Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 18:47 WIB | Senin, 22 Juli 2019

Gempa dan Tsunami Raksasa Ancam Selatan Jawa, Penyebab dan Antisipasinya

Peta segmen megathrust nasional. (Foto: bbc.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menyebut daerah selatan Jawa berpotensi diguncang gempa bermagnitudo 8,8 dan tsunami setinggi 20 meter. Namun, ancaman serupa ternyata juga dihadapi daerah-daerah lain.

Pakar tsunami Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, mengatakan potensi gempa dan tsunami dashyat disebabkan segmen-segmen megathrust atau sesar naik.

Sebelumnya, Widjo, membuat pemodelan bencana dengan fokus ke daerah selatan Jawa dan menemukan gempa bermagnitudo 8,8 dan tsunami dengan tinggi 20 meter berpotensi terjadi di daerah itu.

Pemodelan itu berdasarkan pada data "Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017", yang disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional Pusat Litbang Perumahan & Pemukiman.

"Biasanya (gempa) terjadi di daerah subduksi atau pertemuan lempeng-lempeng. Kalau di selatan Jawa, ya pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang (bergerak) tujuh centimeter per tahun," kata Widjo, yang dilansir bbc.com pada Senin (22/7).

Sejumlah daerah di selatan Jawa, dari Cilacap hingga Jawa Timur, kata Widjo, berpotensi terkena dampak bencana itu.

Kabar itu sempat menimbulkan kepanikan publik, khususnya warga Cilacap.

Widjo menekankan, Indonesia memiliki 16 segmen megathrust yang mencakup Pulau Sumatera, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), juga Laut Banda.

Maka, katanya, daerah-daerah itu, katanya, juga menghadapi ancaman serupa.

Mengapa Skalanya Diprediksi Begitu Besar?

Nuraini Rahma Hanifa, peneliti pusat penelitian mitigasi bencana Institut Teknologi Bandung (ITB), menyebut dalam waktu 300 tahun terakhir, tidak ada gempa yang melebihi magnitudo 8-8,5 baik di megathrust selatan Jawa, Mentawai, Selat Sunda, bagian selatan Bali dan Lombok, hingga utara Sulawesi.

Secara teori, saat terjadi gempa, akan terjadi pelepasan energi yang terkumpul karena subduksi lempeng.

Sebaliknya, kata Nuraini, semakin jarang terjadi gempa bumi, energi akan semakin terakumulasi, sehingga semakin tinggi pula ancaman gempa bermagnitudo tinggi.

"Semakin lama (energi) tidak dilepaskan, semakin besar juga energi yang terkumpul. Tapi cara dia melepaskan juga mungkin tidak sekaligus," kata Nuraini.

Contoh energi yang dilepaskan sekaligus, kata Nuraini, adalah gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004, yang bermagnitudo 9,2 hingga 9,3.

"(Cara pelepasan energi) bisa pelan-pelan, bisa sekaligus... tetapi tidak berarti gempa akan terjadi besok atau bulan ini," kata Nuraini.

"Bisa saja terjadi 50 tahun lagi, 100 tahun lagi, bisa jadi besok."

Apa Gempa dan Tsunami Raksasa Memiliki Siklus?

Nuraini mengatakan, sebetulnya gempa memiliki siklus. Namun, studi terkait hal itu, terutama di daerah selatan Jawa masih minim, katanya.

Pengetahuan akan siklus itu, katanya, akan membuat masyarakat tahu periode terjadinya gempa di suatu tempat.

Sementara itu, Eko Yulianto, ahli paleotsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan hasil penelitiannya, yang dilakukan dengan mempelajari rekaman tanah, menunjukkan gempa raksasa di selatan Jawa terjadi sekitar 400 tahun yang lalu.

Bukti dari gempa yang memicu tsunami itu ditemukan di sejumlah daerah seperti Lebak, Ciletuh, Pangandaran Cilacap hingga Lumajang.

Seberapa besar gempa itu? Eko menjawabnya dengan perbandingan.

Gempa Jepang di tahun 2011 dengan magnitudo 9, menyebabkan rupture atau patahan sepanjang sekitar 500 kilometer.

Sementara patahan daerah yang diamatinya, yakni dari Binuangeun hingga Lumajang, adalah sekitar 700 kilometer.

"Dari situ kita bisa membandingkan, setidaknya (patahan) itu bisa memicu gempa di atas (magnitudo) 9, dan itu terdefinisi sebagai gempa raksasa. Kalau gempa itu terjadi, ia memicu tsunami,” katanya.

Lalu, apakah gempa raksasa di Selatan Jawa akan terjadi tiap 400 tahun sekali? Eko menjawab 'tidak pasti'.

Sebagai contoh, sebelum gempa dahsyat di Aceh pada tahun 2004, diestimasi gempa dengan kekuatan yang sama telah terjadi 550 tahun sebelumnya. Namun, periode itu tidak teratur.

"Dia (gempa di Aceh) berulang dari 550 hingga 950 tahun," kta Eko.

Bagaimana Mengantisipasinya?

Pelaksana harian Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo, mengimbau warga untuk tidak panik, tapi tetap siaga untuk menghadapi gempa besar.

Ia menyebut, warga harus tahu jalur evakuasi di wilayahnya juga barang-barang apa yang harus mereka bawa, kala bencana terjadi.

"Bangunan juga disiapkan. Jangan sampai kalau kena gempa ambruk. Paling aman pakai kayu atau pake struktur beton yang tahan gempa,” katanya.

Ia juga meminta warga menerapkan prinsip 20-20-20, yakni jika warga merasakan gempa selama 20 detik, warga harus segera evakuasi dalam waktu 20 menit, ke bangunan yang ketinggiannya minimal 20 meter.

Saat ini, BNPB tengah melaksanakan kegiatan Desa Tangguh Bencana (Ekspedisi Destana) pada lebih dari 500 desa sepanjang Pantai Selatan Jawa.

Program yang berlangsung hingga 16 Agustus itu ditujukan untuk mempersiapkan warga untuk menghadapi tsunami.

Program serupa akan dilaksanakan di luar Pulau Jawa pada tahun depan.

 

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home