Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 14:21 WIB | Rabu, 24 April 2019

Harga Bawang Merah dan Putih Naik Drastis di Malang

Seorang pedagang sedang merapikan dagangannya di pasar Oebobo, Kota Kupang, NTT. (ANTARA/Kornelis Kaha)

MALANG, SATUHARAPAN.COM - Harga bumbu-bumbuan di wilayah Malang raya, khususnya bawang merah dan bawang putih menjelang Ramadhan 2019 naik drastis, rata-rata mencapai Rp10 ribu-Rp20 ribu per kilogram.

Salah seorang pedagang pracangan di Pasar Dinoyo Kota Malang Jumain, Rabu (24/4), mengemukakan kenaikan harga bawang merah dan bawang putih tersebut, sudah terjadi sejak dua pekan lalu.

"Kenaikan harga bumbu-bumbuan ini tidak hanya untuk bawang merah dan bawang putih, tetapi sejumlah komoditas lainnya juga mengalami kenaikan harga, seperti cabai merah dan tomat," kata Jumain.

Harga bawang merah sebelum ada kenaikan, kata Jumain, sekitar Rp23 ribu-Rp25 ribu, sekarang mencapai Rp35ribu sampai Rp36 ribu per kilogram. Sedangkan bawang putih sebelumnya seharga Rp25 ribu-Rp26 ribu, sekarang seharga Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram.

Ia mengatakan meski harga bawang terus naik, kualitas komoditas tersebut cukup bagus. "Kualitas bawangnya juga bagus dan stoknya juga cukup banyak. Masyarakat tidak perlu khawatir akan kekurangan bawang, baik merah maupun putih meski saat ini sudah mendekati Ramadhan dan Lebaran 2019," ucapnya.

Berbeda dengan bawang, lanjut Jumain, ketika harga cabai naik, kualitasnya cenderung menurun karena berbagai faktor, khususnya cuaca. Saat ini harga cabai merah besar mencapai Rp32 ribu-Rp35 ribu per kilogram yang sebelumnya hanya seharga Rp24 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga bawang bombay juga mengalami kenaikan cukup signifikan, yakni dari Rp18 ribu menjadi Rp28 ribu per kilogram, cabai rawit masih stabil dengan harga Rp18 ribu per kilogram. "Meski ada kenaikan sejumlah komoditas bumbu-bumbuan, harganya masih relatif wajar," tuturnya.

Salah seorang ibu rumah tangga, Iswatin mengatakan setiap menjelang Ramadhan harga kebutuhan pokok pasti naik drastis, bahkan kenaikan harga kebutuhan pangan tersebut berlangsung hingga Lebaran. "Nanti mau Natalan dan Tahun Baru naik lagi. Setiap tahun kondisinya seperti ini," ucapnya.

Iswatin yang berdomisili di Lowokwaru itu mengaku kelimpungan ketika menjelang Ramadhan karena hampir semua harga kebutuhan pokok naik, bahkan jauh hari sebelum Ramadhan sudah naik duluan.

"Kami ibu rmah tangga dan masyarakat kecil ini berharap pemerintah bisa menyelesaikan persoalan harga ini. Masak setiap menjelang Ramadhan, Lebaran dan hari-hari besar lainnya, harga kebutuhan pokok pasti naik. Kasihan kami rakyat kecil ini selalu kelabakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kota Malang, Dwi Handayani Prasetyowati mengatakan naiknya harga bahan pokok bisa memicu terjadinya inflasi. "Kalau harga kebutuhan pokok terus naik, kami akan meminta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menekan harga agar angka inflasi di Kota Malang tidak terlalu tinggi," katanya.

Pada Maret 2019, BPS mencatat inflasi di Jawa Timur mencapai 0,16 persen. Dari 38 kota dan kabupaten di Jatim, inflasi tertinggi terjadi di Kota Malang, yakni 0,36 persen. Komoditas yang berperan terhadap inflasi, di antaranya tarif angkutan udara, bawang putih dan bawang merah.

Operasi Pasar Dihentikan

Sementara itu Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Nusa Tenggara Timur (NTT) menghentikan operasi pasar (OP) bawang merah dan bawang putih akibat stok bahan pokok tersebut di gudang sudah habis.

"Akibat stok bawang merah dan putih habis di gudang, kami terpaksa hentikan operasi pasar sementara waktu," kata Kepala Bulog Divre NTT Eko Pranoto di Kupang, Rabu (24/4).

Hal ini disampaikan ketika ditanya terkait peran Bulog Divre NTT mencegah kenaikan harga kebutuhan pokok di NTT, khususnya Kota Kupang, karena sejak sepekan lalu, harga bawang putih dan bawang merah terus merangkak naik.

Hingga saat ini harga bawang merah sudah mencapai Rp30 ribu per kilogram. Sementara harga bawang putih mencapai Rp70 ribu per kilogram.

Eko menambahkan bahwa pihaknya saat ini masih menunggu pasokan bawang, baik merah dan putih dari para petani.

"Kami masih tunggu pasokan dari para petani bawang di NTT. Saat ini para petani belum panen," ujar dia.

Lebih lanjut ia menambahkan stok bawang merah dan putih di gudang habis sejak pekan lalu, pascaharga bawang di pasar tradisIonal di kota itu mengalami kenaikan.

Bulog NTT, kata dia, saat harga bawang merah dan putih melonjak pekan kemarin justru menjual bawang merah dengan harga Rp25 ribu per kilogram. Sementara bawang putih seharga Rp23 ribu per kilogram.

"Hal ini lah yang mengakibatkan stok di gudang kami habis. Paling lama Juni atau Juli lagi baru kami bisa membeli bawang dari hasil panenan petani di NTT," ujar dia.

Beberapa warga yang ditemui di pasar tradisional Kota Kupang mengatakan harga bawang putih dan merah saat ini cukup mahal.

"Saya kemarin coba cari di operasi pasar Bulog NTT, tetapi ternyata habis. Terpaksa cari di pasar, walaupun harganya sudah mencapai Rp70 ribu per kilogram," ujar Angela, seorang warga. (ANTARA)

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home