Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Reporter Satuharapan 15:48 WIB | Kamis, 11 Oktober 2018

Tim GKI di Sigi: Trauma Healing

Tim GKI di Sigi: Trauma Healing
Anak-anak korban gempa di Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 9 Oktober 2018. (Foto-foto: Tim GKI)
Tim GKI di Sigi: Trauma Healing
Tim GKI di Sigi: Trauma Healing

SATUHARAPAN.COM - Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (Tim GKI) bekerja sama dengan Bala Keselamatan Korps Palu mengawali pelayanan di wilayah terdampak gempa dan tsunami Palu-Donggala pada 5 Oktober 2018.

Seusai melayani di Desa Jono dan Wisolo di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Tim GKI berusaha menembus Desa Rogo, pada 9 Oktober, yang belum terjamah bantuan.

Pdt Nanang, salah satu anggota Tim GKI menceritakan pelayanannya di Desa Rogo. Desa tersebut sekitar 55 km dari Kota Palu, berada di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, termasuk daerah yang 99 persen terdampak ketika gempa bumi dan tsunami melanda Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018.

Desa itu belum bisa ditembus karena ada jembatan yang putus. Tim GKI mengadakan pelayanan medis untuk korban gempa di Desa Rogo, berpenduduk sekitar 1.800 jiwa, rata-rata petani atau pekebun, dan buruh tani.

Menurut Pdt Nanang dari raut muka para warga korban gempa tidak dapat disembunyikan gambaran trauma akibat kejadian dahsyat itu.

"Panas terik luar biasa dan kelelahan melayani mereka membuat energi dan cairan tubuh kami segera "lowbat" perlu cairan segera. Kami melihat di sekeliling banyak pohon kelapa. Lalu, seorang di antara kami meminta seorang bapak untuk mengambilkan buah-buah kelapa itu," kata Pdt Nanang.

Dalam sekejap kata Nanang, mereka ada yang memanjat, mengumpulkan buah-buah kelapa yang jatuh dan kemudian membawanya ke tempat di mana para dokter menangani korban bencana itu. Mereka membuka dan menyajikan buah-buah kelapa yang siap minum itu kepada setiap anggota relawan.

"Perlahan, tidak ada jarak di antara kami. Sekarang, mereka merasa terlibat. Saya tidak tahu persis isi hati mereka. Namun, setidaknya raut wajah mereka kini berubah. Mereka bukan lagi objek, tetapi subjek yang dapat membantu menyegarkan kembali stamina tim medis dan relawan. Mereka ikut tersenyum ketika para dokter, perawat dan relawan juga tersenyum dan mengatakan, "Kelapanya enak sekali loh!: Saya pun menghabiskan dua butir kelapa. Melihat mereka tersenyum, kami pun semakin semangat...," imbuh Nanang.

Memandang para korban gempa, Pdt Nanang mengatakan bahwa proses pemulihan psikis atau "trauma healing" menurut dia adalah: Tidak menjadikan mereka sebagai objek charity. melainkan mengangkat dan menarik mereka menjadi subjek untuk mengatasi permasalahan bersama.

Back to Home