Loading...
DUNIA
Penulis: Eben Ezer Siadari 13:05 WIB | Minggu, 14 Desember 2014

Restoran Jepang Hindari Membuat Galau Jomblo di Malam Natal

Kebahagiaan mereka yang berpasangan berpotensi mengingatkan para jomblo akan kesendirian mereka.
Pengumuman yang melarang pelanggan berpasangan masuk, khusus pada 24 Desember malam (Foto: The Telegraph)

TOKYO, SATUHARAPAN.COM - Sebuah restoran di Tokyo mengumumkan tidak akan melayani pelanggan yang berpasangan di malam Natal karena kebahagiaan mereka berpotensi mengingatkan para jomblo akan kesendirian mereka.

Pemilik PiaPia, restoran dengan hidangan utama pasta di kawasan Hachioji di sebelah barat Tokyo, menempelkan pengumuman berisi tulisan tangan di jendela restoran yang berbunyi, "Kami tidak memperbolehkan masuk semua pasangan pada 24 Desember tanpa kecuali!"

Pesan itu disertai dengan gambar pria berwarna biru dan perempuan berwarna merah dengan gambar hati di tengah mereka, lalu tanda silang merah besar melintang di gambar pria dan perempuan itu.

Selain akan membuat para jomblo iri, pesan tersebut juga menyatakan bahwa kehadiran para pasangan akan membuat cemburu para karyawan yang harus bekerja di malam Natal. Pasangan romantis di malam Natal, "akan menyebabkan trauma emosi yang menyakitkan pada anggota staf kami."

Takashi Kyozuka, karyawan PiaPia, kepada The Telegraph yang melansir berita ini Jumat (12/12), mengatakan, pengumuman itu ditempelkan di sana karena pelanggan jomblo akan merasa sedih ketika mereka datang sendiri.

Pada awalnya usul untuk melarang para pasangan masuk ke restoran tersebut dianggap lelucon. Namun, "kemudian kami menyadari bahwa saran itu betul. Jika Anda jomblo di malam Natal, biasanya sangat mudah merasa sedih," kata dia.

Sebetulnya Natal tidak dirayakan secara khusus di Jepang dan hari Natal adalah hari kerja sampai nanti pada perayaan Tahun Baru. Namun beberapa tahun terakhir, malam Natal telah menjadi momen penting bagi kaum muda dan dimanfaatkan untuk saling bertukar hadiah serta makan bersama, kendati tidak memahami signifikansi makna relijius hari itu.

Sesungguhnya Jepang dewasa ini mengalami krisis pasangan. Orang-orang umumnya menikah terlambat dan kemudian memilih memiliki sedikit anak, yang membuat tingkat kelahiran anak di negara ini terus menurun, sementara pada saat yang sama, jumlah orang tua bertambah, karena semakin manjurnya dukungan medis.

Penduduk Jepang dewasa ini mencapai 126,6 juta jiwa, 65 persen diantaranya berusia 65 tahun, yang berarti naik 1,12 juta dibanding tahun 2012. Tingkat kelahiran bayi 1,14 per satu perempuan, yang berarti tidak akan cukup untuk mempertahankan jumlah populasi di tingkat yang sekarang.

Jika tren ini terus berlanjut, lembaga kependudukan Jepang memperkirakan penduduk Jepang hanya berjumlah 49,59 juta pada tahun 2100, penurunan 61 persen dibandingkan dengan angka tahun 2010.

Kendati demikian, para komentator di sosmed sebagian besar memberi dukungan dan memuji sikap restoran tersebut.

"Langkah bagus bos! Saya mendukung Anda," demikian salah satu kicauan di twitter.

"Saya mengharapkan semua restoran tidak menerima pelanggan berpasangan di malam Natal," kicau pengguna twitter lainnya.

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home