Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 01:00 WIB | Senin, 19 Juni 2017

Mengelola Perubahan

Rahasia perubahan adalah memfokuskan seluruh energi Anda bukan untuk memerangi hal lama, melainkan membangun hal baru (Socrates).
Bersiap menghadapi perubahan (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Hidup pada abad ini gampang-gampang susah. Gampang  karena perkembangan teknologi telah memungkinkan orang bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah, berkomunikasi jarak jauh dengan lancar, mencari informasi melalui dunia maya dengan sangat mudah.

Susah karena perubahan terjadi semakin cepat. Siapa tak mengikuti perubahan niscaya akan terkucil. Saat ini kemenangan bukan lagi pada bagi yang kuat, melainkan bagi yang cepat. Perubahan adalah keniscayaan. Prinsipnya: persiapkanlah diri terhadap apa pun perubahan yang mengejutkan. Dan bersiaplah. Titik. Jangan berharap dunia akan kembali seperti dahulu. 

Sebenarnya, Socrates yang hidup pada abad ke-5 sudah berprinsip demikian. Nah, jika sudah mempunyai sikap siap sedia, pastinya akan lebih nyaman jika apa dan bagaimananya perubahan dipahami.

Andai saja, Anda hari ini dipanggil atasan dan diberi jabatan dan tanggung jawab baru yang lebih besar. Tentu ini merupakan kejutan yang menyenangkan dan membanggakan, meskipun membawa tantangan.

Tetapi andai Anda adalah rekan dari teman yang dipromosikan itu, sementara Anda lebih senior dalam jabatan tersebut, bisa jadi situasi ini menjadi pukulan: Mana mungkin ini terjadi? Mengapa bukan saya? Anda tidak terima, protes, mencari semua penyebab kekecewaan di luar diri Anda, dan berharap kebijakan itu diubah dengan yang menguntungkan Anda.

Kenyataannya tidak. Apa pun yang Anda perjuangkan, keputusan sudah tetap, rekan Anda dinilai lebih tepat untuk menjabat tanggung jawab baru itu. Dari tidak percaya bahwa hal ini terjadi atas Anda, kemudian berontak, marah, lalu berusaha untuk mencegah perubahan, dan dalam beberapa waktu, nyatalah bahwa apa pun yang Anda upayakan, perubahan tetap berlangsung.  

Lalu muncul depresi—kekecewaan mendalam. Setelah itu datanglah apatisme, pasrah tidak berdaya: Ya sudahlah, kalau memang demikian, masa bodohlah, saya akan kerja apa adanya saja!

Namun, setelah beberapa waktu, Anda akan menyadari bahwa sikap apatisme hanya akan merugikan diri sendiri karena kinerja Anda semakin buruk, dan tentu atasan dan rekan kerja akan semakin kukuh menilai bahwa Anda tak pantas dipromosikan. Di sinilah terjadi titik balik: Anda mulai berusaha untuk berprestasi baik lagi, menyadari bahwa promosi atau tidak bukan tergantung atasan atau rekan melainkan tergantung diri sendiri.

Pada dasarnya siapa pun yang terkena perubahan, pasti  fase macam begini akan dilalui. Bedanya, pada orang yang satu, fase tidak percaya-berontak-marah-menolak perubahan-depresi-apatis lebih cepat dilewati; sementara pada orang lain lebih lambat.

Pada orang yang satu, jurang amarah dan pemberontakan tidak sedalam orang lain. Mengapa demikian? Karena ada kemampuan mengelola perubahan. Buat apa perubahan ditolak kalau toh ia tak akan dapat dicegah. Bersegeralah menyikapinya dengan menjawab tantangannya. Berlama-lama pada nadir penolakan dan apatisme cuma bikin susah, kurus, umur pendek.

Nyatanya semua perubahan sama saja: dampaknya  yang harus disiasati, bukan perubahannya yang ditolak. Orang yang cerdas mengelola perubahan, akan menyadari itu dan merekalah yang akan semakin mampu menghadapi perubahan yang semakin besar.

Suka tak suka perubahan akan selalu menemani hidup ini. Jika Anda cerdas, maka perubahan tak akan semata-mata merugikan, namun akan menguntungkan karena Anda juga berubah.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home