Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:37 WIB | Rabu, 09 Agustus 2017

Satelit Pemantau Polusi Udara di Seluruh Dunia

Ilustrasi. Satelit prekursor Copernicus Sentinel-5 yang dipamerkan di Airbus Defense and Space di Stevenage, Inggris, sebelum dikemas dan dikirim ke lokasi peluncuran Plesetsk.

PARIS, SATUHARAPAN.COM – Tiap detik jutaan ton berbagai gas naik dari permukaan bumi ke​ atmosfir. Banyak dari gas-gas itu adalah buatan manusia dan sangat merusak, dengan menimbulkan polusi dan meningkatkan suhu bumi.

Badan antariksa Eropa (ESA) sedang membangun jaringan satelit, untuk membantu para pakar menciptakan peta global paling baru yang menunjukkan kesehatan planit kita ini.

Peluncuran satelit radar segala cuaca, yang diberi nama Sentinel-1A bulan April tahun 2014 menandai dimulainya Proyek Copernicus, program observasi bumi paling besar yang didanai oleh Komisi Eropa dan Badan Antariksa Eropa ESA.

Sejak itu tiga satelit lainnya telah diluncurkan, dan masing-masing memberikan data lingkungan dan data keamanan pada tingkat global.

Satelit Sentinel 5P, yang akan diluncurkan bulan September, akan membawa sebuah spectrometer canggih yang disebut Tropomi, yang bisa memantau gas-gas yang menimbulkan polusi seperti gas metana, formalin, dioksida nitrogen, dioksida belerang dan sekaligus mengukur lapisan ozon, yang semuanya berhubungan dengan perubahan iklim.

Ralph Corey dari perusahaan Airbus yang ikut membuat satelit itu mengatakan, “Kami telah membuat banyak satelit untuk memantau bumi dengan berbagai cara, tapi satelit yang satu ini akan memberikan sumbangan bagi kehidupan kita sehari-hari. Satelit ini akan memantau tingkat polusi, dan dampaknya bagi banyak kehidupan di bumi, dan akan memberikan data-data penting untuk menyusun kebijakan selanjutnya.”

Satelit itu akan mengorbit bumi dengan melintasi kedua kutubnya pada ketinggian 824 km. Tiap detik, kamera satelit itu akan memotret kawasan di bumi sepanjang tujuh km, dan selebar 2600 km, dan mengirimkan hasilnya ke stasiun-stasiun bumi di Norwegia dan Kanada.

Hanya dalam waktu tiga jam, para pakar akan bisa menyusun peta sangat terinci tentang kualitas udara di bagian manapun di bumi.

Kalau dibandingkan dengan satelit lingkungan sebelumnya, yang bernama Sciamachy, yang tidak lagi berfungsi sejak tahun 2012, jumlah data yang bisa dihimpun oleh satelit Sentinel 5P ini sangat besar.

Kata proyek manager ESA, Kevin McMullan mengatakan,“Dengan satelit ini, dalam satu bulan saja kami akan bisa mengumpulkan data yang dihimpun dalam 10 tahun oleh satelit Sciamachy.”

Tahun 2021 nanti, Badan Antariksa Eropa akan meluncurkan sebuah lagi satelit untuk melengkapi Proyek Copernicus itu. (voaindonesia.com)

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home