Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Sabar Subekti 13:35 WIB | Sabtu, 01 Februari 2020

Diprediksi Harga Minyak Turun Akibat Virus Corona

Kota Wuha di China, pusat penyebaran virus corona, menjadi sepi akibat pembatasan perjalanan dan dikarantina untuk menanggulangi wabah. (Foto: dok. Ist)

LONDON, SATUHARAPAN.COM-Wabah virus corona di China dapat menurunkan permintaan akan minyak hingga lebih dari 250.000 barel per hari (bph) pada kuartal pertama tahun ini. Hal itu diperkirakan akan menyeret harga minyak makin rendah yang sekarang sudah tertekan oleh kelebihan pasokan, kata analis dan pedagang dikutip Reuters.

Pukulan itu, yang setara dengan kapasitas kilang minyak besar, sebagian besar akan mengenai dengan telak karena penurunan permintaan bahan bakar jet di China, importir minyak utama dunia, dan salah satu pasar penerbangan yang paling cepat berkembang di dunia. Hal itu terkait pembatasan perjalanan yang ketat yang membatasi perjalanan domestik dan internasional karena operator berbagai negara menghindari risiko wabah.

"Karena tindakan pencegahan berfokus terutama pada penerbangan dan angkutan penumpang umum, bahan bakar jet akan menjadi yang paling rentan  terkena pengaruh.... untuk Q1 2020, permintaan minyak China dapat turun lebih dari 250.000 barel per hari," kata Yujiao Lei dari Wood Mackenzie, dan konsultan energi yang menurunkan perkiraan permintaan minyak dunia sebesar 500.000 barel per hari untuk periode yang sama.

"Wabah virus corona yang sedang berlangsung kemungkinan akan menjadi peristiwa sekali saja, dengan efeknya pada permintaan minyak yang berfokus terutama pada permintaan bahan bakar jet, terutama di China dan pada tingkat yang lebih rendah di Asia Timur dan Tenggara," tambahnya.

Virus ini telah menyebar ke lebih dari 9.800 orang di seluruh dunia, melampaui total dari epidemi SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada tahun 2002-2003. Virus corona jenis baru ini telah menewaskan 258 orang, semuanya di China.

Beberapa kota di China telah memberlakukan pembatasan perjalanan yang ketat sementara banyak maskapai penerbangan global telah menangguhkan atau mengurangi penerbangan langsung ke kota-kota besar China.

Konsultan JLC mengatakan aktivitas kilang China telah anjlok 15 persen dalam pekan lalu, dan sebuah agen perdagangan internasional China mengatakan pada hari Jumat (31/1) akan menawarkan sertifikat force majeure untuk perusahaan yang tidak dapat memenuhi kontrak karena wabah virus itu.

Ketakutan akan virus telah mulai melemahkan minyak mentah dan pasar produk di seluruh dunia. Margin penyulingan Asia untuk bahan bakar jet mendekam mendekati level terendah dalam dua hingga setengah tahun.

Perkiraan oleh FGE Energi adalah sebanyak 840.000 barel per hari pada Februari, tetapi pasar tampaknya bersiap untuk dampak pada ekonomi yang lebih luas seandainya upaya untuk mengatasi wabah gagal.

"Karena puncak penularan belum terwujud, banyak ketidakpastian tetap pada dampak pada ekonomi China dan pertumbuhan global," tulis Fitch Solutions Macro Research dalam sebuah catatan, dikutip Reuters.

"Dampaknya terhadap ekonomi China akan menjadi material yang membuat semakin lama virus ini mereda."

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home