Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Dr. Martin Lukito Sinaga 16:09 WIB | Senin, 01 April 2019

Stephen Suleeman dan Masa Depan Pembelajar Teologi di Indonesia

Pdt Drs Stephen Suleeman MATh ThM memasuki masa emeritasi, dan kebaktian emeritasi dilaksanakan di GKI Gading Indah Aula TKK 6 BPK Penabur Kelapa Gading, Jakarta Utara, 1 April 2019. (Sumber: Istimewa)

SATUHARAPAN.COM - Teologi secara sederhana diartikan sebagai percakapan yang jernih tentang Tuhan. Dari kejernihan percakapan itu, kita para pembelajar teologi itu, kiranya terdorong menetapkan sikap, lalu selanjutnya sejumlah praktik-praktik hidup pun muncul darinya. Dalam pada itu teologi sungguh bermakna adanya, sebab ia membantu kita, selain membicarakan, tapi juga menemukan kemungkinan realitas Ilahi sebagai realitas yang dapat dialami, bahkan lebih lagi, sebagai realitas yang mendampingi keseharian hidup kita.

Untuk tiba pada kejernihan menalar yang Ilahi vis a vis kehidupan sehari-hari, diperlukan sebentuk detour jauh ke belakang tradisi beriman, antara lain tradisi yang ada di sepanjang sejarah Kristiani. Setelah putaran perjalanan menyerap tradisi, baik biblikal dan juga praktikal, terbukalah medan yang dapat dijadikan sebagai sumber-sumber berteologi di masa kini. Dulu orang mengira sumber itu sudah fiks adanya, tinggal diterapkan saja ke kehidupan kini. Tapi, dengan munculnya kesadaran “teologi kontekstual”, sumber-sumber itu haruslah bertemu dengan kehidupan nyata, sebab dalam pertemuan (atau korelasi) itulah momen teologis terjadi. Teologi adalah Injil-Masakini, bukan pengulangan basi dari nas-nas yang didaku ilahi!

Ada jebakan “barthian” (mohon maaf kepada Karl Barth dan para pengikut fanatiknya) dalam jalan sang pembelajar teologi di Indonesia. Kira-kira begini maksud saya: Barth pernah berdebat dengan Emil Brunner (dan berseru NEIN!, artinya Tidak!) atas kemungkinan suara ilahi dalam jejak-jejak historis manusiawi.

Bagi Barth Injil -yaitu suara sang Ilahi- adalah semata-mata berita yang disarikan kekuatannya dari Alkitab, yang lantas menantang kehidupan kita yang isinya lebih banyak bermuatan kekhilafan bahkan egoisme manusia. Saya jadi ingat perkataan Barth dalam Kirchliche Dogmatik-nya yang ternama itu: “Tidak ada Melkisedek tanpa Abraham, dan tidak ada Abraham tanpa Yesus Kristus!” Dengan catatan ini maka memang tak bisa Melkisedek (manusia misteri yang biasa adanya itu, seperti “kita-kita” inilah dia itu) mendatangkan pada dirinya kebenaran teologis. Maka, cukuplah mempelajari dan mengenal Kristus, yang lain akan diterangi oleh-Nya!

Hal lain yang terkait dengan jebakan barthian di atas, dalam fase yang cukup lama, terjadi pada model belajar teologi di STT Jakarta, yang pernah amat berfokus pada studi Alkitab (kesan ini pun saya dengar dari mantan Ketua STT Jakarta, Liem Khiem Yang). Kala itu saya harus bahasa Ibrani, Yunani (bahasa “asli” Alkitab) yang dipelajari berlapis-lapis -malah kalau mau bisa belajar Ibrani modern-, lalu 2 semester Pengantar Perjanjian Lama dan Baru, Lalu Tafsir 1, dan Tafsir 2, lalu Teologi Biblika, lalu Hermeneutika, sambil latihan Khotbah 1 dan 2, sembari mengikuti matakuliah Latihan PA. Agar tamat dengan bahagia, maka studi diakhiri dengan skripsi Biblika, yang umumnya dikerjakan oleh siswa bernilai rata-rata A! Dan lahirlah sarjana theologia….

Belajar bersama Pdt Stephen Suleeman MATh ThM

Saya pertama kali mengenal Pak Stephen saat belajar “English Theology” bersamanya, mulai tahun 1986. Saya tahu kala itu ia belajar teologi di Singapura. Ia kemudian juga menamatkan pendidikan di jurusan komunikasi di FISIP Universitas Indonesia.

Entah mengapa saya masih ingat diskusi saya 30 tahun lalu dengannya saat bertanya mengapa ia mau belajar teologi dan kemudian studi ilmu sosial. Katanya, “kalau belajar ilmu sosial kita memang jadi tahu satu hal yang menjelaskan kehidupan sehari-hari, tetapi teologi memberi makna yang lebih”.

Saya pun bertanya-tanya terus maksudnya, dan dari waktu ke waktu saya bertambah yakin bahwa maksud beliau ialah: kelebihan teologi justru kita ketahui setelah kita diberi pertanyaan yang tajam dan riil dari ilmu-ilmu sosial!

Dan itu dipraktikkannya. Lantas saya pun diam-diam mencoba mengikutinya; saya sering mendengar studinya tentang komunitas Tionghoa yang diharuskan oleh Orde Baru berasimilasi dengan kultur besar Indonesia (tanpa tahu yang mana budaya nasional yang dimaksudkan orde otoritarian kala itu). Bahkan saya membaca skripsinya tentang studi kaum Tionghoa di Sukabumi agar mengerti lebih jelas duduk perkaranya. Lebih lagi saya ditemaninya untuk berlatih alat sederhana Penelitian Sosial, agar lebih jernih dalam menghubungkan dua variabel sosial, dan tidak membicarakan kehidupan masyarakat dengan asumsi-asumsi penuh prasangka saja.

Diam-diam saya menempuh pembelajaran teologi saya dalam panduannya: saya bertekad akan melampaui cara-cara ‘barthian’ di atas, lalu meyakini bahwa di kedalaman yang sosial, yang politis, yang psikologis, tetap tersimpan yang teologis, yang perlu dikorelasikan -bahkan dalam relasi saling kritik- dengan tradisi Alkitab. Malah jalan belajar saya semakin maksimal di ruang-ruang sosial di atas. Dalam hal ini saya berutang pada model implisit pembelajar teologi yang disiratkan Pdt Stephen Suleeman.

Jikalau sekarang STFT Jakarta (dan sekolah teologi lain) mendorong mahasiswanya lulus dengan sejumlah kompetensi (dari Pemberitaan, Liturgi, Pembangunan jemaat, Kemampuan Berjejaring dan Keterlibatan bermasyarakat), hal ini bagi saya haruslah berarti bahwa kini pembelajar teologi perlulah berkemampuan “dwi-bahasa”. Dan, dengan kompetensi yang sama tuntasnya. Yang satu bahasa kristiani, yang satunya lagi bahasa dari ilmu-ilmu sosial (bahkan bahasa ilmu eksakta, sekalipun). Hanya dengan kemampuan itulah, tidak saja realitas dan pengalaman akan yang ilahi akan semakin terkuak, tetapi juga karya dan karier para pembelajar teologi pun semakin meluas.

Tak mungkin saya sejak tahun 2017 bisa bekerja di Badan nasional Pembinaan Ideologi Pancasila kalau saya tidak melewati model studi yang secara tersirat saya teladani dari Pak Stephen Suleeman ini. Tak mungkin saya bisa menulis di koran “sekuler” kalau sekiranya kompetensi bahasa saya hanya bercorak liturgis dan pastoral semata.

Catatan saya ini bukanlah sebentuk penuturan “bermegah” (mengutip istilah Paulus tentang tanda-tanda keberdosaan), tetapi sebentuk ucapan terima kasih kepada pak Stephen Suleeman, dan sekaligus dorongan agar para pembelajar teologi segera merentangkan kemampuan dwi-bahasa-nya dalam proses studinya!  

   

Back to Home