Loading...
INSPIRASI
Penulis: Juppa Haloho 01:00 WIB | Minggu, 12 April 2015

Aku Heran

Semua itu karena kasih-Nya.
Kasih-Nya (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Aku heran. Aku selalu heran dibuat-Nya. Ia adalah Kepenuhan Allah. Tetapi, Ia memilih datang ke dalam dunia, menjadi sama seperti manusia ciptaan-Nya. Ia berinkarnasi—Allah berdiam di antara manusia.

Aku heran. Aku selalu heran dibuat-Nya. Ia memilih orang-orang terpinggirkan menjadi pengikut-Nya. Ia memilih nelayan. Ia memilih pemungut cukai—yang dibenci seluruh orang Yahudi, bangsa-Nya. Ia memilih zelot, yang selalu ingin menumbangkan imperium Roma atas Yahudi. Bahkan, Ia memilih orang yang akan menjualnya untuk menjadi murid.

Aku heran. Aku selalu heran. Tak cukup bagi-Nya untuk berkata, ”Anak Manusia datang untuk melayani, bukan dilayani.” Malam itu Ia melilitkan kain dipinggang-Nya, mengambil sebuah baskom berisi air, lalu membasuh kaki para murid. Ia berkata, ”Aku yang adalah Guru dan Tuhan melakukan tugas hamba, kamu pun harus melakukannya.” Demikianlah, Ia mengajarkan kepemimpinan yang melayani.

Aku heran. Aku selalu heran. Ia sanggup menghabiskan malam itu dengan para murid yang akan menjual-Nya, mengkhianati-Nya, bahkan yang akan berkata: ”Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Aku heran. Aku selalu heran. Pada awal pelayanan-Nya, Iblis berjanji memberikan kepada-Nya seluruh dunia asal Dia menyembah Iblis. Ia menepis godaan itu sekalipun tahu harus melalui jalan penderitaan untuk merengkuh semua dunia kembali kepada-Nya. Ketika meminta kepada Bapa-Nya untuk menjauhkan penderitaan itu, Ia melanjutkan dengan, ”Tetapi, Kehendak-Mulah yang jadi, bukan kehendak-Ku.” Ia tahu... itu berarti mati.

Aku heran. Aku selalu heran. Dia tidak membela diri-Nya di hadapan Pilatus—seorang yang dapat melepaskan-Nya. Ia rela dianggap lebih rendah dari Barabas—pembunuh dan pemberontak. Ia tidak melepaskan diri dari atas Salib ketika penjahat disebelah-Nya mencemoooh: ”Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

Aku heran. Aku selalu heran. Ia menjalani semua itu demi dunia milik-Nya. Ya, semua itu karena kasih-Nya! Dan itulah yang membuatku semakin heran.

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home