Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 03:23 WIB | Sabtu, 19 Oktober 2019

Pameran Maket "Pasir Bawono Wukir" Awali JSSP 2019

Pameran Maket "Pasir Bawono Wukir" Awali JSSP 2019
Maket karya patung berjudul “Nostalgia Udara Kota” karya kelompok Cermin dalam pameran maket JSSP #3-2019 di Tiforti art space, 17-23 Oktober 2019. (Foto-foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Maket "Pasir Bawono Wukir" Awali JSSP 2019
Kepala Kundha Kabudayan Pemda DI Yogyakarta Aris Eko Nugroho (baju batik) didampingi Ketua API Suarsono saat mennyaksikan karya pada pembukaan pameran maket JSSP #3-2019, Kamis (17/10) malam.
Pameran Maket "Pasir Bawono Wukir" Awali JSSP 2019
Selaras (maket) – topeng wajah, kain, tali, besi, kayu, bambu – Kelompok Cahaya – 2019.
Pameran Maket "Pasir Bawono Wukir" Awali JSSP 2019
Kacamata (maket) – besi esser, fiber resin, cat akrilik - 19 cm x 25 cm x 12 cm – Win Dwi Laksono – 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Mengawali gelaran dua tahunan presentasi karya seni patung di ruang publik Jogja Street Sculpture Project (JSSP) 2019, selama 17-23 Oktober dihelat pameran maket sebagai prakegiatan JSSP 2019 di Tiforti art space. Pameran dibuka oleh Kepala Kundha Kabudayan Pemda DI Yogyakarta Aris Eko Nugroho, Kamis (17/10) malam.

Aris Eko Nugroho mengungkapkan bahwa JSSP merupakan bagian dari program Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Pemda DIY dalam rangka mengembangkan kebudayaan dengan menggandeng masyarakat dalam hal ini Asosiasi Pematung Indonesia (API) dan berharap kegiatan kebudayaan di Yogyakarta bisa terlaksana dengan tertata dan konsisten.

Dalam penyelenggaraan yang ketiga kalinya, JSSP tahun ini mengangkat tema “Pasir Bawono Wukir”. Dalam pameran maket kali ini 33 seniman-pematung ikut terlibat, baik individu maupun kelompok dari Indonesia dan Malaysia.

Kekuatan Gunung Merapi, Laut Selatan dan Keraton dalam konteks ruang memengaruhi dinamika alam dan sosial menjadi konsep tema JSSP 2019 dimana penekanan tafsir garis imajiner bukan hanya ruang namun juga pada imajinasi. Imajinasi sosial dalam konteks kekinian yang mewarnai perilaku masyarakat plural itulah yang disajikan dalam karya patung dan dipresentasikan di ruang publik.

“Peran pematung sangat penting untuk mewujudkan konsep karya yang terintegrasi dengan lingkungan. Pameran maket menjadi penting untuk menakar kreativitas para seniman, sejauh mana hasil patung aslinya nanti. Tema Pasir Bawono Wukir lumayan berat bagi pematung sebab harus merespon garis filosofis Yogyakarta dari selatan, tengah, dan utara. Dari 170-an anggota API terdapat 61 anggota yang mengikuti JSSP #3, baik secara individu maupun kolaborasi,” ujar Ketua API Suarsono dalam sambutan pembukaan pameran maket JSSP 2019.

Presentasi karya patung di ruang publik pada JSSP #3 2019 rencananya akan berlangsung 17 November hingga 10 Desember di tiga tempat berbeda.

Di Area Pantai Gumuk Pasir yang berada di Kabupaten Bantul akan melibatkan 5 kelompok pematung dan 3 seniman-pematung perorangan. Presentasi karya patung di Kota Yogyakarta di Titik Nol Km Yogyakarta melibatkan 4 kelompok pematung dan 11 seniman-pematung perorangan, sementara di Kabupaten Sleman yang mengambil tempat area Kinahrejo (Pertigaan Ngrangkah), Cangkringan-Sleman melibatkan 3 kelompok pematung dan 3 seniman-pematung perorangan.

Selain pameran karya di ruang publik, JSSP 2019 akan menyajikan rangkaian acara Seminar JSSP #3, workshop, bincang seniman, pertunjuksn di ruang publik, lomba foto instagram, lomba review JSSP #3 di blog, serta sculpture performing art.

Pameran maket prakegiatan JSSP #3-2019 berlangsung di Tiforti art space  Jalan Ipda Tut Harsono No. 40 Yogykarta, 17-23 Oktober 2019.

 

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home