Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 05:08 WIB | Sabtu, 01 Desember 2018

Jagalah Hati!

Menjaga hati itu penting karena semua perasaan—entah baik atau jahat—bersumber dari hati.
Hati Sebening Embun (foto: Stenly Pontolawokang)

SATUHARAPAN.COM – ”Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” (Luk. 21:34-35). Demikianlah nasihat Sang Guru kepada para murid-Nya yang dikumandangkan Gereja pada Minggu Adven I.

Yesus Orang Nazaret mengingatkan setiap pengikut-Nya untuk senantiasa siap menyambut kedatangan-Nya. Setiap Kristen harus menanti-Nya dalam suasana hidup penuh kasih dan kekudusan. Caranya: menjaga hati.

Menjaga hati itu penting karena semua perasaan—entah baik atau jahat—bersumber dari hati. Yesus menggunakan kata ”sarat”. Artinya: penuh dan berat. Berat karena terlalu banyak beban, yang membuat manusia akhirnya terjerat. Sang Guru menekankan tiga hal yang sering menyarati hati: pesta pora, kemabukan, dan kepentingan duniawi. Ketiga hal itu bisa membuat manusia lengah.

Persoalannya, ya di sini, lengah! Lengah karena terlalu sibuk. Lengah karena tak lagi memfokuskan diri pada yang terutama dalam hidup. Bagaimanapun, suasana pesta sering membuat orang tak lagi waspada. Tak hanya pesta, terlalu berfokus pada persoalan hidup sendiri bisa membuat kita terlena.

Bisa dinalar, jika Yesus melanjutkannya dengan nasihat: ”Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk. 21:36).

Namun, itu tidak berarti kita menunggu kedatangan Tuhan yang kedua itu dengan diam, pasif, tanpa aktivitas. Kita bisa menanti kedatangan Tuhan dengan menerapkan keadilan dan kebenaran dalam hidup (lih. Yer. 33:15). Aneh rasanya, merindukan kerajaan Tuhan datang, namun tak hidup sebagaimana warga kerajaan itu.

Dan keduanya—baik keadilan dan kebenaran—juga bersumber dari hati!

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home