Loading...
DUNIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 06:20 WIB | Senin, 03 Maret 2014

Perempuan Saudi Tuntut Akhiri Otoritas Mutlak Laki-laki

Aktivis Perempuan Saudi Arabia menuntut untuk diberikan hak yang sama layaknya laki-laki di negara itu. (Foto: aljazeera.com)

 

SAUDI ARABIA, SATUHARAPAN.COM – Aktivis perempuan Saudi telah mengajukan petisi ke dewan konsultatif negara tersebut untuk kembali meminta membatasi “otoritas mutlak” laki-laki atas perempuan di kerajaan Saudi.

Aktivis Aziza Yousef mengatakan kepada kantor berita AFP, Minggu (2/3) bahwa para aktifis telah mengajukan petisi kepada Dewan Shura (konsultatif) pada kesempatan Hari Perempuan Internasional dengan menuntut diakhirinya kekuasaan mutlak laki-laki atas perempuan.

Mereka menuntut langkah-langkah untuk melindungi hak-hak perempuan.

Arab Saudi memberlakukan interpretasi yang ketat dari hukum Islam yang melarang perempuan untuk bekerja atau bepergian tanpa ijin dari wali laki-laki mereka.

Dengan hukum tersebut menjadikan Arab Saudi sebagai negara satu-satunya di dunia yang melarang perempuan mengemudi kendaraan dan seorang wanita tidak bisa memperoleh kartu identitas tanpa persetujuan walinya.

“Hukum di kerajaan Saudi Arabia tersebut dijalankan tidak berdasarkan agama saja,” kata Yousef.

Petisi yang ditandatangani oleh 10 aktivis perempuan ini juga menyerukan untuk mengizinkan wanita mengemudi.

Pada bulan Oktober lalu, tiga anggota perempuan dari Dewan Shura diberi rekomendasi bahwa perempuan diberi hak untuk mengemudi. Namun, 150 anggota majelis yang didominasi laki-laki menolak proposal tersebut.

“Perempuan di Arab harus mendapatkan ijin dari wali laki-laki untuk melakukan operasi tertentu dan untuk meninggalkan kampus selama jam belajar.”

Dia mengutip sebuah kasus yang terjadi baru-baru ini di mana siswa hamil harus melahirkan di kampus setelah satu-satunya perempuan yang berada di universitas di Riyadh ditolak aksesnya untuk pergi ke paramedis.

Selain itu, ada pula kasus seorang mahasiswa meninggal pada Februari setelah paramedis dicegah masuk ke kampus karena mereka tidak ditemani  wali laki-laki yang merupakan suatu keharusan dalam aturan yang ketat dalam kerajaan Muslim.

Dewan Syura ditunjuk oleh raja dan memberikan pertimbangan kepada raja namun mereka tidak bisa mengatur raja. (aljazeera.com)

 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home