Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Ignatius Dwiana 22:30 WIB | Senin, 23 Juni 2014

Garin Nugroho: Indonesia Butuh Pemimpin Bersosok Musa

Garin Nugroho. (Foto: Ignatius Dwiana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Garin Nugroho dalam ‘Monolog Jakarta untuk Indonesia’ di Auditorium Galeri Indonesia Kaya Jakarta menyebutkan Indonesia membutuhkan pemimpin yang bersosok seperti Musa.

Sutradara dan produser kondang ini menjelaskan Musa merupakan sosok pemimpin yang bisa menyibak lautan dan membawa umatnya kepada perjalanan baru. “Dia itu ikon semua agama besar tentang penyelamatan sebenarnya,” kata Garin Nugroho kepada satuharapan.com di Auditorium Galeri Indonesia Kaya Jakarta pada Sabtu (21/6).

Dia berpendapat persoalan Indonesia saat ini sangat besar sehingga pemimpin seperti Musa dibutuhkan.

“Setiap pemimpin Indonesia punya idealisasi dan peran sendiri. Tetapi di akhir (kepemimpinan) tidak melakukan perombakan besar. Hanya 60 persen menemukan kemampuan seperti Musa. Sementara 40 persennya dia mencoba menyeimbangkan gelombang, mencari stabilitas. Membuat kekuatan-kekuatan partai, tidak mau jatuh, dan tidak pernah seperti Musa yang membelah ombak,” kata laki-laki kelahiran Yogyakarta ini.

Kemauan merawat keberagaman dinilainya harus pula menjadi syarat mutlak untuk pemimpin Indonesia mendatang dan tidak mungkin tidak. Keberagaman merupakan akar sejarah Indonesia dan bukan sesuatu yang baru. Sementara sikap anti keberagaman saat ini merupakan pertanda kemunduran sejarah.

Menurutnya, pemilihan Presiden saat ini harusnya pula dihidupi dengan pendidikan kewarganegaraan dan tidak menjadikan pasif warga negara. Warga negara bukan komoditas, bukan konsumen, dan bukan penonton. Warga negara harus mempunya hak untuk menentukan Indonesia berjalan dan dihidupi.

Pemilihan Presiden dinilainya juga jangan prosedural semata, seperti yang ditampilkan debat capres yang ditayangkan di stasiun-stasiun televisi.

“Mari kita ingat debat Presiden, masuk seperti petinju. Prabowo dan Jokowi saling berhadap-hadapan seperti adegan tinju. Ketika terjadi perdebatan, persis seperti cerdas cermat anak SD. Diberi waktu, menit di sini, menit di sini, seolah-olah presiden tidak punya waktu menghitung waktunya sendiri. Apa yang terjadi ketika demokrasi hanya prosedural? Maka KPU merasa bahagia bahwa inilah prosedur demokrasi. Semua dengan peraturan.”

Sementara dia mengungkapkan bahwa debat capres di negara-negara maju justru tidak membahas teknis waktu. “Mana ada teknis diskusi diomongin di depan hanya untuk pameran prosedur demokrasi yang tidak perlu. Maka kalau di tempat lain Presiden bicara terlalu banyak maka masyarakat yang menilai, dia tidak efektif bicara.”

Sosok pemimpin yang susastra dipandangnya telah merajut Indonesia saat ini. “Mengapa Pancasila lahir? Karena ada Muhammad Yamin Bapak Soneta Indonesia, ada Soekarno yang bukan politikus praktis, politikus yang memahami bahwa di sastra ada rasa. Maka sastra dalam hal kecil itu termasuk kemiskinan, kehidupan, dan profesi yang dihidupkan.”

“Kalau politikus hanya menghidupi politik saja, dan profesi lain mati, jangan pilih dia. Politikus yang baik harus menghidupi profesi. Mau anak anda seorang pembalet yang ditonton 25 orang. Penyanyi, penari ditonton 10 orang, atau dia berkotbah dengan 1000 orang, dia harus dihidupi. Maka lihat, kalau di sebuah negara itu politik menjadi utama, dan profesi tidak ada maka negara itu akan hancur,” kata Garin Nugroho.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home