Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Francisca Christy Rosana 11:43 WIB | Rabu, 12 Agustus 2015

Tenaga Kerja Lulusan Pendidikan Tinggi Baru 7 Persen

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek), Prof Intan Ahmad dalam seminar nasional bertajuk ‘Membangun Indonesia yang Berkelanjutan’ di Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu (12/8). (Foto: Francisca Christy Rosana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek), Prof Intan Ahmad, mengatakan persentase tenaga kerja di Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi masih sangat kecil. Dari data yang dipaparkannya, tenaga kerja Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi baru sebesar 7,2 persen.

“Itu artinya, per 1 juta penduduk hanya 544 jiwa yang mengenyam pendidikan tinggi. Angka ini membuat kita sadar, harus kerja lebih tinggi,” ujar Intan dalam seminar nasional bertajuk "Membangun Indonesia yang Berkelanjutan" di Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu (12/8).

Angka tenaga kerja Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi ini dinilai jauh tertinggal di bawah angka negara maju seperti negara-negara di Eropa yang telah mencapai angka lebih dari 40 persen dari jumlah total penduduk yang bekerja. Sementara itu di Indonesia, tenaga kerja sebagian besar merupakan lulusan pendidikan dasar, yakni sebesar 70,4 persen, sedangkan sisanya yakni 22,4 persen merupakan lulusan pendidikan di jenjang menengah.

Sumber daya manusia dengan jenjang pendidikan tinggi menurut Intan seharusnya menjadi investasi jangka panjang bagi negara.  

“Pada 2010 – 2035, jumlah populasi orang Indonesia yang akan menjadi pekerja, sangat tinggi. Angka ini sebenarnya bonus, asalkan dilengkapi dengan pengalaman dan pengetahuan yang baik dan akan menjadi potensi yang luar biasa. Kalau kita lihat pendidikan dan pelatihan adalah poin utama untuk menghasilkan human capital yang siap menunjang pembangunan ekonomi,” ujar dia.

Ilmu pengetahuan menurut hematnya dianggap dapat mengurai berbagai persoalan yang dihadapi bangsa. Namun, sayangnya, ketersediaan sarana-prasarana yang disediakan pemerintah untuk fasilitas pendidikan pun masih kurang. Padahal, ujar Intan, pendidikan memiliki peranan yang besar untuk membangun bangsa.

“Iptek kita ketinggalan karena dana yang disediakan untuk riset dan iptek hanya 0,09 persen. Padahal, kalau bicara pasar, di Indonesia ini terdapat penduduk sebanyak 250 juta jiwa. Itu potensi pasar yang luar biasa. Ini saatnya pemerintah mempersiapkan kita untuk menjadi lebih kompetitif agar kita bisa berkompetisi dengan orang luar negeri,” ujar Intan. 

Editor : Sotyati

Back to Home