Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 03:51 WIB | Kamis, 05 September 2019

Pakistan: Memilih Perang Adalah Bodoh

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan. (Foto: Ist)

SATUHARAPAN.COM – Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan mengatakan bahwa memiih perang adalah boodoh.

Dia menyebutkan bahwa Pakistan dan India adalah negara yang memiliki senjata nuklir, dan meningkatnya ketegangan di antara keduanya dapat mengancam perdamaian dunia. Dan dia menegaskan bahwa Pakistan tidak akan pernah memulai konflik militer.

Dia, di Lahore, hari Senin (2/9) mengatakan bahwa kedua negara duduk di atas bom, dan yang memerlukan strategi bersama untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, pengangguran dan ancaman perubahan iklim dalam waktu dekat, daripada berbicara tentang perang.

“Segera setelah menjabat sebagai perdana menteri, saya memutuskan untuk meningkatkan hubungan bilateral Pakistan-India... Saya berbicara dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi dan menasihatinya bahwa masalah Kashmir yang telah berlangsung selama 72 tahun dapat diselesaikan melalui dialog,” katanya seperti dikutip situs berita dawn.com.

Dia berbicara dalam sesi penutup pada Konvensi Sikh Internasional. Dia mengatakan tentang berbagai peristiwa selama satu tahun terakhir dan melihat India meminta berbagai syarat seolah-olah sebagai kekuatan super dan berbicara dengan negara miskin. Menurut dia, perang tidak bisa menjadi solusi untuk masalah apa pun dan mereka yang mencari opsi ini (perang) adalah bodoh.

Pencabutan Status Otonomi

Kerusuhan telah melanda wilayah Kashmir, wilayah yang merupakan sengketa antara Pakistan dan India, setelah pencabutan status khusus wilayah itu. Lima warga sipil diberitakan tewas, termasuk seorang lelaki berusia 18 tahun.

Warga di seluruh Kashmir sekarang hidup di bawah kehadiran militer yang tinggi, dengan jaringan telepon atau akses internet yang diputus. Pemadaman komunikasi diberlakukan ketika pemerintah India menanggalkan wilayah otonomi Jammu-Kashmir pada 5 Agustus.

Protes sporadis terjadi di Kashmir meskipun dihadapi aparat keamanan yang merespons dengan serangan gas air mata.

Di bawah perubahan status tersebut, negara bagian Jammu dan Kashmir kehilangan otonomi, termasuk konstitusi dan benderanya. Ada peraturan khusus yang melarang orang luar membeli tanah. Hal itu dikhawatirkan mengubah Kashmir tidak lagi menjadi wilayah yang berpenduduk mayoritas Muslim di India.

Sementara itu, militer India mengatakan telah menahan dua tersangka anggota kelompok militan Lashkar-e-Taiba yang bermarkas di Pakistan ketika mereka berusaha menyeberang ke Kashmir India. Dan India menuding Pakistan mencoba infiltrasi setiap malam.

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home