Loading...
SAINS
Penulis: Yen Nie Tjhia 01:34 WIB | Senin, 31 Maret 2014

Suara Hati Kunci Mengambil Peputusan

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, dan Pendeta Imanuel Kristo dalam acara Persekutuan Pegawai, Profesional & Wiraswasta (P3W) GKI Gading Serpong, Sabtu (29/3) di Serpong Tangerang. (Foto: Yen Nie Tjhia)

TANGERANG, SATUHARAPAN.COM - Suara hati adalah kunci pengambilan keputusan dalam bekerja, baik sebagai pegawai atau atasan, demikian dikatakan Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, dalam Persekutuan Pegawai, Profesional & Wiraswasta (P3W) GKI Gading Serpong, Tangerang, hari Sabtu (29/3, di Hall SMAK Penabur, Gading Serpong.

Bersama Pendeta Imanuel Kristo dari GKI Gunung Sahari, peserta diajak untuk hidup bersih sesuai Firman Tuhan dalam dunia kerja dan bisnis.  Hati nurani yang digunakan sebagai sumber pertimbangan, hendaklah selalu melekat seperti cabang pada pokok anggur. Senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan, membaca Firman Tuhan, melakukan apa yang baik, apa yang benar dan apa yang berguna.

Pendeta Immanuel Kristo mengatakan bahwa semakin dekat hubungan kita dengan Tuhan, maka kita pun tahu suara Tuhan.  “Kalau saya tidak mengetahui nomor telepon Pak Jahja, kemudian dia menelepon saya, jika saya mengenal baik dia, saya pasti tahu dia yang menelepon saya, karena saya mengenal suaranya.  Demikian juga bila dia datang, sebelum saya lihat orangnya, jika saya kenal baik dengan dia, melalui langkah kakinya pun saya pasti tahu dia yang datang.”  Demikianlah Pendeta Immanuel Kristo menjawab pertanyaan seorang peserta yang menanyakan bagaimana cara mengenali suara Tuhan dalam hati kita.

Jahja Setiaatmadja mengisahkan hidupnya, bahwa kesuksesan diperoleh dari perjuangan, konsistensi, melakukan pekerjaan tanpa pikiran negatif.  Dia menceritakan bagaimana pengalamannya berdesakan dalam bus kota dan kemampuannya untuk melompat dari bus kota selama SMA, berguna ketika setelah bekerja, dia salah masuk kereta api, dan harus melompat dari kereta api tersebut. 

Hati diidentikkan dengan gelas kaca yang bening.  Ketika gelas kaca tersebut dicoret-coret dengan amarah, iri, hal-hal negatif, maka gelas tersebut tidak bening lagi, apa yang terlihat dari gelas tersebut menjadi tidak jelas.  Demikian juga dengan hati kita.

Prioritas hidup juga harus dipikirkan. Jahja Setiaatmadja mengibaratkan hidup seperti sebuah toples besar yang akan diisi penuh dengan bola golf, kerikil, pasir, dan kopi.  Urutan pertama yang dimasukkan adalah bola golf, itu adalah hal-hal penting seperti relasi dengan Tuhan, kesehatan.  Kemudian adalah kerikil, lalu pasir.  Itu adalah keperluan yang lebih sekunder, seperti rekreasi, relaksasi.  Dan yang terakhir adalah kopi. 

Apabila urutannya terbalik, misalnya pasir dahulu baru bola golf, maka toples besar itu akan penuh terlebih dahulu, sehingga hal-hal lain tidak muat.  Tapi jika hal-hal besar dimasukkan kemudian hal yang kecil menyusul, hal-hal kecil itu bisa masuk memenuhi toples bersama hal besar.  Itulah dinamika hidup.  Dan kopi dikatakan Jahja Setiaatmadja bahwa sesibuk-sibuknya kita, harus tetap ada waktu untuk ngopi dengan teman-teman.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home