Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Martahan Lumban Gaol 11:37 WIB | Minggu, 09 Agustus 2015

Moto Kerukunan Agama di Papua, Satu Tungku Tiga Batu

Ketua Umum PWNU Papua Toni Wanggai, Rais Aam PCNU Ali Mukhtar, dan Ketua Umum PCNU Tolikara Ali Usman, foto bersama di Masjid Agung Jombang, Provinsi Jawa Timur. (Foto: Martahan Lumban Gaol)

JOMBANG, SATUHARAPAN.COM – Moto kerukunan antarumat beragama di Provinsi Papua adalah ‘Satu Tungku Tiga Batu’. Artinya, masyarakat hidup dari satu tungku yang sama, yakni Tanah Papua, tapi berdiri di atas tiga keyakinan yang berbeda, yaitu Kristen, Katolik, dan Islam.

“Dalam budaya membangun kerukunan antarumat beragama di Provinsi Papua, ada moto ‘Satu Tungku Tiga Batu’. Artinya, kita makan dari tungku yang sama, tapi berdiri di atas tiga batu yang berbeda, Kristen, Katolik, dan Islam,” ,” ucap Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Papua, Toni Wanggai, saat ditemui satuharapan.com, di Masjid Agung Jombang, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, Rabu (5/8).

Menurut dia, moto itu terbawa ke dalam struktur pemerintahan. Misalnya, dalam satu kabupaten, bupati beragama Islam, wakil bupati memeluk agam Kristen, sementara sekretaris daerahnya beragama Katolik. “Itu tradisi yang masih dibawa hingga saat ini,” kata Toni.

Dia menjelaskan, hubungan umat Kristen dan Islam di Tanah Papua sudah terbina sejak ratusan tahun lalu. Diawali pada masuknya agama Kristen di Papua, 5 Februari 1855, yang dibawa misionaris asal Jerman, Johann G Geissler dan Carl W Ottow.

Keduanya, Toni melanjutkan, langsung dibawa Sultan Tidore ke Pulau Mansinam, sebuah tempat yang belum tersentuh dakwah Islam. Berbeda dengan Pulau Raja Ampat dan Kota Sorong yang saat itu sudah tersebar agama Islam. “Ini menunjukkan ada kerja sama Islam dan Kristen sejak saat itu, ini harus kita jaga, kerja sama Kristen dan Islam sudah berlangsung ratusan tahun,” ucap dia.

Bahkan, menurut Toni, dalam era perkembangan agama yang bersifat transnasional untuk mempengaruhi nilai budaya dan agama seperti saat ini, Indonesia harus bisa menjaga dan membendung radikalisme hingga ke pelosok nusantara.

“Sejak tahun 2002, kami di Papua punya program bersama ‘Membangun Papua Tanah Damai’. Itu dideklariskan bersamaan dengan Hari Perkabaran Injil di Papua, injil membawa kedamaian, Islam membawa rahmatan lil’alamin,” tutur Ketua PWNU Provinsi Papua itu.

Editor : Bayu Probo