Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Yamoye AB 19:24 WIB | Sabtu, 08 Juli 2017

Uskup: Orang Muda Katolik Papua Harus Berani dan Militan

Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr (keempat dari kiri) bersama tiga imam ketika pawai Cenderawasih Youth Day di Biak. (Foto: Istimewa)

BIAK, SATUHARAPAN.COM - Uskup Keuskupan Timika, Papua, Mgr. John Philip Saklil, Pr meminta kepada para Orang Muda Katolik (OMK) di Dekenat Teluk Cenderwasih agar berani dengan iman mereka bertanggungjawab atas seluruh kehidupan banyak orang. 

Hal itu dikatakannya terkait acara Cenderawasih Youth Day (CYD) OMK Denekat Teluk Cenderawasih di Biak yang berlangsung pada 4 hingga 7 Juli 2017 di Gereja Paroki Santa Maria, Biak.

Menurut Uskup John Philip Saklil, OMK Dekenat Teluk Cenderawasih sebagai murid-murid Yesus Kristus perlu berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan bermasyarakat. Partisipasi itu terutama dalam bidang sosial kemasyarakatan untuk sumbangkan peran bagi pencapaian tujuan 'kemerdekaan sejati' demi kesejahteraan umum. 

“Kamu (Orang Muda Katolik) dengan iman Kekatolikanmu, yakni satu gereja Katolik, Kudus dan Apostolik, harus mampu mempertanggungjawabkan imanmu demi keselamatan banyak orang,” ungkap Uskup, hari ini, Sabtu (08/07).

Uskup meminta kepada para OMK agar menggunakan CYD dengan baik, karena merupakan suatu momen yang luar biasa. Dalam CYD mereka bisa saling bertemu satu sama lain dan membagi suka duka yang dialami.

“Kamu bisa cerita, kamu bisa pesta, goyang-goyang, gembira, kamu bisa berdoa bersama dan ini waktu yang paling bagus, waktu yang luar biasa,” katanya.

“Dan dengan momen ini kamu harus buka harapan yang baru untuk masa depan gereja Katolik di Keuskupan Timika bahkan Tanah Papua. Maka, Orang Muda Katolik harus menjadi orang yang ‘militan’ dalam hal iman dan memiliki tujuan hidup yang jelas,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Komite Kepemudaan Keuskupan Timika, P. Honoratus Pigay, Pr mengatakan, dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan, OMK semestinya memiliki keimanan yang kuat dengan fondasi yang kuat pula. Ia mengharapkan, OMK memperoleh bibit iman yang selanjutnya ditanam saat tiap anggota kembali ke Paroki dan berkembang di dalam tantangan hidup.

“Tergantung dari masing-masing OMK itu sendiri, bibit imannya mau mati atau hidup. Kalau mau hidup,  harus ada dasar hidup yang kuat  dengan fondasi iman yang kuat. Maka, kami harapkan semua anggota OMK dapat menghalau segala yang datang  mengganggu atau tantangan hidup yang berkembang di zaman ini. Intinya, masing-masing mereka tanamkan bibit yang telah diperoleh selama CYD,” ungkap Pigay. 

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home