Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 23:34 WIB | Senin, 09 Oktober 2017

Kelompok Seni Rupa Kulturistik Akan Gelar Fenestram

Foto: Kulturistik

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Sebuah kelompok seni rupa yang menamakan diri Kulturistik akan menyelengarakan pameran seni rupa di Bentara Budaya Jakarta, pada 11-19 Oktober 2017 yang dikuratori oleh Efik Mulyadi.

Pembukaan pameran bertajuk "Fenestram" tersebut akan diresmikan oleh Kepala Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila Yudi Latif. Ceremonial pembukaan pameran pada Rabu (11/10) malam akan diisi performance art Rukun Makmur FDSK Universitas Mercubuana. 

Kelompok seni rupa Kulturistik mengartikan bahwa tema "Fenestram" merupakan sebuah jendela yang digunakan sebagai media pengamat pada persoalan tertentu, mengamati dan merenungkan dalam usaha merawat, meruwat atau mendoakan kehidupan sosial dengan berbagai cara yang memancing imaji estetik sekaligus menantang sudut pandang secara ke-Indonesiaan. 

"Sedangkan definisi kelompok seni rupa Kulturistik adalah mengasosiasikan gabungan dari perbedaan berbagai kultur perupanya dengan komitmen membangun kesadaran dalam berkesenian," kata mereka melalui keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (8/10).

Menuru mereka gejala perkembangan seni rupa Indonesia pada umumnya memberikan stimulasi bagi banyak perupa/seniman, termasuk juga dalam berkomunitas atau berkelompok. Ciri khas keguyuban dalam penyelenggaraan pameran merupakan karakteristik dari salah satu gejala praktik seni rupa Indonesia itu sendiri. 

Awal inisiatif terbentuknya kelompok seni rupa Kulturistik pada moment pertemuan “Pameran Besar Seni Rupa #4, 2016” yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Taman Budaya Manado Sulawesi Utara. 

"Kami berkumpul mewakili provinsi kami masing-masing dari seluruh Indonesia. Terjadi diskusi ringan, saling mendorong dan berupaya mewujudkan pameran kelompok seni rupa yang beranggotakan tujuh orang. Antara lain: Agustan (Sulawesi), Dias Prabu (Yogyakarta), Gilang Fradika (Jawa Tengah), Prayitno (Jawa Timur), Rahardi Handining (DKI Jakarta), Panca Satria (Palembang), dan Rohman (Bengkulu)," kata Kulturistik.

 

Back to Home