Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 16:28 WIB | Selasa, 11 Juni 2019

Kanada Larang Penggunaan Sedotan Plastik Tahun 2021

Perdana Menteri Justin Trudeau dan keluarga. (Foto: Globalnews.ca)

KANADA, SATUHARAPAN.COM – Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyatakan negara itu akan mulai melarang penggunaan plastik sekali pakai seperti sedotan, tas, atau peralatan makan, terhitung sejak awal 2021. Hal itu menjadi kontribusi Kanada dalam mengurangi produksi sampah nonorganik dan melindungi laut dunia.

Pengumuman PM Trudeau itu disampaikan lima bulan menjelang pemilu yang salah satu isu utamanya yaitu perubahan iklim dan polusi.

“Secara jujur saya katakan, sebagai orangtua, sulit untuk menjelaskan hal ini kepada anak-anak saya,” ujarnya.

“Bagaimana menjelaskan ikan hiu yang terdampar mati di banyak pantai di dunia, dan perut mereka penuh berisi sampah plastik,” kata PM Trudeau.

“Sebagai orangtua, saat kita membawa anak-anak ke pantai, kita sampai harus mencari tempat yang tidak dikotori sedotan plastik atau botol, dan yang lain,” ia menambahkan.

Tindakan yang dilakukan Kanada ini mengikuti jejak Parlemen Uni Eropa yang sebelumnya tahun ini menyetujui pelarangan penggunaan peralatan plastik sekali pakai.

Kanada juga baru-baru ini terlibat kisruh dengan Filipina dan Malaysia mengenai pengiriman sampah dari Kanada ke kedua negara tersebut.

Menurut pernyataan dari Pemerintah Kanada, hanya sekitar 10 persen penggunaan plastik di negara itu yang didaur ulang.

Dan kalau tidak ada perubahan peraturan apa pun, pada tahun 2030 setiap warga di sana akan membuang sekitar $UD 11 miliar (sekitar Rp 110 T) bahan plastik setiap tahunnya.

Menurut pernyataan pemerintah, Kanada menunda penerapan larangan sampai tahun 2021 guna memberikan kesempatan kepada dunia sains menentukan bahan plastik mana saja yang buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Reaksi Pengusaha

Dalam reaksinya, sejumlah pengusaha mengatakan bisnis makanan seperti restoran akan sangat terpengaruh dengan larangan penggunaan plastik sekali pakai.

“Restoran akan paling terkena dampaknya. Namun, biaya tambahan itu nantinya akan dibebankan ke konsumen juga,” kata Claudio Fracassi, pemilik restoran Soup Guy Plus di ibu kota Kanada Ottawa.

Restorannya mengunakan mangkok sup dari styrofoam dan peralatan makanan dari plastik dan sekarang berencana menggunakan produk dari kertas, yang katanya akan lebih mahal.

“Saya ingin menyelamatkan lingkungan. Saya melakukan daur ulang. Saya ingin lebih banyak produk nonplastik, dan hal ini harus dilakukan oleh dunia industri,” kata Fracassi.

Supermarket di Australia tahun lalu sudah melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai. Beberapa negara bagian termasuk Australia Selatan dan ACT (ibu kota Canberra) sedang mempertimbangkan pelarangan penggunaan peralatan plastik sekali pakai seperti sedotan dan sendok garpu. (Reuters/ABC)

 

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home