasa Kita Padamkan Kobaran Api Kebencian dan Hoaks”.

Pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga sekitar GKJW Wates pada pukul 14.00, dan hiburan rakyat barongsai, mengawali rangkaian acara hari itu. Kiroen, seniman ludruk terkenal Jawa Timur, turut memeriahkan acara. Ia menyinggung di tengah situasi dan kondisi yang diwarnai gejolak pascapemilu, ia merasakan suasana yang adem – meminjam istilahnya – menyejukkan, di sore itu, mencerminkan kesatuan dan persatuan. Bisa dimaklumi, acara itu menjadi acara bersama kelompok lintas iman, bergabung di dalam acara itu warga Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Hindu, Buddha, dan aliran kepercayaan.

Mengawali saat berbuka puasa, Sinta Nuriyah, istri Presiden keempat RI (alm) Abdurrahman Wahid itu, memberikan renungan singkat. Ia berbicara tentang perbedaan. Ia mengingatkan keragaman Indonesia, kenyataan Indonesia yang terdiri atas berbagi suku bangsa dan agama, yang seharusnya disyukuri. “Perbedaan lain, adalah nasib,” katanya, yang langsung disambut tawa hadirin, karena mengingatkan pada gaya canda alm Gus Dur, yang masih melekat dalam ingatan warga Jawa Timur.

“Ini momen buka puasa bersama Gusdurian, yang merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Tahun ini yang mendapat giliran sebagai tempat penyelenggaraan adalah GKJW Kota Mojokerto. Namun, kemudian diputuskan digelar di GKJW Wates, karena alasan akses ke jalan raya povinsi yang lebih dekat dan mudah,” Dijah Swastika, dari Pelayan Harian Majelis Jemaat (PHMJ) GKJW Kota Mojokerto menceritakan melalui media sosial.

GKJW Kota Mojokerto terletak di tengah kota, di tengah permukiman padat penduduk, sementara GKJW Wates terletak di pinggir kota, lebih mudah dijangkau dari Kota Surabaya.

Delapan ratus nasi kotak dibagikan dalam acara buka puasa bersama itu, kata Dijah Swatika.    

Tahun ini, kegiatan lintas iman itu didukung Gusdurian, Ansor, Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU), Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), Komunitas Persada, gereja-gereja seperti GKI, GKJW dan gereja lain, gereja Katolik, gereja Ortodoks, kelenteng atau wihara, Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM), Iwamor (Ikatan Waria Mojokerto), dan lain-lain.   

Parade hiburan menutup rangkaian acara, seusai salat tarawih berjamaah, di antaranya penampilan Iwamor.

Sahur Keliling

Tahun lalu, pada 6 Juni 2018, mantan Ibu Negara Sinta Nuriyah melaksanakan buka bersama di Klenteng Hong San Kiong, Kecamatan Gudo, Jombang, yang juga dihadiri ratusan warga lintas iman.

Dalam kegiatan buka puasa bersama tahun lalu, seperti dilaporkan Tribunjatim.com, dilibatkan 100 pelajar dari empat sekolah berlatar belakang berbeda, yakni dari SD Kristen Petra Jombang, MI Islamiyyah Perak Jombang, PAUD Setya Dharma Jombang, dan SDN 1 Pare-Kabupaten Kediri. Masing-masing unjuk kebolehan menampilkan atraksi kesenian.

“Kami ingin multikulturalisme dan toleransi disemai sejak dini melalui institusi pendidikan,” kata Aan Anshori, penggagas acara.

Menurutnya, dengan mengenalkan rumah ibadah dan budaya milik orang lain akan menumbuhkan sensitivitas dan meminimalkan kesalahpahaman. Sebab situasi intoleransi di Indonesia, menurutnya, semakin mengkhawatirkan.

Buka puasa itu bukanlah satu-satunya acara yang digelar Sinta Nuriyah. Di bawah payung yang sama, ia juga menggelar kegiatan sahur keliling.

Editor : Sotyati

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home