Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:58 WIB | Jumat, 05 Oktober 2018

Pakar Fisika Penemu "Partikel Tuhan" Meninggal pada Usia 96 Tahun

Leon M Lederman (1922-2018), foto pada bulan Mei 2007. (Foto: Voaindonesia.com)

AMERIKA SERIKAT, SATUHARAPAN.COM – Leon Lederman, pemenang Hadiah Nobel untuk Ilmu Fisika tahun 1988, meninggal dunia di rumah jompo, di Negara Bagian Idaho pada Rabu (3/10).

Lederman terkenal karena menciptakan istilah “Partikel Tuhan” yang merujuk pada penemuan apa yang disebut “Higgs Boson”, yang telah diketahui adanya sejak puluhan tahun tapi baru bisa dibuktikan pada tahun 2012. Lederman pernah menjadi kepala Fermi National Accelerator Lab di mana ia menemukan “Partikel Tuhan” itu.

Sebagian pakar fisika keberatan dengan penggunaan istilah “Partikel Tuhan” itu, karena dianggap terlalu sensasional, tapi istilah itu kini telah menjadi bagian dari istilah fisika. Higgs Boson adalah salah satu teori fisika partikel tentang bagaimana alam raya terbentuk.

Kata para pakar seluruhnya ada 12 jenis partikel, yang terdiri atas enam jenis quarks dan enam jenis leptons. Quarks bisa dipecah lagi menjadi proton dan neutron, sementara dalam kelompok lepton terdapat electron dan neutrino.

Tapi dalam teori tentang “model standar” alam raya itu, masih ada satu bagian yang belum diketahui, itulah yang kemudian diberi nama Higgs Boson.

Yang menyedihkan adalah Lederman terpaksa menjual Hadiah Nobelnya pada tahun 2015, untuk membayar ongkos perawatan penyakit demensia yang dideritanya. Amerika adalah satu-satunya negara maju dan kaya di dunia yang tidak menjamin layanan kesehatan bagi rakyatnya.

Hadiah Nobel yang dijual Lederman itu dibeli oleh seseorang yang tidak mau disebut namanya dengan harga US $765.000 atau (Rp11,620,080)

“Sangat menyedihkan,” kata istri Lederman, Ellen pada tahun 2015 kepada jaringan televisi NBC, tentang penjualan Hadiah Nobel itu.

“Sangat berat bagi saya, tapi ia senang dimana ia tinggal dan bisa bermain dengan kucing, anjing dan kuda. Ia tidak tampak cemas dan saya senang ia bisa hidup seperti itu, katanya. (Voaindonesia.com)

Editor : Sotyati

Back to Home