Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Melki Pangaribuan 14:10 WIB | Senin, 20 Januari 2020

Jokowi Surati Paus Fransiskus Minta Kunjungi Indonesia

Ilustrasi. Paus Fransiskus menulis dokumen kepausan. (Foto: zenith.org)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Beberapa hari belakangan ini sebagian masyarakat Indonesia dihebohkan oleh informasi rencana kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia. Berita itu menyebar dalam berbagai sarana media sosial setelah Katib Aam PBNU Kyai Haji Yahya Cholil Staquf bertemu dengan Paus Fransiskus pada minggu lalu di Roma.

Seperti dilansir dari catholicnewsagency.com, hari Jumat (17/1), kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, Papua Nugini, dan Timor Timur dapat terjadi pada bulan September 2020.

Kabar kunjungan Paus Fransiskus ke berbagai negara biasanya memang disampaikan sedari jauh hari sebelumnya. Misalnya kunjungan Paus Fransiskus ke Jepang dan Thailand pada November lalu, sudah diberitakan oleh berbagai media internasional sejak dari awal tahun 2019.

Di Indonesia, kabar rencana kunjungan Paus Fransiskus itu disambut penuh harapan tapi juga masih simpang siur. Bagi rohaniwan gereja Katolik Indonesia kabar tersebut belum dapat dipastikan karena belum ada undangan resmi yang mesti disampaikan langsung oleh Pemerintah Indonesia kepada Vatikan.

Sekretaris Kuria Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Pastor Vincentius Adi Prasojo, Pr, mengatakan bahwa kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia semestinya diprakarsai oleh pemerintah Republik Indonesia dengan mengundang secara resmi Sri Paus.

“Selama belum ada kepastian, kita boleh berharap dan berdoa,” kata Romo Adi, sapaan akrabnya kepada satuharapan.com, hari Minggu (19/1) siang.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Teuku Faizasyah, mengatakan pemerintah Indonesia telah mendapatkan informasi atas keinginan Paus Fransiskus yang hendak mengunjungi Indonesia.

Menurut Teuku Faizasyah, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia juga telah melakukan diplomasi terkait hal itu dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengirimkan surat undangan permintaan kepada Paus Fransiskus untuk datang mengunjungi Indonesia.

“Pastinya ibu Menlu (Retno) sudah terinformasi atas indikasi keinginan Paus untuk berkunjung ke Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia. Untuk itu bapak Presiden (Joko Widodo) sudah mengirimkan surat undangan ke Paus,” kata Staf Ahli Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Kemenlu itu kepada satuharapan.com, hari Senin (20/1) siang.

Ketika dikonfirmasi perihal waktu pasti kunjungan Paus ke Indonesia pada bulan September 2020, Teuku Faizasyah belum dapat memastikan tepat waktunya. Sedangkan perihal persiapan Indonesia terkait rencana kunjungan itu akan baru dilakukan setelah Paus bersedia memenuhi undangan dari Presiden Republik Indonesia.

“Persiapan akan dilakukan segera setelah ada konfirmasi kesediaan Paus memenuhi undangan bapak Presiden,” kata Jubir Kemenlu itu.

Perdamaian dan Persaudaraan

Sebelumnya Yahya Cholil Staquf bertemu dengan Paus Fransiskus dalam rangka pertemuan Kelompok Inisiatif Iman Abrahamic (The Abrahamic Faiths Initiative /AFI), yang mengumpulkan para pemimpin Kristen, Muslim dan Yahudi untuk membahas promosi perdamaian dan persaudaraan.

Gus Yahya, sapaan akrabnya, mengatakan kepada satuharapan.com, hari Senin (20/1), bahwa memang benar beredar informasi oleh para jurnalis di Vatikan bahwa Paus ingin mengunjungi Indonesia meskipun Vatikan belum secara resmi mengumumkan perihal waktu kunjungan itu.

“Memang belum ada pernyataan dari Vatikan untuk waktu kunjungnya. Tapi saya katakan kami sangat berharap Paus berkunjung ke Indonesia,” kata mantan Juru Bicara Presiden keempat Abdurrahman Wahid (Gusdur) itu.

Gus Yahya menilai kehadiran Paus Fransiskus di Indonesia dapat menjadi sesuatu yang sangat penting secara internasional. Menurutnya, umat Katolik di seluruh dunia itu besar sekali dan kunjungan ke Indonesia pada waktu mendatang dapat dijadikan Paus sebagai salah satu momentum untuk perdamaian dunia.

“Kalau itu terjadi, sebagai pemimpin umat katolik seluruh dunia, kehadiran Paus harus dijadikan sebagai momentum yang kuat bagi kaumnya di seluruh dunia untuk perdamaian dan diharapkan nantinya akan ada pembicaraan dari elemen-elemen bangsa ini bersama Paus untuk membangun suatu momentum bersama di Indonesia. Ini untuk perdamaian dunia dan untuk kerja sama agama-agama bagi perdamaian dunia,” katanya.

Mengapa demikian? Gus Yahya menjelaskan bahwa sampai dengan hari ini konflik yang ada di seluruh dunia sebagian besar terkait agama. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengirimkan pasukan perdamaian sekitar di 34 titik dan 26 di antaranya konflik terkait agama.

“Ini seolah-olah agama itu menjadi bagian dari masalah, bukan cuma Islam, Kristen, Hindu, dan sebagainya. Maka sebagai umat beragama ini kita mau agama kita ini mau jadi masalah atau jadi jalan keluar? Kita harus tunjukkan bahwa agama yang kita imani jadi jalan keluar untuk kemaslahatan umat manusia. Sementara terkait ekonomi, hubungan dagang atau lainnya tidak ada artinya tanpa adanya kedamaian,” kata Direktur Urusan Agama Bayt Ar-Rahmah itu.

Antusias Warga Indonesia

Sejumlah masyarakat Indonesia menyambut dengan antusias dan penuh harapan terkait informasi rencana kunjungan Paus Fransiskus pada tahun ini.

“Semoga bapa paus datang ke Indonesia,” kata Wilos Manus dalam akun media sosial Facebook, hari Senin (20/1).

Demikian juga harapan besar disampaikan Danell Gunawan Putra yang mengatakan,”Tuhan Yesus, semoga bapa paus bisa berkunjung ke NTT, khususnya di Manggarai”.

“Semoga semuanya dapat berjalan dengan lancar. Amin,” harap Aurelia Kristana Seridam menanggapi berita rencana kunjungan Paus itu.

“Amin. Biarkan rencananya terjadi Tuhan,” kata Mestika Bellyan Humau Bella dalam suatu grup Facebook, hari Minggu (19/1).

Kunjungi Indonesia, Timor Timur, Papua Nugini

Indonesia merupakan rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia. 229 juta Muslim di negara itu merupakan lebih dari 12 persen dari populasi Muslim global. Hampir semua Muslim Indonesia adalah Sunni.

Ada 24 juta orang Kristen yang tinggal di Indonesia, 7 juta di antaranya adalah Katolik. Paus Santo Paulus VI mengunjungi negara itu pada tahun 1970, dan Paus Santo Yohanes Paulus II bepergian ke sana pada tahun 1989.

Timor Timur adalah negara kecil di pulau Timor. Ia memperoleh kemerdekaan dari Indonesia pada tahun 1999, setelah beberapa dekade konflik berdarah ketika wilayah tersebut bersaing untuk kedaulatan nasional.

Presiden kedua negara itu, Jose Manuel Ramos-Horta, berbagi Hadiah Nobel Perdamaian 1996 dengan Uskup Timor Leste Ximenes Bolo, atas upaya mereka untuk mencapai perdamaian dan mengakhiri pertempuran di negara itu. Uskup Belo sekarang menjadi misionaris di Mozambik.

Lebih dari 1 juta orang tinggal di Timor Timur; lebih dari 98 persen dari mereka adalah Katolik. Ini adalah salah satu dari sedikit negara mayoritas Katolik di Asia Tenggara. Paus St. Yohanes Paulus II mengunjungi Timor Timur pada tahun 1989.

Papua Nugini merupakan negara dengan hampir sembilan juta orang di bagian timur pulau New Guinea. Sisi lain pulau terdiri dari dua provinsi di Indonesia. Papua Nugini adalah negara dengan keanekaragaman budaya yang cukup besar, terdiri dari komunitas tradisional kecil dari berbagai kelompok, beberapa di antaranya tetap tidak dapat dihubungi oleh orang Barat.

Hampir semua warga Papua Nugini beragama Kristen, dan 26 persen penduduknya beragama Katolik. Paus St. Yohanes Paulus II pergi ke Papua Nugini pada tahun 1984.

Paus Fransiskus telah lama menyatakan minatnya untuk mengunjungi Indonesia, dan juga telah menyatakan minatnya untuk mengunjungi Irak pada tahun 2020.

 

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home