Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Ignatius Dwiana 00:09 WIB | Selasa, 10 Oktober 2017

Perempuan Barisan Terdepan Perdamaian di Poso

Lian Gogali. (Foto: Ignatius Dwiana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Perempuan dinilai merupakan barisan terdepan perdamaian di Poso, Sulawesi Tengah. Daerah ini disulut konflik sejak 1968 dengan pelbagai isu berbeda. Sempat terjadi pertikaian antar agama dan itu berakhir pada 2005. Setelah itu pecah konflik sumber daya alam dan isu terorisme.

Aktivis perempuan dan perdamaian dari Poso, Lian Gogali menyebutkan menemukan ratusan cerita para perempuan yang saling menolong di saat konflik Poso. Mereka menggunakan pasar sebagai ruang bertemu pertama kali saat konflik antar komunitas. Tetapi setelah konflik mulai mereda, para perempuan hendak dikembalikan ke rumah.

"Menurut saya ini mengabaikan kekuatan perempuan sebagai pemandu perdamaian. Mereka mentransformasi diri dari korban menjadi penyintas. Kemudian mereka menjadi agen-agen perubahan dalam desa dan agen-agen perdamaian," katanya kepada satuharapan.com usai acara 'The Power of Mama-Mama!' di Jakarta, Jumat (6/10).

Lian Gogali berpandangan perdamaian di Poso bukan hanya soal orang Kristen dan orang Islam saling berjabat tangan. Tetapi menjamin perdamaian dan keadilan yang berkelanjutan. Juga mengembalikan posisi perempuan.

"Kalau bicara perdamaian itu bisa dimulai di meja makan, mengembalikan fungsi desa, tanaman, dan alam untuk menjadi berkat bagi masyarakat. Perempuan secara langsung terlibat dengan masa depan sehingga menjamin perdamaian dan keadilan yang berkelanjutan. Tidak hanya soal orang Kristen dan orang Islam saling berjabat tangan," kata dia. 

Menurut Lian Gogali yang juga pendiri Sekolah Perempuan dan Institut Mosintuwu untuk perempuan lintas agama di Kabupaten Poso itu, perempuan adalah orang yang paling sensitif. Perempuan tahu siapa yang sakit, siapa yang baru melahirkan, siapa yang tidak masuk sekolah. Dia sangat detail.

"Dan karena itu menurut saya perempuan tidak bisa dilepaskan dari pengambilan keputusan," kata dia.

Lian Gogali menambahkan bahwa perempuan mempunyai kekuatan tersendiri. Mereka dianggap lebih bijaksana dan memikirkan kehidupan. Hal ini terdapat dalam sejarah Poso sebelum masuknya agama.

 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Back to Home