Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 12:51 WIB | Senin, 24 Juni 2013

Demi Bertahan, Industri Harus Mampu Beradaptasi dengan Lingkungan

Perubahan iklim ekstrem yang berpengaruh terhadap lingkungan dan ekosistem juga harus selalu menjadi pertimbangan sektor industri dalam beroperasi. (dok. Blogspot)

NAIROBI, SATUHARAPAN.COM -  Masa depan sektor swasta sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Dalam hal ini, lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan yang senantiasa berubah dengan cepat. Adaptasi dapat berwujud pengembangan barang dan jasa yang mampu mengurangi dampak perubahan iklim, kelangkaan air, emisi bahan kimia berbahaya dan masalah lingkungan lainnya.

Menurut laporan baru yang dikeluarkan United Nations Environment Programme (UNEP) yang berjudul “ GEO-5  fo Bisnis : Dampak Lingkungan Mengubah Sektor Korporat melalui Sekretaris Jenderal dan Direktur Eksekutif  UNEP Achim Steiner, perubahan lingkungan yang cepat akan menimbulkan risiko, tetapi kebutuhan akan permintaan sebuah produk baru dan dapat menciptakan peluang pasar.

Cuaca ekstrem akan berdampak pada sumber daya alam yang semakin terbatas, perubahan lingkungan secara global yang akan berdampak pada biaya operasi perusahaan, produk untuk pasar, ketersedian bahan baku yang semakin menipis, reputasi bisnis, keuangan, pariwisata, kesehatan dan transportasi.

Dalam laporan itu dinyatakan pula bahwa perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya alam akan menciptakan pola pikir kreatif sektor swasta dalam menghadapi tantangan tersebut. “Seperti mencari solusi bagaimana cara penghematan air, pemeriksaan iklim infrastruktur, dan dunia akan mencari solusi yang pada hakikatnya dapat menciptakan daya saing perusahaan, risiko reputasi dan transisi menuju ekonomi hijau,“ujar Steiner.

GEO-5 for Bisnis mengatakan bahwa risiko secara khusus ditimbulkan dari berbagai sektor antara lain konstruksi, bahan kimia, pertambangan, makanan dan industri lainnya.

Menurut laporan tersebut meningkatkannya perubahan cuaca ekstrim sering dikaitkan dengan perubahan iklim dan dapat menimbulkan risiko untuk semua sektor. Seperti yang pernah dialami oleh Australia yang mengalami banjir besar pada tahun 2011 yang menelan kerugian sebesar 350 juta dolar AS (3,2 trilyun Rupiah) untuk re-asuransi Munich Re dan mengalami penurunan 38 persen kuartal laba perusahaan tersebut. Dalam periode yang sama, cuaca ekstrim di Australia menelan kerugian sebesar 245 juta (2,2 triliyun Rupiah) dari perusahan pertambangan Rio Tinto.

Menurut hasil penelitian UNEP, lebih dari 80 persen dari modal yang dibutuhkan untuk mengatasi perubahan iklim dapat berasal dari perusahaan swasta. Hal ini dapat dijadikan peluang investasi “ ekonomi hijau” di sektor keuangan untuk pembangunan hijau, teknologi efisiensi energi, transportasi berkelanjutan dan produk rendah karbon dan infrastruktur lainnya.

Di daerah perkotaan, pada tahun 2050 mendatang, masih perlu di bangun sekitar 60 persen infrastruktur yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan penduduk perkotaan di dunia. Hal tersebut dapat dijadikan peluang bisnis yang signifikan untuk pembangunan perkotaan yang ramah lingkungan. Setiap harinya lebih dari 15 ft2ruang bangunan sedang disertifikasi dengan standar lingkungan hijau.

Kelangkaan air merupakan tantangan penting bagi semua sektor seperti yang dikemukakan oleh GEO-5 for Bisnis. Perusahaan di bidang pariwisata, bahan kimia dan sektsors lainnya bisa menghadapi peningkatan biaya operasionalnya.

Di Afrika Selatan, tambang platinum di Sungai Olifants diperkirakan akan mengalami kelangkaan air pada tahun 2020. Persaingan dengan masyarakat lokal dan pengguna air lainnya berpotensi menyebabkan dampak negatif terhadap reputasi perusahaannya.

Editor : Wiwin Wirwidya Hendra


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home