Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sabar Subekti 12:30 WIB | Kamis, 23 Januari 2014

Capung Jarum Indikator Air Bersih

Capung Jarum (Agriocnemis femina). (Foto: Ist)

SATUHARAPAN.COM – Kita sering mengabaikan kehadiran campung di halaman rumah kita, di kebun atau di taman, dan hanya melihatnya sebagai binatang kecil yang ada di sekitar kita. Namun hilangnya capung-capung dari sekitar kita bisa menjadi pertanda penting kondisi lingkungan, terutam kualitas air.

Capung merupakan binatang yang unik, dalam daur hidupnya di mana fase pupa hidup di air, dan hanya pada air yang bersih. Itu sebabnya, jika capung hilang atau turun populasinya di lingkungan kita itu merupakan pertanda bahwa kualitas air di sekitar kita telah rusak, atau tercemar.

Selain itu, capung mempunyai keunikan lain. Bentuk tubuhnya merupakan inspirasi bagi para ahli dalam membuat pesawat terbang dan ditiru untuk helikopter. Binatang ini bisa terbang maju maupun mundur yang tidak dikuasai oleh berbagai binatang yang terbang.

Kepakan sayapnya yang tipis dan ringan, atau lebih pas dikatakan bergetar, bisa membuat capung diam di udara dalam keadaan stabil. Para ilmuwan banyak yang mempelajarinya dan mungkin akan diadppsi dalam teknologi pesawat terbang.

Kali ini, jenis capung yang diperkenalkan adalah capung jarum yang nama ilmiahnya Agriocnemis femina. Ukurannya kecil dan termasuk jenis yang dijumpai di Indonesia, khususnya di daerah dekat air.

Bangsa Capung

Capung memiliki keberagaman, salah satu yang dikenal di antaranya adalah capung jarum. Disebut begitu mungkin karena tubuhnya yang ramping dan ulurannya kecil. Capung jarum sendiri tergabung dalam anak bangsa Agrionidae/Coenagriidae dan mempunyai banyak jenis. Di antara jenis itu ada yang memiliki warna-warna yang menarik.

Secara umum, capung merupakan binatang yang menarik, memiliki empat sayap yang transparan, bentuk kepalanya besar, memiliki toraks yang kuat, tidak memiliki ekor, tetapi memiliki berbagai umbai ekor yang telah berkembang dengan baik. Mata capung umumnya besar dan merupakan mata majemuk, yang terdiri mata kecil (ommatidium), sehingga bisa melihat ke segala arah.

Diperkirakan ada 5.000 - 6.000 jenis capung di seluruh dunia. Sebagian besar di daerah tropis, tetapi ditemukan juga di pegunungan tinggi dan daerah kutub utara.  Di Indonesia terdapat sekitar 750 jenis.

Daur Hidup

Daur hidup capung melalui tiga tahap perubahan bentuk (metamorfosis), yaitu telur, nimfa, dan capung dewasa. Sebagian besar hidup capung dihabiskan sebagai nimfa yang sangat tergantung pada habitat perairan (sawah, sungai, danau, rawa, atau kolam). Itu sebabnya di kalangan enviromentalist, capung dianggap sebagai salah satu indikator kondisi lingkungan.

Daerah di mana banyak terdapat capung diyakini menunjukkan air di daerah tersebut masih bersih atau tingkat pencemarannya masih rendah. Sebab, capung yang menghabiskan sebagain besar hidupnya pada fase nimfa sangat membutuhkan air yang tenang dan bersih. 

Capung jarum (Agriocnemis femina) merupakan capung jarum yang paling umum dijumpai di seluruh dunia. Di Jawa binatang ini terdapat di mana-mana bahkan sampai ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut.

Umumnya capung jenis ini berkembang biak di danau, rawa-rawa yang dangkal, anak sungai dan kolam. Capung ini selain sebagai indikator pencemaran air juga  berperan penting dalam mengurangi perkebangbiakan nyamuk. Mereka (pada fase nimfa) suka memakan jentik-jentik nyamuk dan serangga lainnya yang merupakan vektor penyakit.

Sosok Capung Jarum

Ujung abdomen A. femina biasanya berwarna hijau kebiru-biruan. Yang jantan kepalanya berwarna gelap dengan mata hitam, toraksnya tertutup oleh taburan putih seperti tepung, sedangkan pada betina toraksnya berwarna kehijauan. Panjang capung ini hanya dua centimeter, cukup kecil dibanding umumnya capung. (dari berbagai sumber)

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home