Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Reporter Satuharapan 09:41 WIB | Jumat, 25 Januari 2019

Inayah Wahid: Tokoh Agama Harus Isi Ruang Virtual Generasi Masa Kini

Inayah Wahid ketika tampil dalam salah satu acara. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Tokoh-tokoh agama harus mampu mengisi ruang-ruang virtual generasi muda untuk menyebarkan moderasi beragama pada generasi muda. Generasi masa kini yang dikenal dengan generasi Kiwari (kamuslengkap.com: sekarang, Red), adalah generasi yang tidak suka mendengarkan nilai agama bicara tentang ketaatan saja.

Pandangan itu disampaikan tokoh muda Inayah Wahid saat menjadi narasumber talkshow berjudul “Moderasi Beragama untuk Kebersamaan Umat”, di Jakarta.

Dalam talkshow yang diselenggarakan sebagai rangkaian Rapat Kerja Nasional Kementerian Agama 2019 itu, ia berbicara tentang “Isu Moderasi Beragama dalam Perspektif Generasi Millenial”.

“Saya akan menyebut bukan generasi milennial. Karena istilah milenial kurang tepat. Saya akan bicara tentang generasi saat ini atau yang dikenal dengan  sebutan generasi Kiwari," kata Inayah, Kamis (24/1), seperti dilaporkan Indah Limy dan dilansir kemenag.go.id.

Ia menuturkan, generasi ini sangat tergila-gila dengan kata kebahagiaan. Mereka lebih senang bicara tentang agama yang menyajikan kebahagiaan. “Daripada disebut agamis, mereka lebih senang disebut spiritualis,” katanya.

“Mereka ingin mendengar agama tidak hanya bicara tentang ketaatan. Tapi juga harus menimbulkan civic values,” ia menambahkan.

Generasi Kiwari ini tidak loyal terhadap tokoh. Tapi mereka sangat loyal dengan purpose dan tujuan hidup mereka. “Mereka sejak lahir sudah egaliter. Bentuk organisasi saat ini, mereka tidak berbentuk hierarki lagi. Mereka lebih senang bergabung pada organisasi yang sifatnya tribe (suku),” kata putri bungsu Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid ini.

Hal itu yang sering kali tidak disadari. “Kadang orang bicara, 'ini tokoh panutan, dan lain-lain'. Itu gak penting untuk mereka,” ia menggambarkan.

Hal itu yang menurut Inayah  harus diperhatikan tokoh-tokoh agama, maupun pengambil kebijakan perihal kehidupan keagamaan, dalam hal ini Kemenag.

“Kemenag harus bisa membaca kebutuhan mereka. Bila kita ingin masuk ke generasi ini, maka pengajaran agama yang diberikan harus sesuai dengan dunia mereka yang merupakan penduduk asli dunia digital,” Inayah menjelaskan.

Menurutnya, untuk dapat masuk kepada generasi Kiwari ini, Kemenag perlu melakukan pembaruan dalam pengajaran keagamaan. Selain memanfaatkan teknologi dengan membuat pembelajaran bersifat digital, Kemenag juga dapat membentuk komunitas-komunitas yang dapat menjadi titik persilangan antara agama dan bidang-bidang yang diminati oleh generasi Kiwari.

 

Zuri Hotel
Back to Home