Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 09:30 WIB | Selasa, 07 Februari 2017

Teh Obat Ginjal dari Daun Sukun Made In Mahasiswa UGM

Suhartono dan Retno Wulandari menjelaskan tentang teh daun sukun produk mereka yang sudah dipasarkan di hadapan wartawan di UGM, Senin (6/2). (Foto: ugm.ac.id)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Suhartono, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), sukses mengembangkan bisnis teh daun sukun yang bisa membantu penyembuhan sakit ginjal dan jantung.

Suhartono bersama dua temannya, Retno Wulandari dan Yunita Praptiwi, alumni UGM, mengembangkan dan memproduksi teh herbal daun sukun ini di rumahnya di kawasan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Bahkan, teh yang diberi nama teh daun sukun Laasyaka ini sudah menjangkau pasar nasional dan didistribusikan di berbagai wilayah Indonesia.

“Daun sukun ini belum banyak yang memanfaatkannya dan terkadang hanya untuk pakan ternak. Untuk itu, kami berusaha meningkatkan nilai dan manfaat daun sukun dengan mengolah menjadi teh herbal yang bermanfaat bagi kesehatan,” kata Suhartono, pada Senin (6/2) dalam perbincangan dengan wartawan di Ruang Fortakgama UGM, seperti dikutip dari situs resmi ugm.ac.id.

Suhartono mengungkapkan pengembangan teh daun sukun ini dilakukan karena melihat banyaknya pohon sukun di daerah tempat tinggalnya. Selama ini warga baru memanfaatkan buahnya saja.

Berdasar penelitian LIPI, Tjandrawati, mereka mendapati daun sukun mengandung senyawa flavonoid, riboflavin, dan sirosterol, yang bermanfaat untuk menjaga jantung dari kerusakan sistem kardiovaskuler. “Selain bermanfaat dalam membantu penyembuhan sakit ginjal, darah tinggi, diabetes, menurunkan kolesterol serta mengatasi inflamasi,” mahasiswa Departemen Ilmu Komputer FMIPA itu menjelaskan.

Cara pengolahan teh daun sukun tergolong sederhana. Daun-daun muda dan segar dipetik langsung dari pohon, dipotong-potong dan dijemur di bawah sinar matahari selama 3-4 hari hingga mengering, setelah dicuci bersih. “Setelah itu, daun kering dihaluskan lalu dioven dan dikemas dalam bentuk teh celup,” katanya.

Retno mengungkapkan teh daun sukun Laasyaka terbuat 100 persen dari daun sukun asli tanpa menggunakan bahan pengawet. Teh ini dapat dikonsumsi siapa saja mulai anak-anak hingga dewasa dengan merendamnya dalam air panas. Hanya saja, perendamannya memakan waktu lebih lama, sekitar 4-5 menit perendaman, hingga muncul warna cokelat kehijauan.

Teh Celup dan Teh Tubruk

Suhartono dan teman-teman mengemasnya dalam dua bentuk, teh celup dan tubruk. Satu pak teh celup berisi 20 kantong teh celup siap pakai dengan berat 50 gram dibanderol dengan harga Rp20.000. Sedangkan kemasan tubruk dengan berat 35 gram dijual dengan harga Rp5.000.

Sejak merintis usaha pada 2013 silam, kini bisnis ini telah berkembang dan menjadi usaha rumahan yang setiap bulannya mampu memproduksi 400-500 pak. Dalam produksinya usaha ini memberdayakan ibu-ibu warga setempat mulai dari proses pemetikan daun hingga pengeringan. "Omset saat ini rata-rata Rp8juta sampai Rp10 juta per bulan," dia menjelaskan.

Bisnis teh daun Laasyka lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM pada 2013. Ide untuk mengolah daun sukun sebagai teh herbal ini awalnya sempat ditolak dosen pembimbing. “Karena dinilai kurang berkualitas,” dia mengenang.

Namun, penolakan itu tidak mematahkan asa ketiganya. Mereka pun berusaha menemui dosen lain dan akhirnya mendapatkan dukungan untuk melaju dalam PKM. Alhasil, ide yang mereka usung berhasil mendapatkan dana hibah sebesar Rp7.250.000 dari Dirjen Dikti. Dari dana sebesar itu, mereka memutuskan membelikan alat pres kantong seharga Rp4 juta.

Karena keterbatasan dana, mereka mencetak dan mendesain kardus teh sendiri. Demikian pula dalam menyegel kardus dengan plastik, mereka melakukannya dengan alat segel hasil modifikasi menggunakan setrika.

Membangun bisnis baru bukanlah hal mudah bagi ketiganya yang tergolong pemain baru di dunia usaha. Mereka menerapkan model pemasaran dengan menitipkan di apotek-apotek.

Mengingat pada tahun 2014 penjualan tidak sesuai target, Retno mengemukakan, mereka mulai menyebar brosur di  jalan raya hingga mencoba peruntungan berjualan di pasar Minggu pagi UGM. Namun, cara-cara itu tidak efektif. Mereka pun mencoba strategi baru dengan menerapkan sistem keagenan dan penjualan secara online teh daun sukun yang telah mengantongi sertifikat Dinas Kesehatan Sleman dan MUI itu. (ugm.ac.id)

Editor : Sotyati

Back to Home