Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Sotyati 15:31 WIB | Kamis, 07 September 2017

Desainer Hian Tjen Persembahkan “Magellani”

Desainer Hian Tjen Persembahkan “Magellani”
Perancang busana Hian Tjen mempersembahkan koleksi terbarunya, Magellani, di Jakarta, Rabu (6/9) malam. (Foto-foto: Tim Muara Bagdja)
Desainer Hian Tjen Persembahkan “Magellani”
Hian Tjen Couture 2017 – 2018 Collection yang mengusung tajuk Magellani, dipersembahkan Hian Tjen di hadapan pencinta karyanya di Ballroom Dian, Raffles Hotel – Jakarta, Rabu (6/9) malam.
Desainer Hian Tjen Persembahkan “Magellani”
Hian Tjen bersama pendukung dan sponsor peragaan busana tunggalnya.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Mengusung tema “Magellani”, perancang busana Hian Tjen memamerkan koleksi baru, 59 set busana Hian Tjen Couture 2017 – 2018 Collection di hadapan pencinta karyanya secara khusus, pencinta mode umumnya, pewarta, dan fotografer media, di Ballroom Dian, Raffles Hotel – Jakarta, Rabu (6/9) malam.

Koleksi kali ini bergaris desain lebih ringkas, lebih ringan, sekaligus lebih bergaya kekinian dibandingkan koleksi sebelumnya, Chateau Fleur, yang ia persembahkan dalam pergelaran busana tunggal perdana, pada 2015.

Bagi Hian, seperti pengakuan yang ia tuangkan dalam siaran pers, menggarap koleksi busana dengan garis ringkas menghadapkannya pada tingkat kesulitan jauh di atas saat mencipta busana yang sarat unsur dekoratif. Desainer dituntut menangkap esensi siluet yang ingin ditampilkan. Dalam koleksi baru rancangan kali ini, detail ditambahkan hanya untuk menguatkan desain. Bukan penghias.

Magellani ia hadirkan terinspirasi dari hamparan bintang yang menjadi salah satu atraksi menarik yang menancap kuat dalam ingatannya dalam perjalanan liburannya ke Maroko. Magellani, ia ambil dari nama galaksi kecil yang mengitari Bima Sakti.

Lewat mata teleskop Hian mendapati susunan bintang seolah menyerupai jalur yang menuju ke arah selatan. Para ilmuwan mengamati jalur bintang itu merupakan penuntun kawanan burung saat bermigrasi di musim dingin dari utara ke tempat yang lebih hangat di selatan.

Kekaguman Hian bertambah saat mengetahui terselinap cerita romantis dari rakyat Estonia tentang bintang-bintang itu. Dikisahkan seorang mahadewi bernama Lindu jatuh cinta pada ketampanan Cahaya Utara dan menangis patah hati karena kekasihnya tak berkepastian.

Ia pun menjelma menjadi sesosok dewi yang memimpin kawanan burung yang terbang dari utara ke selatan. Jejak air mata sang Dewi menjadi jalur migrasi burung-burung untuk berpindah dari tempat dingin ke area yang hangat.

Inspirasi Hian pun mengalir deras.

Ora et Labora

Sejak menggenggam ilham, Hian Tjen, yang bergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) mulai menciptakan desain, menggambar sketsa, menyusun mood board, menentukan siluet, memilih warna. Ia bahkan menggarap bahan baku sendiri demi mewujudkan setiap detail inspirasinya menjadi serangkaian koleksi yang tampil sempurna saat di atas panggung peraga.

Hian mengajak Ian Permana, ilustrator yang berdomisili di Bali, untuk menorehkan ilustrasi si gadis Lindu, burung-burung, planet, bulan, rasi bintang, lambang astrologi dan awan-awan, agar menjadi tokoh yang dihidupkan demi memperkaya khayalan Hian di atas bahan.

Hian juga harus rela pulang pergi ke Italia menyulih ilustrasi Ian Permana menjadi motif printing ke atas bahan-bahan halus berkualitas prima, lantaran belum ada yang dapat mewujudkannya di Tanah Air.

Pada saat hampir bersamaan, tim artistik Hian menetaskan embellishment baru dari bulu-bulu hingga membentuk seperti bintang-bintang yang diolah dengan teknik temuan sendiri. Gemerlap langit dan kerlip bintang hadir sebagai motif yang diuntai dari benang emas, benang perak, dengan teknik sulaman tangan yang sangat halus.

Pada sisi lain, Hian menghimpun tim kreatifnya bekerja sama dengan berbagai kalangan pendukung acara untuk mendirikan panggung megah dengan atmosfer angkasa, termasuk siraman cahaya spektakuler, musik pengantar, dan meramu gerak laku model yang dapat menjunjung persembahan agar pencinta mode dapat menangkap inspirasinya secara utuh.

Hian Tjen memerlukan waktu empat bulan mempersiapkan koleksi barunya ke hadapan pencinta mode.

Di tengah persaingan ketat dunia kreatif, Hian lebih mengedepankan bekerja dan berkarya dengan sepenuh hati untuk tetap bertumbuh dan berkembang. Ia termasuk dalam jajaran generasi muda perancang busana yang mampu mendapat tempat di kalangan pencinta mode, bukan hanya di Tanah Air, juga di beberapa negara seperti Uni Emirat dan kota-kota besar di Asia.

“Berserah kepada Tuhan, karena Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik. Ora et labora, kita selalu berdoa, dengan tetap berusaha sebaik-baiknya,” kata Hian menjawab pertanyaan melalui media sosial, tentang kiatnya bertumbuh dan berkembang. 

Editor : Sotyati

Back to Home