Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Tya Bilanhar 21:40 WIB | Kamis, 15 Februari 2018

Buku Untold Story IPO Telkom di NYSE & BEJ Diluncurkan

Peluncuran buku Untold Story IPO Telkom di NYSE dan BEJ (Foto: Ist)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM -  Satu lagi sejarah diungkap melalui lahirnya sebuah buku. Bertempat di Perpustakaan Nasional di kawasan Merdeka Selatan, Kamis (15/2), Setyanto P Santosa, Direktur Utama Telkom periode 1992-1996 meluncurkan buku berjudul “Untold Story IPO Telkom di NYSE & BEJ”. Acara ini dihadiri sejumlah tokoh, diantaranya Menkominfo Rudiantara, Direktur Utama PT. Telkom Tbk dan beberapa pejabat dari Kementrian BUMN dan Pimpinan BUMN lainnya..

Dalam buku tersebut diungkapkan bahwa Telkom menjadi satu-satunya BUMN yang saat ini masih dual listing di Bursa Efek Indonesia (dulu BEJ – Bursa Efek Jakarta) dan di New York Stock Exchange (NYSE).  Di Bursa Efek Indonesia (BEI), Telkom termasuk emiten dengan kapitalisasi tertinggi. Sejak Intitial Public Offering (IPO) pada 14 November 1995, hingga kini (2017), sudah 22 tahun, Telkom masih bertahan menjadi perusahaan publik. Berdasarkan laporan tahunan 2016, publik menguasai 47,91% saham Telkom.

Buku yang mendapat pengantar dari Presiden R.I. ke-3, Prof Dr. BJ Habibie dan sambutan dari Direktur Utama PT Telkom ini mengungkapkan bahwa Telkom bisa dual listing melalui proses yang cukup panjang dan berliku yang bahkan hampir batal karena kekuatan politik saat itu. Kejadian akan adanya pembatalan itu, seperti diungkap dalam buku tersebut, sempat membuat para petinggi Telkom kalang kabut, dan berupaya untuk mencegahnya.

“Jika pembatalan terjadi, bukan hanya merugikan Telkom,  tetapi juga Indonesia sebagai bangsa. Reputasi Indonesia akan hancur di pasar modal dunia,” ungkap Setyanto P Santosa, penulis buku ini. Diungkapkan Setyanto, rencana pembatalan itu terjadi pada hari-hari terakhir menjelang listing. Untuk mencegah pembatalan, Setyanto P. Santosa, melakukan “lobby  politik” dengan menghubungi Menristek BJ Habibie agar memberi penjelasan pada Presiden Soeharto agar tidak terjadi pembatalan. Karena saat itu Presiden Soeharto sangat percaya dan mengikuti saran-saran dari Prof. B.J. Habibie.

Tentang hal ini, BJ Habibie di endorsement buku menyatakan, ”Saya ikut meyakinkan Pak Harto agar IPO Telkom tetap dijalankan. Syukur, Alhamdulillah akhirnya Telkom bisa go public sesuai rencana. Semuanya tak lepas dari peran Pak Setyanto dan tim di Telkom yang berjuang mati-matian merealisasikan niatnya. Upaya itu tak sekadar menjadikan Telkom setara dengan perusahaan telekomunikasi kelas dunia, tetapi juga menghidari dari pengelolaan yang koruptif karena salah satu sifat perusahaan publik adalah disiplin, bersih, dan transparan.”

Lebih lanjut, setelah beliau menjabat sebagai Presiden, diungkapkan, ”Sebagai Presiden Republik Indonesia yang ketiga, saya pun merasakan manfaat dari  IPO Telkom pada saat memimpin Indonesia di tengah krisis ekonomi, tahun 1998 - 1999 saya telah menyetujui Telkom untuk menjual sebagian saham Pemerintah sebanyak 1,2 miliar lembar saham milik negara  untuk di-divestasikan sehingga mendatangkan  pemasukan ke kas negara  sebesar Rp4,063 triliun, dan saya minta untuk dibayarkan dalam bentuk mata uang rupiah sehingga saat itu nilai tukar dolar Amerika bisa mengangkat nilai rupiah menjadi Rp7.500.”

Kisah tentang proses IPO Telkom ini menjadi penting untuk pembelajaran bagi sejumlah pihak, baik itu pelaku bisnis di BUMN, non BUMN, pemerhati pasar modal, dunia kampus, dan pihak yang mempunyai perhatian pada dunia bisnis, politik dan manajemen strategis.

“Buku ini mengungkapkan bagaimana pembelajaran yang bisa dipetik dalam mempersiapkan IPO sebuah perusahaan raksasa sebesar Telkom yang harus dilakukan di bawah tekanan kiri kanan. Apalagi saat itu tak ada benchmark bagaimana meng-go-public-kan sebuah perusahaan. Jadi ini cerita autodidak semua pihak membawa perusahaan raksasa Indonesia, Telkom, mencatatkan sahamnya di bursa saham terbesar di dunia: Wall Street (NYSE),” tambah Setyanto.

Dalam sambutannya, Alex J. Sinaga, Dirut Telkom saat ini mengungkapkan IPO Telkom yang dilaksanakan 22 tahun lalu menjadi salah satu faktor pendorong Telkom terus tumbuh dan berkembang. IPO menjadi momentum penting yang tercatat dengan tinta emas dalam perjalanan sejarah Telkom.

Data Buku
Judul Buku               : Untold Story IPO Telkom di NYSE & BEJ
Genre                        : Ekonomi & Bisnis
Penulis                      : Setyanto P. Santosa
Kata Pengantar         ; Prof. Dr.-Ing. H. BJ habibie
Editor                         : Salim Shahab & Den Setiawan
Penerbit                    : Rayyana Komunikasindo
Cetakan                     : I– Desember 2017
Jumlah Halaman       : xxviii + 482
ISBN                           : 978-602-61112-5-8

Dikatakan Setyanto, Buku ini berbeda dengan buku yang membahas pasar modal pada umumnya. Buku ini bercerita melalui data, drama, disusun secara kronologis, dibumbui cerita-cerita lucu di tengah-tengah cerita menegangkan yang dialami tim Telkom dalam mempersiapkan IPO. Banyak di antara Tim IPO yang berhari-hari tak pulang karena beratnya pekerjaan. Begitupun tim pendukungnya seperti legal counsel yang harus menginap di hotel berbulan-bulan mengolah data hingga banyak yang sampai jadi alergi hotel karena stres mengolah data di hotel. Sampai ada yang mencium bau hotel saja sudah mual.

Banyaknya cerita lucu membuat buku ini makin enak dibaca dan perlu bagi pembelajar manajemen. Misalnya, Tim Road Show harus berkeliling dunia selama hampir sebulan. Setiap hari dicekoki makanan Western Cuisine yang membuat mereka bosan. Karena kangen makanan Indonesia, sampai terpaksa “menyelundupkan” mie instan ke pesawat. Dan siapa sangka, isu akan dibatalkannya pencatatan saham di NYSE itu bocor dari dialog di toilet yang tanpa sengaja didengar pejabat Telkom. (PR)

 

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home