Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 14:00 WIB | Selasa, 06 Maret 2018

Harga Jangan Mahal-mahal

Di Yogyakarta Batara Lubis Menyemai Bunga Sketsa
Harga Jangan Mahal-mahal
Potongan karya sketsa Batara Lubis berjudul "Harga jangan mahal-mahal" dipamerkan di Museum Taman Tino Sidin-Yogyakarta, 16 Februari-3 Maret 2018. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Harga Jangan Mahal-mahal
Selain tinta, Batara Lubis membuat karya sketsa dengan ballpoint, pensil, charcoal, spidol/marker maupun pensil warna di atas kertas.
Harga Jangan Mahal-mahal
Sketsa Batara Lubis berjudul "Kampungku".
Harga Jangan Mahal-mahal
"Gedung Agung" (1967)
Harga Jangan Mahal-mahal
Sketsa tinta di atas kertas coklat.
Harga Jangan Mahal-mahal
Lukisan dekoratif naif karya Batara Lubis berjudul "Kuda Kepang" (1977) dan "Putri Bali" (1978).
Harga Jangan Mahal-mahal
Sketsa "Pasar Sentul"-tinta di atas kertas-(1958).
Harga Jangan Mahal-mahal
Sketsa "Babi" (1955) karya Batara Lubis.
Harga Jangan Mahal-mahal
Lukisan "Penjual Pisang Yogya" (1986).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tiga perempuan berkebaya dan kain jarit saling berbincang di sebuah pasar, di depannya terhampar sayuran dagangan: terong, kubis, dan labu. "Aja larang-larang (jangan mahal-mahal)", kira-kira demikian isi perbincangan di antara mereka. Kalimat tersebut hingga saat ini masih kerap terdengar di telinga masyarakat saat berbelanja di pasar tradisional.

Sketsa berjudul "Harga jangan mahal-mahal" menggunakan tinta di atas kertas berukuran 20,5 cm x 31,5 cm yang dibuat Batara Lubis pada tahun 1958 menjadi salah satu dari puluhan karya sketsanya yang dipamerkan di Museum Taman Tino Sidin, 16 Februari - 3 Maret 2018. Pameran yang dihelat tersebut adalah pameran pertama kali karya sketsa Batara Lubis sejak meninggal tahun 1986.

Pasar sebagai tempat bertemunya penjual-pembeli dengan berbagai dialektika yang kerap identik dengan dunia kaum perempuan menjadi salah satu ketertarikan perupa Batara Lubis dalam karya sketsanya. Sketsa lainnya tentang pasar diantaranya "Pasar Beringharjo" (1970), "Pasar Sentul" (1958), "Buruh Gendong" (1958).

Dalam setiap karya sketsa dengan figur perempuan, menjadi catatan menarik bahwa tidak satu pun perempuan yang mengenakan kerudung saat itu. Itulah realitas yang terekam dalam karya Batara Lubis.

Selain pasar, obyek-obyek seputar lingkungan di Yogyakarta yang menjadi tempat perantauannya pada awal tahun 1950-an saat mengenyam pendidikan seni di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) banyak mewarnai karya Batara Lubis. Sketsa "Jogja" (1957), "Gedung Agung" (1967), "Wanita" (1956), "Pasar Burung Ngasem" (1970), "Suasana Pasar" (1967), "Andong" (1970) dengan medium kertas sejauh ini cukup terawat menjadi koleksi Batara Lubis art gallery.  Karya "Gerobak Yogya" (1958) dikoleksi oleh Presiden RI pertama, Soekarno.

Terlahir pada 2 Februari 1929 sebagai keturunan Radja-radja Huragodang Mandailing Julu, Batara Lubis justru memilih dunia kesenian sebagai jalan hidupnya. Ayahnya Raja Junjungan Lubis adalah mantan gubernur Sumatera Utara. Di Yogyakarta Batara Lubis belajar melukis kepada Affandi, Hendra Gunawan, Sudarso, Trubus.

Bersama Hendra Gunawan, Sudarso, Trubus, dan perupa muda lainnya, Batara Lubis membuat Monumen Tugu Muda - Semarang. Batara Lubis dikenal sebagai salah satu pelukis Angkatan Pelukis Rakyat.

Besar dan berkarya pada rentang waktu tersebut terlebih saat tergabung dalam kelompok-kelompok kesenian, Batara Lubis turut merasakan dampak dinamika sosial-politik akibat bergantinya rezim berkuasa. Hingga meninggal, karya Batara Lubis lebih banyak "diperam" dari ruang publik seni rupa Indonesia. Selama itu pula, karya-karyanya dirawat oleh anak-istrinya namun tersimpan rapat.

Sketsa tentang rupa wajah desa-kota (landscape), bangunan bersejarah (heritage), human interest, hingga kehidupan sekitarnya yang paling sederhana terekam dalam banyak karya Batara Lubis. Karya sketsa berjudul "Kucing Banda Aceh" (1984) dengan ilustrasi tulisan "-Penghuni tak resmi, Mon Mata- kucing ini dimanapun bisa beranak dia tak perlu rumah sendiri. makan pun begitu, kalau lapar mencuri pun jadi. Dia punya anak tiga ekor. Semua gemuk dan cantik, si Itam, si Putih, dan si Blonteng". Ada kegetiran dalam realita hidup yang harus tetap dijalani dengan riang gembira dalam sketsa "Kucing Banda Aceh". Dengan narasi-ilustrasi, entah Barata Lubis sedang bercerita tentang drama apa dan siapa pada karya tersebut.

Mata Batara Lubis adalah mata lensa yang sangat fotografis. Karya sketsa berjudul "Babi" (1955) hasil buruan atau siap untuk di-guling pada sebatang bambu. Batara Lubis membuat sketsa dalam posisi miring, entah posisi babi tersebut memang dimiringkan atau Batara mencoba dalam perspektif lain agar terlihat miring. Pengambilan sudut gambar dalam sketsa tersebut di dalam dunia fotografi adalah tampilan yang menarik.

Jajak langkah Batara Lubis terbilang cukup lebar. Bahkan pada masanya Batara Lubis sudah mendunia. Ini bisa dilihat dari beberapa karya sketsanya yang berjudul "Kanton" (1959), "Cina" (1959), "Hongkong" (1959).

Tanah kelahirannya tidak luput dari rekaman Batara Lubis. Karya berjudul sketsa "Kampungku", "Landscape" melengkapi eksplorasi karya lukisan Batara Lubis yang dekoratif-naif  "Perkawinan Adat Batak" (1972), "Topeng Batak" (1985).

Dengan medium kertas yang mudah berubah warna, rentan berjamur karena mudah lembab, mudah sobek, dimakan serangga, hingga faktor kerusakan lainnya, beruntung keluarga Batara Lubis mampu merawat karya-karya tersebut hingga masyarakat luas bisa menyaksikan sebagai retrospektif atas perjalanan proses berkarya Batara Lubis yang sempat terperam dalam ruang koleksi pribadi.

Pada akhirnya, pemeraman karya Batara Lubis tidak bisa terus dijalani. Bagaimanapun, diakui atau tidak Batara Lubis dengan corak karya dekoratif memberikan pengaruh bagi perjalanan seni rupa di Indonesia. Bahkan Claire Holt dalam bukunya "Art in Indonesia: Continues and Changes", mencantumkan peran Batara Lubis didalam perkembangan seni lukis modern Indonesia dari generasi kedua.

 

Back to Home