Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 19:41 WIB | Selasa, 16 April 2019

Trenggiling, si Manis yang Terancam Punah

Trenggiling (Manis javanica). (Foto: pangolinsg.org)

SATUHARAPAN.COM – Pernah melihat hewan dengan tubuh seperti bersisik dan bisa menggulungkan badan seperti bola? Hewan bernama trenggiling ini memang tergolong berpenampilan lucu dan unik.

Trenggiling merupakan spesies yang tergolong langka karena jarang ditemukan. Bahkan, di kebun binatang pun, hewan ini jarang ditemukan.

Trenggiling, juga disebut sebagai pemakan-semut bersisik, menurut Wikipedia adalah mamalia dari ordo Pholidota. Satu keluarga yang masih ada, Manidae, memiliki tiga genera, Manis yang terdiri atas empat spesies yang hidup di Asia, Phataginus yang terdiri atas dua spesies hidup di Afrika, dan Smutsia yang terdiri atas dua spesies juga tinggal di Afrika.

Laporan tentang perkembangan pemanfaatan trenggiling secara ilegal, mengutip dari researchgate.net, sebagai  makanan, obat, maupun sebagai bahan baku pembuatan shabu-shabu meningkat pesat.

Trenggiling (Manis javanica) merupakan jenis mamalia yang masuk dalam daftar jenis satwa dilindungi di Indonesia dan terdaftar pada Appendix II CITES (IUCN, 2008). Trenggiling merupakan salah satu satwa dipercaya dapat menjadi penawar bagi penyakit tertentu oleh masyarakat China, terutama sisik dan dagingnya. Sebagian kalangan meyakini trenggiling dapat dijadikan obat kuat dan makanan bagi masyarakat di pedesaan atau pedalaman di Kalimantan Timur.  

Menurut Ami Brautigam dan kawan-kawan, dalam penelitian berjudul “Recent information on the status and utilization of African pangolins”, Traffic Bull 15: 15–22 (1994), saat ini kondisi populasi alam trenggiling dalam ancaman yang sangat tinggi. Tingginya tingkat perdagangan terutama untuk perdagangan sisik dan daging merupakan faktor utama berkurangnya populasi, terutama populasi dari Indonesia. Ancaman serius terhadap kelangsungan hidup trenggiling adalah kegiatan dari manusia yang mengeksploitasi satwa ini hingga populasinya terus menurun.

Wartika Rosa Farida, dalam penelitian berjudul “Trenggiling (Manis javanica Desmarest, 1822), Mamalia Bersisik yang Semakin Terancam”, Penerbit  Fauna Indonesia 9(1): 5–9 (2010), melaporkan lebih dari 99 persen spesies ini punah pada saat ini karena aktivitas manusia. Pemanenan trenggiling secara langsung dari alam yang dilakukan terus-menerus dan tidak terkontrol, serta pemanfaatannya tanpa diikuti usaha penangkaran atau budidaya, akan mengakibatkan kepunahannya.

Penangkaran, mengutip dari unej.ac.id, merupakan tindakan terbaik untuk menjaga kelestariannya di alam, sekaligus menggali potensi manfaat trenggiling bagi kehidupan manusia. Penangkaran trenggiling secara ex-situ dilakukan sebagai upaya melestarikan spesies yang telah terancam punah di alam, serta memanfaatkan hasil penangkarannya untuk digunakan sebagai bahan obat-obatan melalui serangkaian uji coba dalam suatu kegiatan penelitian.

Pendekatan tingkah laku, pengelolaan sumber pakan, aspek biologi, biomedis, serta manajemen terpadu dalam penangkaran trenggiling diharapkan menjadi faktor penentu dalam keberhasilan penangkaran dan penggalian potensi trenggiling, sehingga tercapai tujuan pelestarian dan pemanfaatannya.

Morfologi Trenggiling

Trenggiling, menurut Wikipedia, memiliki nama Latin Manis javanica, merupakan salah satu spesies hewan yang berasal dari ordo Pholidota. Di luar negeri, trenggiling dikenal sebagai pangolin dan tergolong anteater, yang berarti pemakan semut.

Nama pangolin berasal dari kata Melayu “pengguling”. Trenggiling ditemukan secara alami di daerah tropis di seluruh Afrika dan Asia.

Trenggiling betina, mengutip dari unej.ac.id, lebih pendek daripada trenggiling jantan. Trenggiling memiliki moncong dan hidung yang merupakan daerah sensitif dan aktif.

Trenggiling memiliki lidah yang panjangnya hampir sama dengan tubuhnya, sekitar 56cm. Lidah trenggiling mempunyai dua prinsip kerja yaitu memanipulasi makanan yang berada di mulut serta membantu dalam mengambil dan memilih makanan yang berasal dari lingkungan.

Berdasarkan analisis, mengutip dari ipb.ac.id, skeleton dan limbus alveolaris, moncong hidung yang panjang dan lubang mulut yang sempit menandakan bahwa otot pengunyah tidak berkembang dengan baik, sehingga makanan yang masuk ke dalam mulutnya akan langsung ditelan dan dicerna di dalam lambung.

Selain itu, tulang lidahnya (os hyoideus) yang berukuran panjang berfungsi untuk membantu menelan atau memasukkan makanan. Karena tidak memiliki gigi, diduga trenggiling memiliki kebiasaan makan dan kebutuhan serta palatabilitas pakan tertentu sehingga menarik untuk diteliti.

Berdasarkan hal tersebut, jenis makanan trenggiling merupakan makanan yang tergolong keras karena adanya lapisan kithin pada semut, sesuai dengan anatomi lidahnya yang dilapisi oleh keratin yang tebal untuk mengolah dan menyerap kithin. 

Sebagai salah satu mamalia yang hidup di hutan tropis, trenggiling tergolong unik di antara mamalia lainnya. Secara fisik keunikan tersebut ditunjukkan dengan keberadaan sisik yang menutupi seluruh tubuhnya, tidak memiliki gigi, dan memiliki sistem pertahanan yang baik dengan cara menggulungkan tubuhnya ketika bahaya mengancam.

Habitat dan Penyebaran

Trenggiling hidup di berbagai habitat seperti di hutan primer, hutan sekunder, bahkan di areal perkebunan seperti perkebunan karet dan di daerah daerah terbuka. Di Indonesia trenggiling tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan beberapa pulau kecil di Kepulauan Riau, Pulau Lingga, Bangka, Belitung, Nias, Pagai, Pulau Natuna, Karimata, Bali, dan Lombok (Corbet dan Hill 1992 dalam Junandar 2007). Trenggiling juga terdapat di Malaysia, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.

Trenggiling memiliki wilayah jelajah yang luas dan biasanya menempati sarang selama beberapa bulan saja.

Trenggiling, mengutip dari uajy.ac.id, merupakan binatang nocturnal, yang aktif melakukan kegiatan hanya di malam hari. Pada siang hari trenggiling biasanya bersembunyi di lubang sarang, salah satunya berada di atas pohon.

Dalam memperoleh pakan, trenggiling menggunakan indera penciumannya untuk mendapatkan mangsa. Sebelum menemukan mangsa, trenggiling biasanya membaui daerah yang diduga merupakan tempat bersarangnya mangsa. Kemudian ia menggali sumber pakan tersebut dengan menggunakan cakar depannya hingga mangsa keluar. Lidah trenggiling sudah bersiap-siap untuk menangkap mangsa saat mangsa sudah mulai keluar.

Perilaku minum pada trenggiling tidak jauh berbeda dengan cara memperoleh mangsanya. Trenggiling mengeluarkan lidahnya dan memasukkannya kembali dengan cepat ketika minum. Tak jarang, dalam aktivitas makannya di alam, trenggiling terlihat ikut memasukkan kerikil atau butiran pasir,  yang tidak terlalu halus ke dalam mulutnya. Makanan yang dicerna di dalam lambung sepenuhnya dilakukan hingga menjadi halus dengan bantuan kerikil yang tertelan.

Menurut  Farida, dalam penelitiannya, “Trenggiling (Manis javanica Desmarest, 1822), Mamalia Bersisik yang Semakin Terancam”, biasanya trenggiling dapat menggali tanah untuk membuat sarang atau mencari makan dengan kedalaman 3,5 meter.

Selain membantu menyuburkan dan menggemburkan tanah di dalam hutan, trenggiling juga merupakan satwa pemangsa serangga perusak pohon seperti semut dan binatang halus lain yang sering menggerogoti pepohonan hingga mengalami pengeroposan. Keberadaan trenggiling ini yang secara tidak langsung dapat menjaga kelangsungan regenerasi ratusan jenis pepohonan yang ada di hutan Riau (EBN, 2010).

Trenggiling, mengutip dari ipb.ac.id, secara ekologi dapat dijadikan sebagai pengendali hama ulat dan serangga di pohon,  karena merupakan satwa insektivora pemakan semut, rayap, atau serangga lainnya. Sebagai satwa pemakan serangga, trenggiling bermanfaat untuk penggemburan tanah, karena dalam mencari mangsa, trenggiling menggali atau membuat lubang di dalam tanah.

Tanah yang sering tergali dan tertimbun kembali oleh cakaran trenggiling lama-kelamaan dapat menjadi lebih gembur karena di dalam tanah terjadi siklus oksigen yang baik atas bantuan dari aktivitas makan trenggiling.

Secara ekonomi, trenggiling termasuk sumber daya alam hewani yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran internasional. Hal ini dikarenakan manfaat secara sosial dan budaya yang diberikan trenggiling seperti penyediaan protein hewani, kebutuhan sebagai obat tradisional, dan kepentingan permintaan lain seperti tonik di beberapa negara.

Sebagai satwa yang dilindungi (Appendix II CITES), trenggiling dilarang diperdagangkan kecuali dengan peraturan dan kuota tertentu yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam/PHKA), dan scientific authority (Lembaga Ilu Pengetahuan Indonesia/LIPI).

Daging dan sisik trenggiling memang diyakini sebagai obat dan makanan. Pola pemanfaatan trenggiling dengan cara pemanenan langsung dari alam sangat meningkat dan umumnya dilakukan secara illegal, sehingga diyakini akan mengancam kelestariannya di alam. Karena itu upaya  penangkaran atau pembudidayaan trenggiling merupakan  pilihan solusi terbaik dan bijak untuk menjamin kelestarian trenggiling di alam.

Upaya Konservasi Trenggiling

Trenggiling termasuk salah satu satwa yang sangat rentan terhadap ancaman kepunahan. Trenggiling merupakan satwa yang mudah diburu karena jika mendapatkan bahaya, ia menggulung tubuhnya seperti bola dan memudahkan para illegal hunter menangkapnya.

Selain itu, sebagai satwa pemanjat, perangkap dalam bentuk tempat panjat pun mudah dibuat dan trenggiling dapat dengan mudah terperangkap di tempat itu. Jika di luar habitat aslinya atau di penangkaran, trenggiling sulit beradaptasi. Selain itu, satwa ini juga sulit bereproduksi dan berkembangbiak di penangkaran.

Tim peneliti dari Bagian Manajemen dan Ekologi Satwa Liar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB Bogor, meneliti perilaku trenggiling dan kemungkinan penangkarannya. Trenggiling diyakini banyak orang sebagai makanan dan obat-obatan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga permintaan trenggiling cenderung meningkat.

Pemanenan liar dari habitat alami adalah cara yang selalu digunakan untuk memasok permintaan, dan ini mempengaruhi populasi liar berkurang secara signifikan. Program penangkaran di area ex -situ adalah solusi alternatif terbaik untuk mendukung keberlanjutan permintaan dan konservasi di habitat alami.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan tentang perilaku hewan dan implementasi beberapa program teknis penangkaran, program breeding captive dari trenggiling menunjukkan keberhasilan.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home