Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 13:01 WIB | Sabtu, 11 Januari 2020

Iran Akhirnya Akui Pesawat Ukraina Tertembak Rudal

Aparat keamanan dan petugas Bulan Cabit Merah berada di lokasi kecelakaan pesawat milik Ukraine International Airline, di Teheran. (Foto: dari AFP)

TEHERAN, SATUHARAPAN.COM-Iran akhirnya mengumumkan pada hari Sabtu (11/1) bahwa militernya "secara tidak sengaja" menembak jatuh pesawat jet Ukraina yang jatuh awal pekan ini, menewaskan semua 176 penumpang, setelah pemerintah berulang kali membantah tuduhan pihak Barat bahwa mereka bertanggung jawab.

Pesawat itu ditembak jatuh Rabu (8/1) pagi, beberapa jam setelah Iran melancarkan serangan rudal balistik di dua pangkalan militer yang menampung pasukan Amerika Serikat di Irak, sebagai pembalasan atas pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani dalam serangan udara Amerika di Baghdad. Tidak ada yang terluka dalam serangan di pangkalan militer itu.

Sebuah pernyataan militer yang dibawa oleh media pemerintah mengatakan pesawat itu secara keliru dilihat sebagai "target bermusuhan" setelah berbalik ke arah "pusat militer sensitif" kata Pengawal Revolusi, dikutip Arab News. Militer berada pada "tingkat kesiapan tertinggi," katanya, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

"Dalam kondisi seperti itu, karena kesalahan manusia dan dalam cara yang tidak disengaja, penerbangan itu tertemak," kata militer. Mereka meminta maaf dan mengatakan akan meningkatkan sistemnya untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Ia juga mengatakan mereka yang bertanggung jawab atas serangan di pesawat akan dituntut.

Pengakuan Iran atas tanggung jawab kecelakaan itu kemungkinan akan mengobarkan sentimen publik terhadap pihak berwenang setelah rakyat Iran berkumpul di sekitar para pemimpin mereka setelah pembunuhan Soleimani. Jenderal itu dipandang sebagai ikon nasional, dan ratusan ribu warga Iran telah menghadiri prosesi pemakaman di seluruh negeri.

Tetapi mayoritas korban kecelakaan pesawat adalah warga Iran atau yang memiliki kewargaan ganda Iran-Kanada. Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa pekan setelah pihak berwenang membatalkan protes nasional yang dipicu oleh kenaikan harga bensin.

Pernyataan Presiden

Presiden Iran, Hassan Rouhani, menyalahkan tragedi itu atas "ancaman dan intimidasi" oleh Amerika Serikat setelah pembunuhan Soleimani. Dia menyatakan belasungkawa kepada keluarga para korban, dan dia menyerukan "penyelidikan penuh" dan penuntutan terhadap mereka yang bertanggung jawab.

"Hari yang menyedihkan," kata Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif dalam akun Tweetter. “Kesalahan manusia pada saat krisis yang disebabkan oleh petualangan AS menyebabkan bencana. Penyesalan mendalam kami, permintaan maaf dan belasungkawa kepada orang-orang kami, kepada keluarga semua korban, dan kepada negara-negara yang terkena dampak lainnya. "

Pesawat jet itu, Boeing 737, yang dioperasikan oleh Ukraine International Airlines, jatuh di pinggiran Teheran tak lama setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Imam Khomeini.

Iran telah membantah selama beberapa hari bahwa sebuah rudal menyebabkan kecelakaan itu. Tetapi kemudian AS dan Kanada, mengutip intelijen, mengatakan mereka yakin Iran menembak jatuh pesawat itu dengan rudal darat-ke-udara, sebuah kesimpulan yang didukung oleh video-video insiden itu.

Pesawat itu, dalam perjalanan ke ibu kota Ukraina, Kiev, mengangkut 167 penumpang dan sembilan anggota awak dari beberapa negara, termasuk 82 warga Iran, setidaknya 57 warga Kanada dan 11 warga Ukraina, menurut para pejabat. Pemerintah Kanada sebelumnya telah menurunkan angka korban dari negaranya dari 63 orang.

"Ini adalah langkah yang tepat bagi pemerintah Iran untuk mengakui tanggung jawab, dan itu memberi orang langkah menuju penutupan dengan pengakuan ini," kata Payman Parseyan, seorang Iran-Kanada terkemuka di Kanada barat yang kehilangan sejumlah teman dalam kecelakaan itu, dikutip AP. “Saya pikir investigasi akan mengungkapkannya apakah mereka mengakuinya atau tidak. Ini akan memberi mereka kesempatan untuk menyelamatkan muka."

Editor : Sabar Subekti

Zuri Hotel
Back to Home