Loading...
DUNIA
Penulis: Prasasta Widiadi 11:36 WIB | Senin, 13 Juni 2016

Ahmad, Anak Suriah Ingin Seperti Ronaldo

Ahmad, Anak Suriah Ingin Seperti Ronaldo
Ahmad Alzaher berpose sebelum menjalani latihan di sekitar tempat pengungsiannya di Potsdam, Jerman. (Foto-foto: unhcr.org).
Ahmad, Anak Suriah Ingin Seperti Ronaldo

POTSDAM, SATUHARAPAN.COM – Anak berusia tujuh tahun yang ikut dengan keluarganya mengungsi dari Suriah, Ahmad Alzaher bercita-cita suatu hari ingin seperti pesepak bola yang dia idolakan yakni penyerang tim nasional Portugal, Cristiano Ronaldo.

“Pemain favorit saya adalah Cristiano Ronaldo, karena dia yang terbaik dan tercepat,” kata Ahmad dalam perbincangan santai di tempat pengungsian asal Suriah di Potsdam, Jerman seperti diceritakan di situs resmi Organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa yang membawahi pengungsi (UNHCR), hari Sabtu (11/6).

Ahmad mengidolakan penyerang Real Madrid itu karena merasa larinya cepat dan berakselerasi menguasai bola. “Saya selalu yang paling cepat di antara teman-teman saya. Saya bermimpi bisa mengoper bola ke Ronaldo,” kata Ahmad.

Ahmad berharap ada yang mengabulkan permintaannya yakni menonton Kejuaraan Piala Eropa 2016, karena dia termotivasi  menjadi pemain bola terkenal dengan melihat banyak pesepak bola kelas dunia.

Ayahnya, Mohammed Alzaher turut mendukung dan mengamini kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut anaknya itu. Mohammed selalu mendampingi di pinggir lapangan saat Ahmad bermain sepak bola dengan anak-anak pengungsi lain yang sebaya atau bahkan dengan orang yang lebih tua.

Seringkali banyak anak muda Jerman yang  penasaran dengan aksi Ahmad dan kawan-kawan di lapangan sederhana di sekitar tempat pengungsian, penonton dadakan itu juga terkesima dengan aksi yang dipertontonkan Ahmad ketika menendang bola dengan kaki kiri guna menjatuhkan beberapa botol yang telah disusun.

“Kami berdua benar-benar tertarik melihat Euro (Piala Eropa),” kata Mohammed.

“Sepertinya kami akan mendukung Jerman. Ini akan sulit di Piala Eropa, tapi kami percaya di Jerman, bahwa tim nasional bisa menang. Saya percaya pesta sepak bola ini berbicara tentang permainan dan kegembiraan tidak hanya di Eropa, namun juga keceriaan bagi seluruh umat manusia di dunia,” kata Mohammed menambahkan.

“Saya awalnya tidak terlalu percaya diri untuk mengajak keluarga mengungsi, namun semua ini karena Ahmad,” kata laki-laki berusia 39 tahun tersebut.

Mohammed menuturkan alasan lain mereka berangkat mengungsi ke Eropa karena di Suriah  tidak ada masa depan bagi keluarganya.

Mohammed percaya suatu hari Ahmad dapat mewujudkan cita-citanya menjadi olahragawan dan untuk meraih keberhasilan membutuhkan perpindahan tempat.

“Saya pikir, ia memiliki bakat alam, dan sepertinya ia membutuhkan tempat latihan yang tepat,” kata Mohammed.

Mohammed mengemukakan Ahmad sejak kecil  memiliki bakat terpendam dalam sepak bola, karena saat ada salah satu kerabatnya di Suriah  memberi hadiah sebuah bola karet, Ahmad sangat antusias memainkan bola tersebut.

“Ahmad mulai bermain sepak bola ketika ia mulai berjalan,” kata Mohammed.

“Dia tidak seperti anak-anak lain ketika datang ke lapangan sepak bola. Dia hanya ingin menendang dan mencetak gol, ia  hanya ingin bermain,” dia menambahkan.

Ketika Ahmad berusia dua tahun, Mohammed membawa Ahmad ke Kompetisi Sepak Bola liga Suriah. Ahmad di bangku penonton dengan percaya diri menirukan gerakan pesepak bola profesional yang berlaga di lapangan hijau.

“Semua orang begitu bersemangat dan terkesan dengan dia (Ahmad, red) semua orang tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lakunya,” kenang Mohammed.

Tapi saat perang mulai berkecamuk di Suriah,  Mohammed mulai kehilangan harapan bahwa situasi akan kembali menjadi normal.

“Setiap hari saya agak sedih melihat televisi apalagi bila menonton berita dari Suriah,  hati saya serasa berdarah,” kata Mohammed.

"Insya Allah, kesulitan ini akan berakhir dan Suriah akan kembali seperti dahulu. Semua warga Suriah adalah saudara dan saudari saya,” kata dia.

Pada Oktober 2015, Mohammed dan istrinya Afaf dan adik Zahra memutuskan mengungsi dengan menggunakan jalur darat melintasi Libanon dan  Turki seperti jutaan pengungsi lainnya asal Timur Tengah. Kala itu, menurut penuturan Mohammed, mereka sempat mengalami kesulitan saat melintasi Laut Aegea.

“Kami berada setengah jalan saat mesin kapal perahu mati,” kata Mohammed.

Mohammed mengaku bersalah karena melintasi Laut Tengah dengan menggunakan perahu karet dengan mesin kualitas buruk.

“Kami mencoba menyelamatkan diri tetapi perahu terlalu banyak kemasukan air. Kemudian, agak jauh di lepas pantai Yunani, kami mulai tenggelam. Untuk sementara, saya pikir kami akan meninggal dunia di laut,” kata dia menambahkan.

Mohammed mengucap syukur karena pertolongan datang saat ada kapal besar yang juga berisi  pengungsi membawa mereka sekeluarga. “Saya masih tidak percaya kami berhasil selamat, saya pikir kami tidak  akan selamat dan tidak akan melihat daratan,” kata Mohammed.

Di Yunani, Ahmad dan keluarganya mengikuti rute jalan darat bersama jutaan pengungsi lainnya melintasi beberapa negara Balkan seperti  Hongaria, Slovenia  sampai menembus Austria.

Pada awal November 2015, mereka bertemu dengan polisi saat melintasi perbatasan Jerman. Kepolisian perbatasan Jerman-Austria kemudian memindahkan mereka dengan bus menuju  tempat penampungan di Potsdam, sebuah kota yang terletak 22 kilometer dari Berlin.

“Setelah perjalanan dengan bus rasanya luar biasa saat kami tiba di sini (Potsdam, red). Saya merasa sangat lega karena rasanya saya  tidak  tidur selama 15 hari,” kata dia.

Mohammed dan keluarganya sekarang memiliki status pengungsi di Jerman. Pada bulan Januari 2016, mereka pindah ke sebuah apartemen dengan tiga kamar tidur di Potsdam.

Mohammed bersyukur Ahmad dapat bersosialisasi dan bergaul dengan baik di lingkungan barunya,  di sekolah dan bermain di tim sepak bola anak-anak.

“Kehidupan di Jerman adalah kehidupan yang  baru,” kata Mohammed. “Anda harus terbiasa dengan itu dan Anda perlu untuk membangun kembali kehidupan Anda,” kata dia menambahkan.

Mohammed mengakui dia kalah cepat dalam beradaptasi dan bersosialisasi daripada Ahmad karena Ahmad saat bergaul dengan teman-teman di sekolahnya berbicara dalam bahasa Jerman, sementara saat di rumah Ahmad lancar berbahasa Arab. “Saya adalah orang dewasa yang lambat belajar,” kata Mohammed sambil tertawa.

Ahmad menuturkan di sekolah dia bergembira karena bahasa Jerman dipelajari dengan cara yang menyenangkan. “Sangat mudah dan menyenangkan untuk belajar bahasa Jerman karena di sekolah saya belajar dan banyak menghafal kosa kata dengan bantuan gambar dan sedikit tulisan,” kata Ahmad.

Ahmad sama sekali tidak  terpengaruh dengan anggapan diskriminasi bahwa di sekolahnya tidak ada anak-anak asal Suriah, namun Ahmad sontak menjadi terkenal karena memiliki keterampilan sepak bola yang membuatnya populer.

“Semua anak-anak di kelas saya adalah teman-teman saya,” kata dia.  (unhcr.org).

 

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home