Google+
Loading...
MEDIA
Penulis: Reporter Satuharapan 16:10 WIB | Rabu, 19 Desember 2018

Wartawan Makin Jadi ‘Target’ Pembunuhan

Ilustrasi. Aksi menuntut pembebasan Jamal Khashoggi tak lama setelah wartawan dan kolumnis Arab Saudi itu diberitakan hilang setelah diketahui memasuki Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018. (Foto: journalducameroun.com)

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM — Para wartawan di seluruh dunia menghadapi meningkatnya bahaya menjadi target pembunuhan akibat laporan mereka pada 2018, meski risiko dari perang dan konflik menurun, Kantor Berita AFP melaporkan, mengutip laporan lembaga pemerhati media.

Menurut laporan Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), 34 dari 53 wartawan yang terbunuh saat menjalankan tugas tahun ini di seluruh dunia memang “ditandai untuk dibunuh”.

“Jumlah wartawan yang menjadi target pembunuhan sebagai balasan atas laporan mereka naik hampir dua kali pada 2018, dari tahun sebelumnya. Hal ini mendorong kenaikan jumlah total wartawan yang terbunuh saat bertugas,” kata lembaga yang berpusat di New York itu.

Laporan ini menyuarakan hal yang sama dari laporan yang dikeluarkan Wartawan Tanpa Tapal Batas (Reporters Sans Frontieres/Reporters Without Borders) yang berbasis di Paris, Prancis. Menurut laporan Wartawan Tanpa Tapal Batas, jumlah wartawan yang tewas mencapai 80 orang. Wartawan Tapal Batas menggunakan metodologi yang berbeda, dengan memasukkan para blogger, jurnalis warga (citizen journalists), dan pekerja media.

Kedua laporan mengutip peningkatan yang mengkhawatirkan aksi balas dendam terhadap para wartawan. Menurut CPJ, tren tersebut makin disorot oleh “pembunuhan berani” kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi, di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Meski jumlah total wartawan yang terbunuh saat bertugas mencapai angka tertinggi dalam tiga tahun, laporan CPJ menunjukkan, jumlah wartawan yang terbunuh di wilayah konflik turun ke level terendah sejak 2011.

Jumlah total wartawan yang tewas dalam konflik naik dari 47 orang pada 2017, dengan sebanyak 18 orang sudah “ditandai untuk dibunuh,” kata CPJ.

“Afghanistan, dimana para ekstremis sudah sengaja meningkatkan serangan terhadap para wartawan, adalah negara paling berbahaya dan menyumbang peningkatan tertinggi,” kata laporan tersebut.

Kepala fotografer AFP di Afghanistan, Shah Marai, adalah satu di antara 25 orang yang tewas, bersama dengan delapan orang wartawan lain, dalam serangan bom pada April.

CPJ mengatakan pihaknya sedang menyelidiki pembunuhan 23 wartawan lainnya, namun sejauh ini belum memastikan bahwa kematian mereka ada hubungannya dengan pekerjaan. (Voaindonesia.com)

 

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home