Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 22:13 WIB | Minggu, 27 Oktober 2019

Gereja Ethiopia Kritik Pemerintah Lambat Tangani Konflik Berdarah

Jemaat Gereja Orthodox Ethiopia dalam suatu ibadah di gereja. (Foto: Ist)

ADDIS ABABA, SATUHARAPAN.COM-Gereja Ortodoks Ethiopia mengkritik tanggapan Perdana Menteri Abiy Ahmed terhadap bentrokan etnis dan agama yang menewaskan hampir 70 orang, dengan mengatakan dia gagal melindungi anggotanya.

Kekerasan meletus di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, dan wilayah Oromia yang terpencil pada hari Rabu (23/10) setelah seorang aktivis terkemuka menuduh pasukan keamanan berusaha mengatur serangan terhadapnya, klaim yang kemudian dibantah oleh pejabat polisi.

Hal itu dengan cepat berubah menjadi bentrokan dan seorang pejabat polisi mengatakan pada hari Jumat bahwa 67 orang telah tewas di Oromia.

“Orang-orang sekarat dan pertanyaan diajukan, jika pemerintah ada. Orang-orang kehilangan semua harapan, ” kata Pastor Markos Gebre-Egziabher, seorang pemimpin di Gereja Orthodox Tewahedo, kepada AFP, hari Minggu (27/10), setelah upacara peringatan di Katedral Holy Trinity di Addis Ababa.

Gereja Diserang

Umat ​​Kristen Ortodoks adalah sekitar 40 persen dari 110 juta penduduk Ethiopia. Abiy, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini, menunggu hingga hari Sabtu (26/10) malam untuk bereaksi atas kerusuhan itu. Dia berjanji untuk membawa pelaku ke pengadilan dan memperingatkan bahwa ketidakstabilan dapat memburuk jika orang-orang Ethiopia tidak bersatu.

Seorang juru bicara gereja mengatakan pada hari Sabtu bahwa 52 orang Etiopia anggota Gereja Ortodoks, termasuk dua pejabat gereja terbunuh - sebuah angka yang belum dapat diverifikasi secara independen.

Fisseha Tekle, seorang peneliti untuk Amnesty International, mengatakan bahwa gereja-gereja Ortodoks telah diserang di setidaknya tiga lokasi, sementara setidaknya ada satu laporan tentang masjid yang menjadi sasaran.

Pemerintah Mengecewakan

Para pemimpin Gereja bertemu dengan Menteri Pertahanan Lemma Megersa dan Wakil Perdana Menteri Demeke Mekonnen, menurut laporan Fana Broadcasting Corporate yang berafiliasi dengan negara, namun tidak jelas apa tujuan dan hasil pertemuan itu.

Pada upacara hari Minggu di Addis Ababa, ratusan umat menundukkan kepala mereka pada saat hening bagi para korban.

Pastor Markos mengatakan para anggota gereja siap mati demi membela sesama umat dan properti gereja. "Jika mereka datang dengan parang, kita akan pergi dengan salib," katanya. "Tuhan bersama kita."

Pejabat Gereja Esubalew Yimam menyebutkan bahwa tanggapan pemerintah, khususnya pernyataan Abiy "mengecewakan". "Tugas pemerintah adalah melindungi warganya, lebih dari pembangunan dan hal-hal lain," katanya. "Saat ini kami tidak melihat itu dilakukan."

Situasi bentrokan berlatarbelakang etnis dan agama di Ethiopia ini, di mana respons pemerintah lambat, menjadi ironi bagi negara itu, justru karena tahun ini Perdana Menteri Abiy Ahmed baru saja menerima Penghargaan Nobel Perdamaian.

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home