Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 05:06 WIB | Senin, 20 Agustus 2018

Musik untuk Merayakan Kebhinekaan dan Merawat Kebersamaan

Musik untuk Merayakan Kebhinekaan dan Merawat Kebersamaan
Penampilan duo Lintang-Awan (More on Mumbles) dalam FMR 2018 di pelataran SaRang Building #2, Minggu (19/8) sore. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Musik untuk Merayakan Kebhinekaan dan Merawat Kebersamaan
Grup musik Brightsize Yabes Yuniawan (bass), Endy Barqah (drum) berkolaborasi dengan Yonatan Pandelaki (keyboard elektrik) pada FMR 2018.
Musik untuk Merayakan Kebhinekaan dan Merawat Kebersamaan
Penampilan Sri Krishna (gitar akustik) bersama trio string dan Denny Dumbo (seruling).
Musik untuk Merayakan Kebhinekaan dan Merawat Kebersamaan
KPJ Malioboro dalam FMR 2018 di Kopi Nogo Jalan Godean-Sleman, Minggu (19/8) malam.
Musik untuk Merayakan Kebhinekaan dan Merawat Kebersamaan
Merekam dan berbagi untuk khalayak luas menggunakan peralatan sederhana pada FMR 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Dua tempat di Yogyakarta menjadi gigs perhelatan Festival Musik Rumah (FMR) 2018 yang digelar secara serentak dan maraton selama tiga hari di berbagai tempat di Indonesia dan manca negara.

SaRang building #2 yang berada di Dukuh Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan-Bantul, Minggu (19/8) sore melibatkan lima musisi-grup musik sementara malam harinya di Kopi Nogo empat grup musik terlibat dalam FMR 2018.

Di SaRang building #2 FMR 2018 dibuka dengan penampilan violinis muda yang tergabung dalam Power Princess Violin memainkan lagu-lagu anak-anak dan lagu kebangsaan. Duo Lintang dan Awan yang membentuk grup More on Mumbles membawakan lagu-lagu karya mereka diantaranya Diam itu Emas dan Haze.

Yonatan Pandelaki, musisi kelahiran Jakarta yang telah lama menetap di Kiel, Jerman mengawali penampilan solonya dengan sebuah karyanya berbahasa Jerman berjudul 'Angstfrei' (fearless). Lagu yang berkisah tentang perjalanan Yonatan saat memutuskan untuk total menjadi musisi sebagai jalan hidupnya.

"Keberangkatan saya ke Jerman untuk kuliah mengambil ilmu kedokteran. Dalam perjalanannya setelah beberapa tahun kuliah (di kedokteran), ternyata panggilan bermusik lebih kuat. Akhirnya saya memutuskan bermusik. Keluarga sempat shock pada awalnya. Namun setelah saya jalani hingga saya mampu membentuk grup musik secara profesional, mendirikan sekolah musik, dan membuat album rekaman akhirnya keluarga bisa menerima pilihan saya," kata Yonatan Pandelaki dalam perbincangan dengan satuharapan.com saat FMR 2018 di SaRang building #2, Minggu (19/8) sore. 

Yonatan sempat memperkenalkan lagu terbarunya yang belum direkam dan dimainkan bersama Endy Barqah dan Yabes Yuniawan yang tergabung dalam grup Brightsize. Pada lagu terakhir kolaborasi Brightsize-Yonatan Pandelaki membawakan sebuah lagu blues yang funky.

Selain sebagai musisi Yonatan juga menjadi produser untuk pemusik internasional serta sebagai composer untuk perusahaan-perusahaan produksi film di sekitar Kiel dan Hamburg. Sejak awal tahun ini Yonatan berkonsentrasi dengan projet barunya, Sons & Preachers dalam genre vintage-rock, funk-soul. Setelah merilis single ‘Just Watch’ awal tahun, rencananya Sons & Preachers akan merilis albumnya dalam waktu dekat.

Perhelatan FMR 2018 di titik SaRang building #2 ditutup dengan penampilan gitaris-musisi balad Sri 'Encik' Krishna bersama trio string (biola-cello) dan pemain perkusi Denny Dumbo memainkan empat lagu.

Dalam lagu Kidung Nusantara, Encik membawakan dalam komposisi mini akustik-orkestra dengan sentuhan etnik seruling Denny Dumbo. Sebuah lagu yang mengajak untuk turut merasakan luka-sakit-derita sebagai duka bersama: beja cilaka sandangane manungsa (keberuntungan-ketidakberuntungan adalah kenyataan yang dialami semua manusia). Dengan turut merasakan bersama harapannya bisa tumbuh simpati-empati untuk saling menjaga-merawat kebersamaan di atas nilai-nilai kemanusiaan.

Malam harinya perhelatan FMR 2018 di titik Kopi Nogo yang berada di Jalan Godean-Sleman menampilkan Donas membawakan dua lagu salah satunya "Pancasila Sakti" dilanjutkan dengan permainan solo gitar Pungki Purbowo dengan satu lagu "Kau Baru Saja Pergi" dilanjutkan dengan penampilan musisi muda Petruk Gandrung dengan tiga lagu. Satu lagu berjudul "Borobudur" akan dibawakan Petruk bersama Barasuara dalam International Indie Music Festival 2018 di Pekan Raya Indonesia yang digelar September tahun ini di Tangerang-Banten.

"Borobudur adalah mahakarya multi-dimensional yang telah diciptakan berabad-abad lalu, kita harus bangga-percaya bahwa kita adalah bangsa yang cerdas." jelas Petruk tentang karya lagunya berjudul Borobudur.

Setelah Kelompok Musik Jalanan (KPJ) Malioboro membawakan tiga lagu berjudul Belantara, Matahari, dan Geger, perhelatan FMR 2018 di titik Kopi Nogo ditutup dengan menyanyikan "Rayuan Pulau Kelapa" karya Ismail Maszuki bersama-sama pengunjung dan seluruh penampil di bawah penerangan lilin dalam sebuah pesan yang jelas: jangan berhenti mencintai Indonesia.

Memuja pulau, nan indah permai, Tanah Airku Indonesia

 
Back to Home