Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:10 WIB | Sabtu, 07 Oktober 2017

ICAN Raih Hadiah Nobel Perdamaian 2017

ICAN dinilai berhasil meningkatkan kesadaran publik atas konsekuensi yang sangat serius dari penggunaan senjata nuklir. (Foto: bbc.com)

SWEDIA, SATUHARAPAN.COM – The International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) atau Kampanye Internasional untuk menghapuskan senjata nuklir, hari Jumat (6/10) dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2017.

“Kita hidup di dunia di mana risiko senjata nuklir digunakan lebih besar daripada sebelumnya dalam masa yang lama,” kata Berit Reiss-Andersen, ketua Komite Nobel Norwegia, sewaktu mengumumkan penghargaan tersebut.

Berita mengenai Hadiah Nobel untuk ICAN muncul, sementara Presiden Donald Trump mengancam Iran dan Korea Utara terkait kemampuan nuklir mereka. Pemimpin Amerika itu kemungkinan besar akan membatalkan perjanjian nuklir dengan Iran, yang ia sebut sebagai “kesepakatan terburuk yang pernah dirundingkan.”

Trump juga baru-baru ini menyatakan di Majelis Umum PBB bahwa ia mungkin akan terpaksa “menghancurkan total” Korea Utara terkait program nuklirnya.

Dalam suatu pernyataan di laman Facebook-nya, ICAN menyatakan, sekarang ini sedang terjadi ketegangan global yang besar, sewaktu retorika sengit dapat dengan mudah membuat kita mengalami kengerian yang tak terperikan. Konflik nuklir kembali membayangi. Jika ada waktu bagi negara-negara untuk menyatakan tentangan terhadap senjata nuklir, sekaranglah saatnya, kata ICAN.

Komite Nobel mengatakan, bahwa ICAN meraih hadiah tersebut karena “kegiatannya untuk menarik perhatian pada konsekuensi kemanusiaan yang besar dari penggunaan senjata nuklir dan atas upaya-upayanya mencapai suatu pelarangan berdasarkan perjanjian mengenai senjata nuklir.”

ICAN merupakan koalisi organisasi-organisasi nonpemerintah di 100 negara yang mempromosikan penerapan dan kepatuhan terhadap larangan penggunaan senjata nuklir PBB. Perjanjian global itu ditetapkan di New York pada 7 Juli 2017. Namun perjanjian itu tidak diikuti oleh negara-negara bersenjata nuklir seperti Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Inggris dan Perancis. (voaindonesia.com)

 

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home