Google+
Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Reporter Satuharapan 16:55 WIB | Jumat, 17 Februari 2017

Tidak Ada Bukti Menyundul Tingkatkan Risiko Cedera Otak

Foto: i.imgur.com

ZURICH, SATUHARAPAN.COM - FIFA menegaskan tidak ada bukti pasti bahwa menyundul bola dapat meningkatkan risiko penyakit otak, Kamis (16/2), setelah rilis penelitian tentang pesepak bola yang meninggal akibat demensia.

“Menurut pengetahuan kami, saat ini tidak ada bukti nyata tentang dampak negatif menyundul bola atau benturan lain,” ungkap badan pengurus sepak bola dunia itu dalam tanggapan mereka terhadap seruan dari para ahli saraf Inggris untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

“Hasil penelitian terkait fungsi otak pada pemain sepak bola profesional yang masih aktif atau sudah pensiun tidak meyakinkan,” ungkap juru bicara dalam sebuah pernyataan.

Juru bicara tersebut mengakui bahwa pemain profesional “lebih sering bersinggungan dengan semua aktivitas sepak bola termasuk menyundul bola dari usia dini dibandingkan dengan pemain biasa.”

Namun, FIFA mengatakan: “Untungnya, sepak bola tidak termasuk dalam olahraga yang dapat membahayakan otak.”

Penelitian Inggris menyebutkan bahwa pesepak bola profesional berisiko tinggi terkena penyakit otak yang dapat menyebabkan demensia dan biasanya penyakit itu ditemukan pada petinju dan pemain American football.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnali Acta Neuropathologica menyurvei 14 pensiunan pesepak bola yang menderita demensia dan mulai bermain sepak bola serta menyundul bola sejak usia dini atau remaja.

Pemeriksaan autopsi terhadap enam pemain menemukan bahwa empat di antaranya menunjukkan tanda-tanda terkena chronic traumatic encephalopathy (CTE), jauh melebihi tingkat rata-rata 12 persen yang ditemukan pada masyarakat umum.

Kasus CTE untuk pertama kalinya dikonfirmasi dalam penelitian yang melibatkan mantan pemain sepak bola.

“Temuan penelitian kami menunjukkan potensi keterkaitan antara bermain sepak bola dan CTE,” ungkap pemimpin penelitian Helen Ling dari Institute of Neurology di University College London kepada AFP.

“Penelitian skala besar dibutuhkan dan kerja sama dari lembaga profesional seperti Asosiasi Sepak Bola (Football Association/FA) dan FIFA akan dibutuhkan,” katanya.

FIFA menyebutkan pihaknya telah “secara aktif mengamati isu cedera pada kepala dan otak” selama lebih dari 15 tahun, termasuk dengan memublikasikan penelitian ilmiah bersama federasi olahraga internasional dan kelompok peneliti. (AFP)

 

Back to Home