Loading...
EKONOMI
Penulis: Prasasta Widiadi 05:46 WIB | Rabu, 07 Januari 2015

Aprobindo Harap Pemerintah Lirik Perkembangan Biofuel di Indonesia

Master Parulian Tumanggor, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia. (kemeja putih). (Foto: Prasasta Widiadi)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Master Parulian Tumanggor,  Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mengemukakan pemerintah harus dapat memberi perhatian kepada perkembangan bahan bakar nabati (biofuel) di Indonesia, karena saat ini ada hambatan yang dijumpai.

“Saat ini kami menghadapi dua hambatan dalam mengembangkan biofuel di Indonesia,” kata M.P Tumanggor pada acara Pemaparan Prospek Investasi Sektor Pertanian, Perkebunan, Dan Hortikultura Indonesia Pada 2015, di Gedung Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Selasa (6/1).

“Hambatan yang pertama di dalam negeri adalah harga pokok produksi ditentukan ESDM (Kementerian Energi Sumber Daya Mineral),” kata Tumanggor.

“Saat ini para produsen setidaknya mengalami kerugian 6 hingga 7 miliar rupiah per hari karena harga yang tidak dapat bersaing, untuk itu kami berharap pemerintah dapat memberi harga yang pasti dan kepastian indeks harga tersebut tidak berubah,” Tumanggor menambahkan.

Apabila tidak ada perhatian dari Kementerian ESDM, maka nantinya investor dalam negeri yang tertarik di bidang bahan bakar nabati ini akan mengalami kesulitan berinvestasi. Tumanggor menyebut hambatan lainnya adalah adanya hambatan ekspor di Eropa.

“Hambatan yang dikeluhkan para investor kami adalah dari Eropa menerapkan politik dumping, dan kami takutkan adalah ada perusahaan eksportir biofuel kami yang kena penalty sampai 22 persen,” Tumanggor menambahkan.   

Dalam rincian angka Tumanggor membeberkan data bahwa pada 2015 akan ada pertambahan kapasitas dari biofuel di Indonesia sebesar 2 juta ton kapasitas produksi.

“Untuk jumlah yang telah kami produksi pada 2014 masih kurang, sama juga dengan yang akan kami perkirakan untuk 2015 yang kami perkirakan hanya akan mencapai angka 6 juta ton dan itu masih kurang, padahal yang kami butuhkan untuk minimal kebutuhan nasional adalah 7 juta ton dan ini kami masih kurang investasi di bidang biofuel,” Tumanggor mengakhiri penjelasannya.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home