Google+
Loading...
MEDIA
Penulis: Reporter Satuharapan 11:07 WIB | Rabu, 26 Juni 2019

Kembangkan Kecakapan Digital untuk Lawan Konten Negatif

Ilustrasi. Stop ujaran kebencian. (Foto: Greenbarge Reporters)

MANADO, SATUHARAPAN.COM – Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan, mengajak generasi milenial Manado melawan konten-konten negatif di internet. Hal itu dapat dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran diri dan mengembangkan kecakapan digital.

“Kita harus melawan konten-konten negatif di Internet, cara termudah dan paling awal ialah dengan berjanji pada diri sendiri, tidak akan mengakses lagi situs atau konten negatif. Dengan demikian situs dan konten negatif tersebut akan mati dengan sendirinya. Selain itu pemerintah akan terus mengembangkan kecakapan digital anak muda di Indonesia dengan gerakan literasi digital,” kata Dirjen Aptika Semuel Abrijani Pangerapan, saat acara Perkemahan Kreatif Remaja Sinode GMIM, Kakas, Minahasa, Manado, Jumat (21/6/2019).

Di hadapan 7.000 peserta, Dirjen Semuel mengungkapkan ada tiga tahapan penguatan kecakapan digital, yaitu basic digital skill melalui literasi digital, lalu intermediate digital skill melalui Digital Talent Scholarship, dan terakhir advanced digital skill melalui Digital Leadership Academy.

Dirjen Aptika juga menyebutkan program literasi digital dari pemerintah yang dapat diikuti generasi milenial. “Ada Pandu Digital, Kreator Nongkrong, School of Influencer, dan Digital Literasi Hub. Ada juga portal website penunjang untuk melawan konten-konten negatif, seperti stophoax.id dan literasidigital.id,” ia menjelaskan.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Semuel menjelaskan tugas pemerintah untuk menangani konten negatif di internet sesuai amanat Pasal 40 Ayat 2, 2a, dan 2b UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“Dalam menjalankan tugasnya dalam penanganan konten negatif di internet, Kementerian Kominfo menjalin kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait dan juga dengan platform media sosial,” tutur Semuel.

Dirjen Aptika menekankan pentingnya kolaborasi pemangku kepentingan di Indonesia untuk meminimalisir penyebaran konten hoaks dengan peningkatan manajemen penanganan konten dan literasi digital.

“Saya berharap nantinya setiap instansi pemerintah (kementerian ataupun lembaga, Red) agar memiliki website dan media sosial resmi milik instansi dan pejabat instansi masing-masing sebagai GPR (Government Public Relations) agar dapat memberikan informasi yang baik kepada masyarakat,” katanya.

Acara diskusi santai literasi digital Manado itu terbagi atas dua sesi, pertama literasi digital dalam Perkemahan Kreatif Remaja Sinode GMIM 2019. Kedua, sore diskusi santai literasi digital bareng netizen Manado di What’s Up Cafe.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home