Google+
Loading...
SMASH AYUB
Penulis: Ayub Yahya 22:33 WIB | Senin, 26 Maret 2018

Pindah Agama

Foto: Istimewa

SATUHARAPAN.COM- Ada banyak alasan orang pindah agama, antara lain: Menemukan pencerahan di agama baru; Sakit hati atau kecewa dengan (pemimpin atau penganut) agama lama;  Ingin karier lebih mulus;  Supaya bisa diterima di lingkungan baru yang "mayoritas";  Sudah tidak laku "jualan" di agama lama, jadi perlu pasar (baca: agama) baru (psstt: sentimen keagamaan itu ‘kan selalu laku dijual); Demi "cinta"; Dsb. (Silakan ditambah).

Mana yang karena “begini”, dan mana yang karena “begitu”, dari "buahnyalah" kita akan tahu. Seseorang yang pindah agama betul-betul karena mendapat "pencerahan" biasanya sikap hidupnya akan berubah lebih baik (entah misalnya, lebih sayang kepada keluarga, lebih sabar dan dermawan terhadap orang lain; entah juga hidupnya lebih bahagia sejahtera, dan itu tercermin dari perilakunya). 

Kalau ada orang yang sesudah pindah agama hidupnya sama saja, tidak ada perubahan apa-apa, jangan-jangan ia bukan orang yang “serius” dengan agama. Dan yang celaka kalau sesudah pindah agama malah jadi lebih buruk (misalnya jadi pembohong atau provokator penabur kebencian),  itu artinya ia bukan mengalami pencerahan, tapi penggelapan; bukan mendapat hidayah, tapi tertimpa musibah.

Namun, terlepas buahnya bagaimana…

Orang pindah agama itu sebetulnya bukan "sesuatu yang luar biasa". Dalam arti tidak membuat agama barunya menjadi lebih keren, tidak juga membuat agama lamanya menjadi kurang keren. Jadi sebetulnya tidak perlulah membangga-banggakan orang lain yang pindah ke agama kita.  Buat apa juga‘kan?!  Ya, kecuali kalau memang tidak ada hal lain yang bisa dibanggakan dari agama kita. 

 

Editor: Tjhia Yen Nie

 
Back to Home