Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 15:54 WIB | Jumat, 15 Desember 2017

Drama Tari Wayang "Opera Semar Badranaya"

Drama Tari Wayang "Opera Semar Badranaya"
Pementasan "Opera Semar Badranaya" oleh Titik Awal di concert hall Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (14/12) malam. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Drama Tari Wayang "Opera Semar Badranaya"
Bermain-main dengan memasukkan unsur tari Sintren.
Drama Tari Wayang "Opera Semar Badranaya"
Adegan saat Dewi Durga merasuki jiwa Srikandi.
Drama Tari Wayang "Opera Semar Badranaya"
Petruk memasuki panggung dari arah penonton.
Drama Tari Wayang "Opera Semar Badranaya"
Gareng 'ndadi' (kesurupan) dalam salah satu adegan "Opera Semar Badranaya".

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Mengadaptasi naskah Semar Gugat karya pendiri Teater Koma Nano Riantiarno, Titik Awal sebuah  komunitas mandiri yang terbentuk dari Stage Performer P2K Univ. Ahmad Dahlan Yogyakarta mementaskan seni Drama Tari Wayang dalam lakon "Opera Semar Badranaya" di Concert hall Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (14/12) malam.

Dikisahkan Kerajaan Amarta sedang mempersiapkan pesta pernikahan Arjuna dengan Srikandi. Untuk menguji cinta Arjuna, Srikandi memberikan syarat kepada Arjuna berupa kuncung Semar sebagai bukti kesetiaannya. Sebuah permintaan yang tidak mudah mengingat Semar adalah titisan dewa yang tidak lain adalah saudara Bthara Guru dan Bthara Narada.

Agar upacara pernikahan dapat berlangsung, mau tidak mau Arjuna memenuhi permintaan Srikandi yang sesungguhnya saat meminta syarat tersebut telah dirasuki oleh Dewi Durga. Mendapat perlakuan demikian dari Arjuna, Semar marah dan tidak bisa menerima perlakuan yang memalukan tersebut. Baginya, kepala berikut kuncunng adalah lambang kehormatannya, dimana bahkan dewa pun tidak berani menyentuh kepalanya.

Dengan perlakuan tersebut dan tanpa kuncung, meski berkuasa ia sering dilecehkan manusia dan dewa. Akhirnya bersama putra kesayangannya Bagong, Semar pergi ke kahyangan Jonggring Salaka menemui saudaranya Bthara Guru dan Bthara Narada meminta agar wajah tampannya dikembalikan lagi. Saat menemui Bthara Guru-Narada, Bagong tidak diperkenankan masuk oleh dua penjaga kahyangan bahkan diusir. Saat Semar berubah dalam wajah aslinya, tidak ada satupun yang mempercayainya bahkan anak-istrinya termasuk Bagong yang mengantarkan ke kahyangan. Dengan wajah aslinya akhirnya Semar mengubah namanya menjadi Prabu Sanggadonya Lukanurani dengan kerajaan bernama Simpang Bawana Nuranitis Asri.

Saat bersamaan di Amarta dibawah pengaruh Srikandi (yang terasuki Dewi Durga), kepemimpinan Arjuna membuat kesengsaraan rakyat. Ketidakadilan, penindasan, kekacauan/huru-hara, terjadi dimana-mana. Istri Arjuna yang lain Larasati dan Dewi Sembadra yang tidak senang hidup di Amarta akhirnya pergi ke Simpang Bawana dan melalui putra Sumbadra Abimanyu dan sepupunya Gatotkaca, yang memberitahukan penderitaan Amarta kepada Semar. Semar berangkat ke Amarta menentang ketidakadilan Arjuna-Srikandi. Semar menggugat.

Semar Gugat karya Nano Riantiarno adalah naskah drama/teater dalam 30 adegan. Diawali dengan lagu pembuka tanpa judul serta diakhiri lagu penutup berjudul "Nyanyi Sunyi Jagat Raya". Ceritanya melibatkan 25 tokoh yang berbicara dan tokoh tanpa bicara. Alur cerita terfokus pada tokoh Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Durga, Kalika (anak buah Durga), dan Srikandi.

Pementasan yang menggabungkan perform teater, wayang kulit, tari klasik-modern, serta iringan musik secara live gamelan kontemporer dihelat selama hampir dua setengah jam. Konsep pementasan demikian kerap dilakukan oleh kelompok gamelan kontemporer Lumbung artema. Sebagai sebuah pertunjukan teater dalam durasi pementasan tersebut sebenarnya cukup melelahkan mengingat dialog sebanyak 559 baris diadaptasi dalam gerak musik dan tari dalam alur yang relatif lambat. Beruntung komposisi musik yang dimainkan Lumbung artema garapan Herdian cukup dinamis sepanjang pertunjukan. Komposisi gamelan yang ringan dan cukup familiar bagi telinga kaum muda.

Adegan yang dibawakan trio Ahmad Hasfi yang memerankan bagong, Novrian Sandro sebagai gareng, serta Punto Ali Fahmi sebagai petruk dalam improvisasi dialog yang jenaka serta spontanitas yang tidak jarang keluar dari dialog naskah justru mampu mencairkan suasana pertunjukan teater. Punto misalnya yang menjadikan area tempat duduk penonton sebagai back-stage dimana dia memulai adegannya saat naik panggung dari arah penonton. Atau saat ketiganya dalam perform jenaka mengajak penonton menyanyi bersama dalam iringan gamelan dan gitar akustik membawakan lagu Payung Teduh berjudul "Akad". Kenakalan lainnya adalah memasukan unsur tarian Sintren dalam pementasan dengan adegan gareng kesurupan yang justru mengundang gelak tawa penonton. Teater sendiri bisa jadi belum terlalu biasa ditampilkan bagi masyarakat umum.

Mengadaptasi dialog naskah ke dalam permainan wayang kulit dalam sebuah pertunjukan teater menjadi tawaran menarik ketika disajikan dalam sebuah bilik dan penonton menyaksikan adegan-dialog wayang kulit dalam bentuk bayang-bayang yang dimainkan dari belakang layar (beber). Ini seolah mengembalikan ingatan bahwa menonton wayang kulit adalah menonton bayang-bayang permainan dalang dari balik layar dalam sorotan lampu blencong. Lagi-lagi Lumbung artema mampu merespon permainan dalang dalam komposisi iringan yang pas terlebih ketika pencahayaan lampu pun mampu memberikan dramatisasi setiap adegan.

Dalam pementasan "Opera Semar Badranaya", eksplorasi gerak-musik serta improvisasi dialog menjadi daya tarik yang cukup kuat. Dan jika dicermati lebih jauh, adegan wayang kulit di dalam bilik yang dimainkan secara bersamaan dengan dialog pemain di panggung besar dalam iringan musik-tari secara live, ada kegairahan baru yang muncul dalam berteater di kalangan kaum muda. Tidak penting apakah itu merupakan pengulangan yang pernah ada.

 

Back to Home