Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 07:04 WIB | Sabtu, 21 Maret 2020

Yang Diutus

Kitalah siloam-siloam itu.
Diutus (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam” (Yoh. 9:7). Arti harfiah siloam adalah ”pengirim” atau ”pembawa”, tetapi penulis Injil Yohanes mengartikannya sebagai ”yang diutus”. Lalu, siapakah yang diutus?

Sebelumnya, Yesus menegaskan: ”Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang” (Yoh. 9:4). Jelas dalam kalimat ini, Yesuslah yang dimaksud dengan ”yang diutus itu”. Membasuh diri dalam kolam Siloam makna simbolisnya adalah membasuh diri di dalam diri Yesus sendiri. Yang menarik, masih dalam kalimat tadi, Sang Guru melibatkan para murid-Nya untuk mengerjakan pekerjaan Allah.

Sebenarnya itu pula yang dimaksudkan Yesus dengan pernyataan sebelumnya: ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yoh. 9:3). Dan inilah yang kurang dipahami para murid. Para murid hanya menjadikan orang buta itu bahan percakapan, namun, Sang Guru melakukan sesuatu.

Itu berarti, kita—orang percaya abad XXI—diutus bukan hanya mempercakapkan penderitaan orang lain, kesengsaraan orang lain, keburukan orang lain, bahkan kejelekan orang lain, namun mengerjakan pekerjaan Allah!

Allah adalah Allah yang bekerja. Hingga saat ini Dia tetap bekerja. Dan kita, umat-Nya, dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan-Nya. Yesus tidak hanya ngomong. Dia melakukan sesuatu. Orang buta itu pun melihat.

Menarik pula diperhatikan, orang buta itu sendiri adalah pribadi yang diutus. Pertama, dia diutus untuk pergi ke Siloam. Kedua, dia bersaksi atas pekerjaan Allah dalam dirinya. Karena kesaksiaannya itu, dia pun diusir ke luar oleh orang-orang Farisi. Dan akhirnya, dia pun sungguh-sungguh berjumpa dengan Yesus dan percaya kepada-Nya.

Nah, apakah pekerjaan Allah yang harus kita kerjakan di tengah wabah Covid-19? Pertama, jagalah kesehatan. Jika kita menahan diri untuk membatasi aktivitas kita di luar rumah, bukan karena kita takut tertular, tetapi karena kita takut menulari. Kedua, kita bisa berbagi doa, makanan, masker. Juga mendoakan para petugas kesehatan, juga pemerintah agar bijak dalam mengambil keputusan. Dan pada titik itu, kita sungguh menjadi orang-orang yang diutus Tuhan sendiri. Kitalah siloam-siloam itu!

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home