Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 18:55 WIB | Minggu, 17 Maret 2019

Penembakan di Masjid Selandia Baru: Kisah Kepahlawanan Korban

Farid Ahmed, 59 tahun, salah seorang korban selamat dalam peristiwa penembakan di masjid di Kota Christchurch di Selandia Baru, Jumat (15/3/2019). (Foto: The Epoch Times)

CHRISTCHURCH, SATUHARAPAN.COM – Kisah-kisah kepahlawanan penuh keberanian bermunculan seusai serangan teror di dua masjid di Christchurch di Selandia Baru.

Sebanyak 50 orang meninggal dunia dalam penembakan di dua masjid di Christchurh, Selandia Baru, pada Jumat (15/3/2019).

Serangan itu terjadi saat momen salat Jumat. Selain puluhan orang yang meninggal, 50 lain terluka dan dua orang kini dalam kondisi kritis.

Polisi telah mengamankan pelaku serangan. Pria Australia atas nama Brenton Tarrant, 28, yang menyiarkan aksi penembakan tersebut melalui Facebook, telah hadir di persidangan pada Sabtu (16/3).

Dia dikembalikan ke tahanan tanpa pembelaan dan dijadwalkan kembali hadir di persidangan pada 5 April mendatang.

Tetapi di balik tragedi itu, bermunculan kisah-kisah kepahlawanan penuh keberanian seusai serangan teror di dua masjid di Christchurch di Selandia Baru.

Berusaha Menghentikan Sang Penembak

Dua dari enam orang berkebangsaan Pakistan yang meninggal adalah Naeem Rashid, 50 tahun, dan putranya, Talha, 21 tahun. Mereka tinggal di Selandia Baru sejak 2010.

Rashid disebut sebagai pahlawan di media sosial karena terlihat berusaha menghentikan sang penembak di Masjid Al Noor, sebelum tewas ditembak.

Saudaranya, Khursheed Alam yang tinggal di Kota Abbottabad di utara Pakistan, mengatakan kepada wartawan BBC Secunder Kermani, dia sangat bangga atas keberanian yang dilakukan adiknya.

“Dia sangat berani,” kata Alam. “Saya mendengar dari orang-orang di sana...ada beberapa saksi yang mengatakan dia menyelamatkan beberapa orang dengan mencoba menghentikan pelakunya.”

Dia menambahkan, kendati saudaranya dielu-elukan sebagai pahlawan, peristiwa tersebut tetaplah tragedi bagi keluarganya.

“Itu menjadi kebanggaan kami, namun itu juga merupakan tragedi. Rasanya seperti kehilangan anggota tubuh.”

Dia juga mengatakan sangat marah atas apa yang terjadi pada adiknya.

“Teroris tidak punya agama,” katanya dan mengatakan bahwa “orang-orang gila” harus dihentikan.

Pada sisi lain, Ali Adeeba mengatakan ayahnya adalah pahlawan karena mengadang peluru demi menyelamatkannya. Saat peristiwa penembakan terjadi, Ali tengah salat Jumat bersama kakak dan ayahnya di Masjid Al Noor.

“Awalnya saya mendengar suara keras, saya pikir itu kembang api,” kata Ali, dengan suara bergetar.

“Kemudian saya melihat orang-orang berlari. Saya lihat seseorang memegang senapan semi otomatis dan menembaki orang-orang. Saya pun ikut berlari, saya mencari ayah saya,” cerita Ali.

“Saya berlindung di bagian kanan masjid bersama orang-orang lainnya. Dia terus-menerus menembak. Kemudian dia berhenti. Saya pikir, keadaan sudah aman, lalu saya mencoba menelepon 111 (polisi) tapi saya mendengar dia kembali. Saya kembali bersembunyi dan dia menembaki orang-orang di atas saya,” papar Ali, dia terisak.

“Saya tidak bisa melakukan apa-apa, saya hanya terbaring diam di sana. Saya mendengar dia menembak hingga empat kali, kemudian dia pergi,” ujar Ali.

Dia menambahkan, ayahnya kini dalam kondisi koma di ruang perawatan intensif di rumah sakit. “Dia mengadang peluru untuk menyelamatkan saya,” katanya.

Satu Orang WNI Meninggal Dunia

Peristiwa kepahlawanan serupa juga terjadi di Masjid Linwood.

Abdul Aziz mengatakan dia lari ke arah pelaku di luar masjid dan melempar mesin EDC (alat pembayaran menggunakan kartu kredit/debit) kepada pelaku penembakan.

Setelah itu, sang pelaku menjatuhkan salah satu senjatanya dan mengambil lebih banyak senjata dari mobilnya. Aziz mengambil senjata yang jatuh lalu melemparkannya ke arah pelaku dan menghantam jendela mobilnya hingga pecah.

Pelaku kemudian kabur dan ditangkap tidak lama setelahnya.

Pihak kepolisian di Selandia Baru kini berpacu dengan waktu mengidentifikasi korban penembakan yang meninggal dunia. Mereka telah menginformasikan daftar korban meninggal kepada keluarga, namun daftar tersebut tidak disebarkan ke publik.

Adapun beberapa korban yang meninggal dalam penembakan tersebut adalah:

Sayyad Milne, 14, yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola.

Daoud Nabi, 71, yang dipercaya menghadang pelaku untuk menyelamatkan orang lain di masjid.

Khaled Mustafa, pengungsi Suriah.

Hosne Ara, 42, yang tewas saat mencari suaminya yang menggunakan kursi roda - suaminya selamat.

Selain itu, beberapa warga negara Indonesia (WNI) juga turut menjadi korban. Dilaporkan terdapat sekitar tujuh WNI yang berada di kedua masjid saat terjadi peristiwa tersebut. Empat orang dinyatakan selamat, dua orang luka yang saat ini masih dalam perawatan di rumah sakit, dan satu orang meninggal dunia atas nama Muhammad Abdul Hamid alias Lilik Abdul Hamid.

Berdasarkan data Kemlu RI, terdapat 331 WNI di Christchurch, termasuk 134 mahasiswa. (bbc.com)

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home