Loading...
INDONESIA
Penulis: Eben E. Siadari 13:22 WIB | Selasa, 13 Desember 2016

Air Mata Ahok Menjadi Sorotan Media Asing

Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, menangis saat membaca nota keberatan dalam sidang dakwaan penistaan agama yang ditujukan kepada dirinya hari ini (13/12), di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Tangisan itu telah menarik perhatian media, termasuk asing.

Reuters mengungkapkan kisah Ahok menangis itu pada kalimat pertama laporannya.

"Gubernur Jakarta dengan berurai air mata membantah pada hari Selasa, ia telah dengan sengaja menista Alquran pada sidang permulaan kasus penistaan agama di ibukota Indonesia, yang dipandang sebagai ujian bagi kebebasan beragama di tengah bangsa berpenduduk mayoritas Islam itu," demikian Reuters melaporkan.

Dalam sidang yang berlangsung dengan pengawalan ketat, diwarnai oleh unjuk rasa di luar ruang sidang, Ahok memang tampak berusaha menahan keharuan ketika membacakan nota keberatannya, terutama ketika ia bercerita tentang ayah angkatnya yang Muslim.

"Saya sangat sedih, saya dituduh menista agama Islam, karena tuduhan itu, sama saja dengan mengatakan saya menista orang tua angkat dan saudara-saudara angkat saya sendiri, yang sangat saya sayangi, dan juga sangat sayang kepada saya," kata Ahok, membacakan nota keberatannya, seraya sesekali seperti terisak.

Menurutnya, dalam kehidupan pribadinya ia banyak berinteraksi dengan teman-temannya yang beragama Islam. Di antaranya dengan keluarga angkatnya, Almarhum Haji Andi Baso Amier, yang merupakan keluarga Muslim yang taat.
 
Ahok bercerita, ia banyak belajar dari keluarga angkatnya itu, selain juga belajar dari guru-gurunya, yang taat beragama Islam dari kelas 1 SD Negeri, sampai dengan kelas 3 SMP Negeri.

"Sejak kecil sampai saat sekarang, saya tahu harus menghormati Ayat-Ayat suci Alquran. Jadi saya tidak habis pikir, mengapa saya bisa dituduh sebagai penista Agama Islam," kata dia.
 
"Saya lahir dari pasangan keluarga non-muslim, Bapak Indra Tjahaja Purnama dan Ibu Buniarti Ningsih (Tjoeng Kim Nam dan Bun Nen Caw), tetapi saya juga diangkat sebagai anak, oleh keluarga Islam asal Bugis, bernama Bapak Haji Andi Baso Amier , dan Ibu Hajjah Misribu binti Acca."

Lanjut dia, "Ayah angkat saya, Andi Baso Amier adalah mantan Bupati Bone, tahun 1967 sampai tahun 1970, beliau adik kandung mantan Panglima ABRI, Almarhum Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Jusuf."
 
"Ayah saya dengan ayah angkat saya, bersumpah untuk menjadi saudara sampai akhir hayatnya. Kecintaan kedua orangtua angkat saya kepada saya, sangat berbekas, pada diri saya, sampai dengan hari ini."
 
"Bahkan uang pertama masuk kuliah S2 saya di Prasetya Mulya, dibayar oleh kakak angkat saya, Haji Analta Amir," kata Ahok.
 
Ahok mengatakan ia akan seperti orang yang tidak tahu berterima kasih, apabila ia tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua dan kakak angkatnya yang Islamnya sangat taat.
 
Ketika Ibu angkatnya meninggal, kata Ahok, seperti anak kandung ikut mengantar dan mengangkat keranda beliau, dari ambulans sampai ke pinggir liang lahat, tempat peristirahatan terakhirnya, di Taman Pemakaman umum Karet Bivak.
 
"Sampai sekarang, saya rutin berziarah ke makam Ibu angkat, di Karet Bivak. Bahkan saya tidak mengenakan sepatu atau sendal saat berziarah, untuk menghargai keyakinan dan tradisi orang tua dan saudara angkat saya itu," tutur dia.
 
"Saya juga selalu mengingat almarhumah Ibu angkat saya, adalah peristiwa, pada saat saya maju, sebagai calon wakil Gubernur  DKI Jakarta tahun 2012. Pada hari pencoblosan, walaupun Ibu angkat saya, sedang sakit berat dalam perjalanan ke rumah sakit, dengan menggunakan mobil kakak angkat saya Haji Analta, ibu angkat saya, sengaja, meminta mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih saya. Padahal kondisinya sudah begitu kritis."
 
Ahok bercerita, setelah dirawat selama 6 (enam) hari, ibu angkatnya berdoa dan berkata kepada Ahok, "Saya tidak rela mati, sebelum kamu menjadi gubernur. Anakku jadilah gubernur yang melayani rakyat kecil."

Ibu angkat Ahok berpulang tanggal 16 Oktober 2014, setelah ada kepastian Jokowi menjadi Presiden, dan Ahok dipastikan menjadi Gubernur.

Di bagian akhir laporannya, Reuters menggambarkan Ahok sebagai " seorang gubernur etnis Tionghoa pertama di Jakarta, yang memenangkan pujian karena mendobrak birokrasi kota yang lamban untuk mengambil langkah-langkah mengatasi kemacetan lalu-lintas yang sangat terkenal. Tetapi bahasanya yang kasar dan desakannya untuk membersihkan daerah kumoh telah membuat sebagian pemilih merasa tersingkirkan."


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home