Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 22:59 WIB | Jumat, 17 Februari 2017

PM Israel Kunjungi Singapura Hari Minggu Ini

Ilustrasi: PM Israel Benjamin Netanyahu saat menerima wartawan dari Indonesia (Foto: Ist)

SINGAPURA, SATUHARAPAN.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akan  mengunjungi Singapura akhir pekan ini,  kunjungan resmi pertama kepala negara Israel ke negara kota itu sejak pertengahan 1980-an.

Menurut jadwal yang diumumkan Januari lalu, Netanyahu akan tiba di Singapura pada 19 Februari untuk kunjungan selama dua hari. Setelah itu ia akan bertolak ke Australia.

Kendati terdapat rentang waktu yang lama sejak pertama kali PM Israel mengunjungi negara kota ini, hubungan Singapura dengan Israel sudah berjalan panjang dan mendalam.

Tak lama setelah Singapura menyatakan kemerdekaannya dari Malaysia pada pertengahan 1960-an, mereka meminta bantuan Israel dalam membangun militernya, setelah ditolak oleh beberapa negara lain, termasuk negara eks penjajahnya, Inggris.

Untuk menjaga kehadiran tentara Israel di negara-kota itu tetap rahasia, Singapura menyebut mereka orang-orang Meksiko.

Ada juga sejarah panjang hubungan bisnis, tidak hanya di industri pertahanan, tetapi di seluruh teknologi, surya dan segmen air.

Baru-baru ini, para pejabat Israel melakukan perjalanan ke Singapura untuk mempelajari sistem perumahan publik negara kota itu untuk mendapatkan ide tentang bagaimana membantu meringankan kekurangan perumahan di Israel. Ironisnya, pada tahun 1960, Singapura membangun sistem sendiri setelah mempelajarinya dari Israel.

Kunjungan Netanyahu ini merupakan kunjungan balasan setelah Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong tahun lalu mengunjungi Israel sebagai bagian dari tur Timur Tengah.

Pada tahun 1986, Presiden Israel saat itu, Chaim Herzog menjadi kepala negara Israel  pertama yang mengunjungi Singapura. Tapi pengumuman oleh  kedutaan Israel di Singapura tentang rencana kunjungan sekitar sebulan sebelumnya, telah memicu protes di seluruh negara-negara mayoritas Muslim seperti Malaysia, Indonesia dan Brunai. Muncul kemarahan diplomatik dan tekanan untuk membatalkan kunjungan kala itu.

 

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home