Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Francisca Christy Rosana 13:20 WIB | Rabu, 12 Agustus 2015

Peringkat Ekonomi Dunia Bisa Digenggam dengan Pendidikan Tinggi

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek), Prof Intan Ahmad dalam seminar nasional bertajuk ‘Membangun Indonesia yang Berkelanjutan’ di Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu (12/8). (Foto: Francisca Christy Rosana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi, Prof Intan Ahmad, mengatakan, menggenggam peringkat ekonomi dunia dapat dicapai dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), salah satunya dengan pendidikan tinggi.

“Indonesia sekarang ini peringkat 16 terbesar di dunia untuk sektor ekonomi. Tapi kita tidak bisa mencapai 10 besar ekonomi dunia bila kita tak mencapai pengembangan sumber daya manusianya,” ujar Intan dalam seminar nasional bertajuk ‘Membangun Indonesia yang Berkelanjutan’ di Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu (12/8).

Saat ini, menurutnya, kebiasaan warga di seluruh negara masih percaya pada orang yang pendidikannya tinggi. Orang-orang di negara maju seperti di Eropa sangat dipercaya karena hampir 40 persen tenaga kerjanya merupakan lulusan bangku pendidikan tinggi. Jika diselisik, Indonesia lebih seharusnya lebih kuat menerjang persoalan ekonomi global karena memiliki sumber daya serta kekayaan alam yang berlimpah.

Indonesia terkenal dengan lahan kelapa sawit terluas dengan produk terbaik. Namun dalam pengelolaannya, Indonesia ternyata masih kalah dengan Malaysia. Hal ini terjadi karena kurangnya eksplorasi terhadap sumber daya yang tersedia.  

“Selain kelapa sawit, ada pula batu bara. Ada upaya batu bara dijadikan penambah energi nasional. Tapi kalau kita gunakan banyak batu bara, kita takut terjadi pencemaran lingkungan. Gimana caranya kita capai clean energi? Ini bisa dipecahkan dengan ilmu pengetahuan,” ujar dia.

 Intan berharap, baik pemerintah maupun masyarakat awam lebih peduli terhadap jenjang pendidikan. Pendidikan tinggi, kata dia, dapat memberi pencerahan kepada masyarakat.

“Sarjana lulusan tak hanya bertanggungjawab pada pribadi dan keluarga, tapi juga masyarakat. Negara lain maju karena memberi perhatian yang baik terhadap pendidikan tinggi. Korea tahun 50 yang lalu mirip Indonesia. tapi sekarang kita ketinggalan jauh. Ini data empiris,” ujar dia.

 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Back to Home