Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 10:01 WIB | Minggu, 18 Agustus 2019

Dialog “Mata Mata” Meuz Prast

Seorang pengunjung mengamati karya Meuz Prast pada pameran “Mata Mata” di Miracle print, Jumat (16/8). (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Setelah menggelar pameran tunggal pada September dua tahun lalu, seniman-perupa Meuz Prast kembali menggelar pameran tunggal di Miracle print-art shop.

Pameran bertajuk “Mata Mata” dibuka bersama antropolog Kris Budiman dan penulis Ida Fitri, Jumat (16/8) sore. Sebanyak 21 lukisan dalam medium cat akrilik di atas kertas maupun kanvas disajikan Meuz dalam berbagai ukuran.

Dalam sambutan pembukaan Kris Budiman memberikan pembalikan pernyataan Meuz atas karya dan proses karyanya untuk mengungkap presentasi karya yang sedang disajikan.

“Di dalam penelitian akademik, kalau kita memperhatikan penjelasan seniman itu yang disebut dengan intentional meaning makna intensional yang belum tentu hadir di dalam karyanya. Itu hanya yang diucapkan, belum tentu kita bisa membaca di dalam karyanya,” jelas Kris Budiman.

Lebih lanjut Kris Budiman mengatakan mata menjadi kajian yang menarik belakang ini terkait dengan tindakan memandang. Ada bermacam-macam mode dalam memandang. Dalam teori mutakhir tentang menatap, ada istilah scopophilia yaitu kegemaran mengintip.

Menurut Kris Budiman mata yang digambarkan Meuz hadir dalam visual dari sebuah lubang. Obyek yang dipandang (dari mata) lewat lubang itu biasa disebut dengan istilah fetish, obyek yang dipuja-puja dan menjadi sumber kenikmatan seksual. Obyek-obyek lainnya seolah menjadi kamuflase Meuz untuk memunculkan citra dirinya maupun metafora lainnya.

Bagi peliput peristiwa seni rupa, pernyataan dan penjelasan Kris Budiman menjadi penting dan bisa digunakan untuk menggali lebih dalam tentang sebuah karya seni dengan membandingkan pernyataan seniman (artist statement).

Dalam pengantar pameran Ida Fitri menuliskan “mata-mata” bisa bermakna ganda. Pertama, mata-mata menunjukkan gejala pengulangan kata atau reduplikasi, yang utuh dan tak mengubah makna dari kata aslinya, tetapi menunjukkan jumlah yang jamak. Artinya, “mata-mata” mengantar audiens memperhatikan mata sebagai subject matter dan diperingatkan bahwa akan menemukan mata lebih dari satu. Kedua, “mata-mata” merupakan reduplikasi semu dan idiomatik yang memiliki makna baru, yaitu orang yang ditugasi menyelidiki secara diam-diam.

Dalam perbincangan dengan satuharapan.com, Jumat (26/7) Meuz menjelaskan jika pada pameran tunggal sebelumnya yang bertajuk “Face Project” mengeksplorasi wajah manusia yang menjadi bagian eksistensional kaum perempuan melalui wajahnya, pada pameran “Mata Mata” Meuz lebih spesifik mengeksplorasi mata sebagai obyek utama karyanya di antara goresan garis abstrak serta beberapa obyek minor bunga, buah apel, otak, tangan, dan binatang kucing yang dihadirkan sebagai simbol-metafor.

 “Dari literatur yang saya pelajari tentang simbol-simbol mata ternyata banyak digunakan oleh agama-agama semit (samawi), meskipun jauh sebelum adanya agama (obyek mata) sudah digunakan sebagai simbol kebudayaan.  Bagi penganut muslim dikenal adanya Hand of Fatima, kemudian Yahudi ada Hand of Miriam, ada juga di Mesir Kuno, serta Dewi Tanit,” kata Meuz Jumat (26/7).

Sebuah lukisan berukuran cukup besar (150 cm x 130 cm) berjudul Wailing Wall menjadi titik simpul dari keseluruhan karya dimana Meuz mencoba mendialogkan realitas hubungan manusia dalam ratapan-tatapan mata dalam keyakinannya dengan keyakinan pihak lain. Tawaran tersebut menjadi menarik ketika realitas hari ini banyak pihak berebut tafsir tunggal atas kebenaran pandangan “mata-matanya” yang justru sering memunculkan ketegangan-ketegangan baru dan tidak jarang berujung pada tragedi kemanusiaan.

Pameran tunggal bertajuk “Mata Mata” berlangsung hingga 30 Agustus 2019 di Miracle prints Jalan Suryodiningratan MJ. II/853, Mantrijeron, Yogyakarta.

Editor : DA

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home