Google+
Loading...
MEDIA
Penulis: Reporter Satuharapan 16:43 WIB | Minggu, 12 Mei 2019

Penelitian: Kecil, Dampak Media Sosial terhadap Kepuasan Hidup Remaja

Ilustrasi. Remaja asyik dengan gawainya. (Foto: shutterstck/Malwarebytes Labs)

LONDON, SATUHARAPAN.COM – Dampak penggunaan media sosial terhadap kepuasan hidup para remaja sangat terbatas, dan mungkin “kecil” saja, menurut sebuah penelitian yang melibatkan 12.000 remaja di Inggris.

Keluarga, teman-teman, dan kehidupan sekolah, memiliki dampak lebih besar terhadap kebahagiaan, menurut satu tim peneliti di Universitas Oxford.

Tim itu menyatakan, penelitian mereka lebih mendalam dan meyakinkan daripada penelitian-penelitian sebelumnya.

Mereka juga mendorong perusahaan media sosial untuk menerbitkan data bagaimana orang-orang menggunakan media sosial demi memahami lebih jauh dampak teknologi ini terhadap kehidupan orang muda.

Penelitian ini diterbitkan di jurnal PNAS yang merupakan upaya untuk menjawab apakah remaja yang menggunakan media sosial lebih dari rata-rata memiliki kepuasan hidup yang rendah, atau apakah remaja yang kepuasan hidupnya rendah terkait dengan penggunaan media sosial.

Penelitian sebelumnya yang melihat hubungan antara gawai, teknologi, dan kesehatan mental anak-anak, bertentangan dengan kesimpulan penelitian ini.

Dampak Remeh-temeh

Profesor Andrew Przybylski dan Amy Orben dari Oxford Internet Institute, Universitas Oxford, menyatakan penelitian seperti itu sering didasarkan pada bukti-bukti terbatas yang tak memberikan gambaran yang utuh.

Penelitian mereka menyimpulkan hubungan antara kepuasan hidup dan penggunaan media sosial ini bersifat “remeh-temeh”, terhitung hanya kurang dari 1 persen dampaknya terhadap kebahagiaan remaja dan bahwa dampak media sosial itu “tidak berjalan satu arah”.

Przybylski, direktur pada lembaga penelitian itu menyatakan, “99,75 persen dari kepuasan hidup seseorang tak ada hubungannya dengan penggunaan media social”.

Penelitian yang dilakukan antara tahun 2009 hingga 2017 itu bertanya kepada ribuan remaja berumur 10 hingga 15 tahun untuk menyatakan berapa waktu yang mereka habiskan untuk menggunakan media sosial di hari-hari sekolah yang normal.

Mereka juga diminta untuk memberi peringkat seberapa puas mereka dengan aspek kehidupan yang berbeda-beda.

Tim peneliti menemukan dampak lebih besar dari waktu yang dihabiskan di media sosial ini pada remaja perempuan, ketimbang pada remaja laki-laki.

Kurang dari separuh dari dampak ini penting secara statistik, menurut para peneliti.

“Orang tua tidak perlu khawatir tentang waktu yang dihabiskan di media sosial. Berpikir dengan cara seperti itu keliru,” kata Przybylski.

“Kita terpaku pada soal waktu, tapi kita perlu berhenti berpikir soal waktu yang dihabiskan di layar seperti ini.”

“Hasil penelitian kami tidak memperlihatkan bukti untuk khawatir,” katanya.

Para peneliti menyatakan kini penting untuk mengidentifikasi orang muda yang mengalami risiko lebih dari dampak tertentu media sosial, dan menemukan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebahagiaan mereka.

Tim peneliti ini berencana untuk bertemu segera dengan perusahaan media untuk mendiskusikan bagaimana mereka bisa bekerja sama untuk mempelajari bagaimana cara orang menggunakan aplikasi, tidak cuma berfokus pada waktu yang dihabiskan di media sosial.

Langkah Kecil Pertama

Amy Orben, yang juga bagian dari tim peneliti serta pengajar psikologi di Universitas Oxford, menyatakan industri harus menerbitkan data penggunaan media sosial serta mendukung riset independen.

“Akses merupakan kunci pemahaman berbagai peran yang dimainkan oleh media sosial dalam kehidupan orang muda,” katanya.

Dr Max Davie, petugas peningkatan kesehatan di Royal College of Paediatrics and Child Health, mendukung imbauan agar perusahaan media sosial bekerja sama dengan para ilmuwan dan menyebutkan penelitian ini merupakan “langkah kecil pertama”.

Namun, ia menyatakan ada hal-hal lain untuk dijelaskan, misalnya pengaruh waktu di depan layar terhadap kegiatan penting seperti tidur, olahraga, dan waktu bersama keluarga dan teman-teman.

“Kami mengusukan keluarga untuk mengikuti petunjuk yang kami terbitkan awal tahun ini dan terus menghindari penggunaan gawai satu jam sebelum tidur, mengingat adanya alasan-alasan lain selain kesehatan mental, yaitu agar anak mendapatkan tidur yang berkualitas,” kata Davie. (bbc.com)

 

Back to Home